Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 6 tidak ingin di ketahui


__ADS_3

Di rumah resti.


Pagi pagi resti sudah bolak balik kamar mandi ibunya yang melihat resti seperti itu mengira resti sedang diare.


"Kamu kenapa sih res, dari tadi keluar masuk kamar mandi terus? Tanya ibunya


" Sudah beberapa hari perut resti mules bu, tapi gak bisa bab" Keluhnya


"Oalah sembelit toh" Kata ibunya sambil tersenyum


"Ibukan sudah sering bilangin, banyakin minum air putih sama makan buah- buahan"


"Kamunya aja gak pernah nurut" Omel ibunya resti.


Resti yang dapat omelan pagi- pagi hanya duduk diam tidak berani menyahut.


"Nih makan ini siapa tahu lancar" Kata ibunya sambil memberikan sepiring buah pepaya yang sudah di potong potong


"Ihh, resti gak suka bu.." Ujar resti mendorong buah tersebut sambil menutup hidungnya, perutnya langsung mual saat mencium buah pepaya tadi.


"Kamu apa apan sih res, ini tuh bagus buat bab kamu.." Ibunya resti malah tambah sewot di buatnya.


"Gak mau bu, nanti resti beli obat aja sekalian berangkat kerja" Teriaknya dari kamar mandi.


"Ya sudahlah terserah kamu saja" Ujar ibunya meninggalkan resti.


Resti memeriksa kalender diatas meja riasnya.


"Seharusnya aku sudah haid, kenapa ini belum juga" Keluh resti


"Mungkin karena terlambat makanya akhir akhir ini perutku sering kram dan sembelit" Ujarnya sambil bicara sendiri


Dengan polosnya resti mengira keterlambatan bulanannya itu adalah hal yang biasa. Ia tidak berpikiran jauh apa lagi sampai mikirkan akibat kejadian hari itu.


******


Di kantor


Resti merasa badannya sangat lelah padahal tidak sedang bekerja berat. Moodnya hari ini juga sedikit berlebihan gampang emosi dan susah di tebak.


Saat teman di sebelahnya sedang makan mie resti malah marah marah tidak jelas dan menyuruh temannya itu makan di tempat lain.


"Hari ini kenapa sih, lagi pms ya?" Tanya rey


"tidak tahu kenapa, hari ini bawaannya mau emosi terus" Keluh resti.


"Kalau lagi badmood itu paling bagus makan yang manis manis biar moodnya segar lagi" Saran rey.


"Hahhhh..." Resti hanya melengos dan mendelik.


"Bener- bener nih anak..." Ujar rey sambil menoel pipi resti.


Sepulang kerja resti melihat apotik di sebrang jalan, ia teringat sudah sembelit beberapa hari ini dan berniat untuk membeli obat pencahar,


Saat di dalam apotik matanya malah tertuju pada poster yang berisikan tentang tanda awal kehamilan.

__ADS_1


"kenapa gejalanya sama dengan yang aku alami ya?" tanya resti dalam hati


"Tidak mungkin kalau aku hamil" ujarnya lagi


Meski tidak mempercayainya resti akhirnya membeli alat tes kehamilan juga.


"Ini hanya untuk memastikan, meskipun aku yakin kalau aku tidak mungkin hamil" Ujarnya membatin.


Sesampainya di rumah resti merebahkan dirinya di kasur meski matanya terpejam namun pikirannya di penuhi oleh kata kata hamil dan isi poster di apotik yang ia lihat sepulang kerja tadi.


Dengan memberanikan diri akhirnya resti mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tasnya, dan bergegas ke kamar mandi.


Dengan mata terpejam resti selalu bedoa agar pikirannya benar kalau dirinya tidak hamil.


"Semoga tidak hamil" Ucapnya dalam hati


"Jangan hamil..."


"Jangan.... Jangan"


"Aku mohon jangan..."


Perlahan resti membuka matanya untuk memeriksa hasil tesnya.



badan resti langsung lemas, tangannya menutup erat mulutnya yang hampir saja menjerit karena tidak percaya akan apa yang baru saja ia lihat.


"tidak mungkin..." gumamnya


"orang lain saja sangat sulit untuk hamil"


"alat ini pasti rusak..."


