
Resti nampak gugup, ia mengepalkan erat tangannya, tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai mengucur di dahi dan pelipisnya.
napasnya menjadi tidak beraturan, perasaan takut dan trauma pada sosok orang itu seketika menyergap pada dirinya.
Nathan meraih tangan resti, ia tidak tahu apa yang tengah terjadi pada resti, kenapa tiba-tiba resti menjadi sangat pucat dan berkeringat dingin.
"ada apa?" tanya nathan dengan suara lembut
resti hanya menggeleng, ia tidak mampu berkata-kata dan matanya pun nampak berkaca-kaca, hal itu makain membuat nathan menjadi semakin khawatir.
"apa kau sakit?" suara nathan terdengar sangat cemas dan nampak kepanikan menyelimuti wajah tampannya.
"kita pergi ke rumah sakit, ya!" ajak nathan
Resti menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, ia mencoba menenangkan diri dan perasaannya.
"tidak usah, aku baik-baik saja" ujarnya dengan suara sedikit bergetar.
Namun nathan masih tidak percaya ia tetap bersikeras ingin membawa resti ke rumah sakit.
"tidak apa-apa" ujar resti meyakinkan nathan
"aku... aku hanya takut ketinggian" lanjutnya lagi dengan berbohong.
"benar kau tidak apa-apa?" tanya nathan masih tidak percaya
Resti mengangguk memberikan isyarat mata yang mengatakan dia baik-baik saja.
Nathan membelai rambut resti dan merangkulnya, ada sedikit perasaan lega terbersit di wajahnya setelah mendengar jawaban dari mulut resti.
Ting---
pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. restoran hotel itu memang berada di lantai atas selain pemandangannya yang bagus di sana juga disediakan arena bermain anak.
"nat, kamu sama lisa duluan saja aku mau ke kamar mandi sebantar" ujar resti saat keluar dari lift.
"oke, kalau begitu kami tunggu di sana" sahut nathan
"res..." panggil nathan
"kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" pesan nathan masih dengan perasaan khawatir.
resti mengangguk dan melambaikan tangannya meminta nathan dan lisa segera pergi.
Resti berlari menuju kamar mandi wanita, untunglah saat itu di ruangan itu tidak ada orang lain, resti terduduk lemas di kloset kamar mandi ia masih tidak menyangka akan melihat orang itu hari ini. meskipun ia tahu kalau hotel ini adalah milik keluarganya namun ia masih tidak bisa mempercayainya.
setelah beberapa saat resti mulai merasa sedikit tenang ia pun keluar dan merapikan riasannya yang sedikit luntur.
.
.
.
********
__ADS_1
Direstoran
Nampak nathan tengah asik bermain dengan lisa, sesekali lisa melemparkan bola yang ada di tangannya untuk di tangkap oleh nathan
siapapun yang melihat mereka pasti akan mengira mereka adalah ayah dan anak perempuannya yang tengah bermain.
"Wah tidak di sangka ternyata tuan nathan sudah memiliki seorang putri yang cantik" Terndengar sebuah suara dari belakang yang mendekat ke arah nathan.
"Ah ternyata anda tuan chen..." Sahut nathan setelah melihat kearah datangnya suara tersebut.
"Putri anda sangat cantik..." Puji chen
"Terima kasih.." Balas nathan
"Apa tuan chen juga akan makan di sini?" Tanya nathan balik.
"Tidak, hanya kebetulan ada seseorang yg ingin saya temui" Jawab chen dengan senyum ramah.
"Baiklah aku harus pergi sekarang, maaf telah mengganggu waktu anda bersama putri anda" Lanjut chen setelah melihat jam tangannya.
"Ah tidak apa-apa, kami hanya bermain sambil menunggu ibunya kembali dari kamar mandi" Ujar nathan sambil membelai rambut lisa.
"Kalau begitu saya permisi tuan nathan" Pamit chen.
"Baiklah tuan chen, selamat jalan" ujar nathan mempersilakan.
Chen dan asistennya pun melangkah pergi tanpa melihat resti yang baru saja datang dari arah belakang.
"maaf membuat kalian menunggu" ujar resti setelah tiba di hadapan nathan
"apa kau sudah lapar, bagaimana kalau kita pesan makanan sekarang?" usul nathan
"baiklah, biar mama yang pesankan buat lisa" ujar resti sambil melihat lihat isi daftar menu makanan yang ada di restoran itu.
