Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 17 mulai melupakan


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu chen berusaha melupakan resti dan mencoba untuk menerima kehadiran putri sebagai wanita yang telah ia nikahi.


Namun meski demikian sikap chen malah semakin dingin, ia bahkan jarang pulang kerumah yang di tempati oleh putri dengan alasan pekerjaan, ia sering menyibukkan dirinya di kantor dan sering bolak balik ke luar negeri untuk urusan bisnis.


*******


Rey


Rey sedang berjalan sambil menggandeng tangan lisa, mereka tengah menuju sebuah toko buku terbesar di kota itu, karena rey telah berjanji akan membelikan lisa buku yang ia inginkan.


Mereka memang hanya pergi berdua saja karena resti tengah sibuk mengurus toko rotinya.


Sudah beberapa hari ini lisa selalu merengek ingin pergi ke toko buku terbesar itu ia sangat ingin tahu tentang toko buku yang memiliki peralatan modern dan juga di lengkapi dengan bioskop, ruang sains, ruang kelas dan restoran.


Setibanya di toko tersebut lisa langsung berlari mencari cari buku kesukaannya, matanya fokus melihat lihat di setiap rak buku, hingga ia tidak sengaja terjatuh karena menabrak seseorang yang berdiri di depan rak buku di sampingnya.


Orang yang lisa tabrak pun menoleh ke arah lisa dan membantunya berdiri.


"Gadis kecil, kau tidak apa apa?"


"Tidak apa apa, terima kasih paman"


"Di mana orang tuamu?"


"Ibuku sedang sibuk di toko"


"Jadi, kau kesini bersama siapa?"


"Bersama tante rey" Lisa menjawab orang itu dengan polos.


"Rey??" Gumam orang itu


"Kenapa kedengarannya sangat tidak asing?" Batinnya lagi


"Lalu, dimana tante mu itu?"


Lisa menoleh kesekitar mencari sosok yang menemaninya ketoko itu.


"Itu tante rey.." Tunjuk lisa


Orang itupun mengikuti arah yang di tunjuk lisa.


"Rey..." Gumamnya sedikit kaget


"Tante..." Seru lisa sambil berlari menghampiri rey, orang itu pun mengikuti lisa dari belakang.


"Lisa, kau sudah mendapatkan buku yang jau inginkan?" Tanya rey sambil berjongkok


"Belum, tante..."


"Oh, baiklah ayo kita cari sama sama" Ajak rey.


"Halo rey.." Sapa orang yang mengikuti lisa tadi.


Rey mendongakkan kepalanya dan menatap orang yang telah berdiri di depannya


"Sam..." Gumamnya


"Apa ini benar benar dirimu?" Tanya rey tidak percaya.


"Kenapa?" Sam malah balik bertanya


"Apa aku tidak boleh datang ke tempat ini?" Lanjut sam


"Apa kau ke sini untuk berkencan?" Selidik resti.


"Hehey, apa kau pikir aku sangat kekurangan uang hingga melakukan kencan di sini? Ujar sam dengan gaya tengilnya.


" Entahlah, mungkin saja kau sekarang telah mengganti gaya kencanmu" Ledek rey

__ADS_1


"Oiya, siapa gadis kecil ini?" Ujar sam mengalihkan pandangannya.


"Kenapa kau ingin tahu?" Selidik rey


"Bukan apa apa hanya ingin tahu saja"


"Anak temanku.." Sahut rey ketus


"Temanmu yang mana!?"


"Seingatku temanmu hanya putri dan resti" Sahut sam mulai menaruh curiga.


"Aah, apa gadis kecil ini anaknya resti?" Tanya sam dengan antusias.


"Iya kan, apa resti telah menikah kenapa dia tidak mengundangku?"


"Ya ampun, kalian keterlaluan..." Sam terus mengoceh hingga membuat rey kesal.


"Kenapa kau sangat cerewet sekarang?"


"Sejak kapan kau begitu pintar jadi kang gosip?"


"Apa jangan jangan sekarang kau menjadi asistennya mbah lambe turah?" Balas resti dengan penuh emosi.


"Hehey, bukan begitu.." Elak sam


"Aku hanya penasaran saja, lagi pula sudah lama aku tidak mendengar kabarnya"


"Simpan rasa penasaranmu itu.." Jawab rey sambil berlalu meninggalkan sam yang tengah menggaruk garuk kepalanya yang berketombe.


"Rey..." Panggil sam


"Tunggu." Sam berusaha mengejar rey namun rey sama sekali tidak menghiraukannya, meski demikian sam tetap mengekori kemana pun rey dan lisa pergi.