"benar, pasti alatnya yang rusak"


"tidak mungkin secepat itu bisa hamil"


resti terus mengoceh sendiri, ia benar- benar tidak mau menerima kenyataan begitu saja.


malam itu resti tidak bisa tidur, pikirannya sangat kacau ia benar benar tidak mau memiliki anak dari orang yang tidak ia cintai apa lagi ini anak dari hasil perbuatan orang jahat itu.


"ya tuhan...."


"apa yang harus aku lakukan!?"


"aku tidak mungkin membesarkan anak ini tanpa seorang ayah"


"bagaimana dengan orang tuaku"


"aku pasti akan menjadi bahan omongan para tetangga"


resti terus memutar otak untuk mencari jalan keluar, satu satunya cara yang terlintas di otaknya adalah dengan menggugurkannya.


namun resti tidak mau pergi kerumah sakit, ia takut orang orang akan segera mengetahuinya kalau ia sedang hamil.

__ADS_1


waktu terus berjalan, resti pun belum menceritakan masalahnya pada rey. sebisa mungkin ia menutup rapat mulutnya dari orang- orang terdekatnya.


resti sengaja bekerja sangat keras tentu saja dengan niatan agar kandungannya tidak bisa bertahan sehingga tanpa sengaja dia akan mengalami keguguran.


takdir berkata lain, bayi yang ada di kandungan resti malah tampak sehat resti pun tidak mengalami mual selayaknya orang hamil.


------


siang itu matahari sangat panas resti yang tengah berjalan merasa sangat kelelahan dan dalam sekejap pandangannya menjadi gelap.


bruk


tubuh resti terkulai lemas di jalanan, orang orang yang melihat segera memberikan bantuan, mereka menghubungi ambulan dan membawa resti ke rumah sakit.


rey yang mendapat telpon dari rumah sakit segera berlari menuju rumah sakit tempat resti di rawat.


"apakah anda keluarga pasien" tanya dokter kepada rey


"iya, saya keluarganya" jawab rey tanpa ragu, karena rey memang sudah menganggap resti seperti saudaranya sendiri.


"anda bagaimana sih, sebagai keluarga malah membiarkan pasien yang tengah hamil muda bekerja panas panasan" ujar perawat itu memarahi rey.


rey yang mendengar kata kata dokter tadi hampir tidak percaya, selama ini resti tidak pernah mengatakan apapun tentang kehamilannya.


"a...apa?"


"hamil...?" tanya rey tidak percaya.


"dok... dokter tidak salah?" tanya rey ingin memastikanya.


"tidak mungkin salah, ini laporannya" jawab dokter itu sambil menunjukan hasil laporan pemeriksaan pasien.


"saat ini pasien tengah hamil kurang lebih delapan minggu" jelas dokter itu lagi.


rey benar benar tidak percaya apa yang baru saja ia dengar, bagaimana bisa resti menyembunyikan hal sebesar ini pada dirinya.


"la... lalu bagaimana keadaannya dok?" tanya resti sambil terbata.


"untunglah tidak terjadi apa-apa pada pasien, bayi dan kandungannya juga baik-baik saja" jawab dokter.


"sukurlah" ucap rey.


"boleh saya melihatnya dok?" tanya rey meminta ijin.


"boleh, silahkan"


"setelah infusnya habis pasien sudah boleh pulang" jawab dokter


"terima kasih dok" ujar rey.


rey melangkah masuk ke kamar tempat resti di rawat, di pandanginya wajah resti yang tengah tertidur. dengan penuh rasa kasihan rey membelai kepala resti. ia tidak menyangka begitu besar masalah yang di hadapi sahabatnya ini sendirian.


rey menyalahkan dirinya yang begitu tidak peka dengan kondisi sahabatnya sendiri. selama ini ia mengira resti baik-baik saja karena tidak pernah mengeluh.


air mata rey menetes membayangkan resti yang berjuang seorang diri, ia pun sangat yakin kalau orang tuanya resti tidak mungkin mengetahui tentang ke hamilan resti saat ini.

__ADS_1


semakin membayangkan semakin ingin tahu rey siapa ba****** yang melakukan hal jahat ini kepada resti, siapa orang yang membuat resti sama sekali tidak ingin kehamilannya di ketahui oleh orang lain bahkan menyembunyikannya dari orang tua dan sahabatnya sendiri.


__ADS_2