"mama..." panggil lisa
"lisa mau es krim.." ujar lisa dengan suara merengek.
"tidak boleh" sahut resti dengan tegas.
seketika bibir mungilnya langsung di monyongkannya dengan mata menunduk menahan kesal karena tidak di bolehkan.
Nathan mengangkat dan memangku lisa lalu kemudian membisikan sesuatu ketelinga anak angkatnya itu, wajah lisa yang tadinya manyun kembali tersenyum gembira.
"janji ya pa..." ujar lisa sambil mengacungkan jari kelilingkingnya yang kecil.
"eum, papa janji..." sahut nathan seraya mengaitkan kelingkingnya pada kelingking lisa.
Mata resti melotot gemas menatap tingkah kedua orang yang berada di hadapannya ia jadi penasaran apa yang di bisikan nathan pada lisa hingga membuat lisa begitu senang.
Nathan membalasnya dengan mendelikkan matanya di ikuti oleh lisa yang menjulurkan lidahnya membuat resti makin gemas.
hahahaha~~~~
lisa dan papa nathan kompak tertawa bersama menertawakan resti yang cemberut.
__ADS_1
tap tap tap
beberapa orang laki-laki mendekat ke arah meja nathan dan resti, salah satu dari mereka adalah seorang pria paruh baya yang merupan atasan dari beberapa orang tersebut.
"nona resti...!?" orang itu menyapa resti dengan ramah.
resti mendongak melihat ke arah suara yang memanggil namanya, di hadapannya berdiri seorang yang berpenampilan sangat rapi mengenakan jas mahal tengah tersenyum ramah kepadanya.
"pak tian..." seru resti tidak percaya orang yang menegurnya barusan adalah pak tian yang ia temui saat berolah raga di taman hari itu.
"apa kabar pak?" sapa resti sambil mengulurkan tangan
"silakan duduk pak" lanjutnya.
"tidak usah, saya hanya kebetulan lewat dan melihat nona resti tengah makan bersama keluarga" ujar pak tian menolak tawaran resti.
"oh, siapa putri kecil ini?" tanya pak tian saat matanya tertuju ke arah lisa.
pak tian memperhatikan lisa dengan seksama, ia merasakan perasaan yang tidak asing terhadap anak itu, sepertinya ia pernah melihat anak itu namun pak tian lupa kapan dan dimana.
"pak, bukankah itu anak kecil yang bapak tolong saat di bandara!?" bisik asisten pak tian.
"benarkah?" tanya pak tian serasa tidak percaya.
"oh, kenalkan ini putri saya namanya lisa, dan ini nathan" ujar resti memperkenalkan mereka.
"halo tuan tian.." nathan berdiri dari tempat duduknya.
"ah ternyata tuan nathan, maafkan saya.." ujar pak tian setelah menoleh kearah nathan.
"kalian saling kenal?" tanya resti penasaran.
"kami baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan tuan nathan" ujar pak tian menjelaskan.
"saya tidak menyangka ternyata nona resti adalah istri dari tuan nathan.." lanjutnya dengan tersenyum
"bukan, saya dan nathan..." resti mencoba mengatakan kalau dia dan nathan hanya berteman, namun nathan langsung memotong perkataan resti.
"saya sangat senang bisa bekerjasama dengan anda" ujar nathan
"kapan-kapan mari kita makan bersama untuk merayakannya" lanjutnya lagi.
"baiklah saya akan meluangkan waktu untuk kalian" jawab pak tian.
"maafkan saya telah mengganggu waktu kalian.."
"kebetulan saya masih ada urusan jadi saya harus pergi" ujar pak tian pamit.
"sampai jumpa gadis kecil.." lanjutnya sambil mengusap wajah lisa.
ada perasaan yang tidak bisa di ungkapkan setiap kali pak tian bertemu lisa apalagi saat ia menyentuh pipi mungil gadis kecil itu, perasaan ingin menggendong dan mencium gadis kecil itu semakin kuat.
"apakah aku sudah tidak waras, ingin melakukan hal itu pada anak kecil atau mungkin karena aku sangat tidak sabar ingin memiliki cucu sendiri" ujar pak tian membatin.
---to be continued.
__ADS_1