"Kenapa kau selalu mengikuti kami?" Rey benar benar kesal di buat sam


"Ayolah rey..." Rengek sam


"Tidak perlu, lagi pula kami sudah harus pulang" Tolak rey dengan ketus sambil menggandeng tangan lisa pergi meninggalkan sam.


**********


Di kantor chen


Kantor yang cukup besar mewah dan elegan di dominasi warna coklat dan krem terasa cukup hangat namun tidak dengan pemiliknya.


Seorang wanita memberikan panggilan kepada pemilik ruangan tersebut...


"Pak, teman anda yang bernama sam ada di luar" Lapor seketaris


"Suruh dia masuk"


Seketaris itu pun membukakan pintu untuk sam dan mempersilakannya masuk.


"Terima kasih cantik" Goda sam pada seketaris tersebut.


"Ada apa kau ke kantorku?" Sambut chen tanpa beranjak dari tempat duduknya.


"Aku hanya merindukanmu" Sahut sam terkekeh, ia pun langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Kenapa kau begitu sibuk akhir akhir ini?" Tanya sam serius


"Aku memang selalu sibuk, tidak seperti dirimu"


"Hei, sudah lama kita tidak bersenang senang, bagaimana kalau malam ini kita sedikit bersantai!?" Tawar sam dengan senyum devilnya


"Aku terlalu malas untuk pergi"


"Ayolah kawan, kau akan cepat tua kalau terlalu sibuk dengan pekerjaan" Bujuk sam

__ADS_1


"Heh, itu cuma alasamu saja, dasar pemalas" Timpuk chen dengan bantal


"Lagian sampai kapan kau akan terus begini?"


"Apa kau belum ada rencana sama sekali untuk memiliki istri?"


"Hah... Hidup cuma sekali, buat apa terburu buru punya istri!?" Jawab sam dengan santai


"Kau sendiri sudah punya istri tapi masih sibuk mengurus pekerjaan, aku tidak mau seperti dirimu" Sindir sam


"Memangnya aku kenapa?" Tanya chen


"Kau lebih mementingkan pekerjaan dari pada istrimu, apa istrimu cuma di jadikan pajangan saja"


Chen menghela napas dengan kasar, ia tidak membantah sedikit pun yang di katakan oleh sam.


"Eh aku punya kabar tentang resti, apa kau ingin mendengarnya?" Pencing sam sambil merubah posisi duduknya dan bersikap serius


"Apa kau tahu resti telah menikah?"


"Eum.." Sahut chen


"Kau sudah tahu?" Tanya sam kaget


"Bro, kenapa kau tidak bilang, apakah itu sebabnya kau sengaja menyibukkan dirimu dengan pekerjaan?"


"Bukan seperti itu..." Elak chen


"Mungkin memang sudah saatnya aku melupakan resti" Lanjut chen


"Apa kau yakin?" Sam masih tidak percaya


"Aku akan mencobanya"


"Tapi bro, ada sesuatu yang menjadi perhatianku tentang resti"


"Apa maksudmu?" Chen mengernyitkan dahinya


"Kemarin aku tidak sengaja bertemu rey dengan seorang anak kecil"


"Rey siapa?" Tanya chen penasaran


"Rey... Teman sekolah resti, apa kau sudah lupa?"


Chen mencoba mengingat ingat sosok yang di bicarakan oleh sam.


"Lalu..."


"Kau tahu, ternyata anak itu adalah anak perempuannya resti" Sam semakin bersemangat


"Aku tahu..." Sahut chen lagi lagi dengan sikap santai


"Kau juga tahu resti telah punya anak" Sam kembali merasa terhianati


"Aku juga bahkan tahu siapa suaminya" Jawab chen meyakinkan.


"Astaga.... Ternyata hanya aku yang belum tahu!?" Sam mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sudahlah, sebaiknya mulai sekarang berhenti kau menyebut nama resti di depanku" Pinta chen


"Baiklah bro, sepertinya resti memang bukan di takdirkan untukmu" Hibur sam


"Aku harap kau akan menemukan kebahagianmu" Sam berdiri sambil menepuk bahu chen.


"Aku pergi dulu, bro jangan terlalu bersedih.." Pesan sam


Sebelum mencapai pintu sam berbalik menoleh chen yang masih belum beranjak dari tempat duduknya dan berkata..


"Ah... Apa kau tahu bro, kalau matamu sangat mirip dengan mata anak perempuan resti, sampai aku sempat mengira dia adalah anak kalian"

__ADS_1


Setelah mengatakan kalimat itu sam keluar dari ruangan itu meninggalkan chen yang tengah terperanjat oleh kata kata yang di tinggalkannya.


---to be continued


__ADS_2