Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 5 Pertemuan yang tidak disengaja


__ADS_3

Malam sudah mulai kian larut, tapi resti belum juga bangun. Rey yang nampak cemas mondar mandir di depan pintu kamarnya. Sesekali rey menempelkan telinganya di pintu tapi tidak ada suara resti yang terdengar.


Dengan rasa cemas dia mengetuk pintu dan memanggil manggil resti. Namun tak ada jawan dari dalam kamar.


Rey makin cemas dengan terpaksa dia masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan resti.


Di kamar resti nampak masih sedang tertidur badannya tertutup selimut dengan rapat, resti menggigil seperti orang yang sedang kedinginan badannya basah dengan keringat dingin.


Rey mendekat dan memeriksa keadaan sahabatnya itu tangannya menyentuh dahi resti


" Ya tuhan res, badanmu panas sekali" Ujar rey panik.


"Ayo ku antar ke dokter" Ajak rey


Resti menarik tangan sahabatnya itu dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah rey.." Ujarnya dengan suara lemah


"Tapi kau sedang demam, badanmu sangat panas" Rey mencoba membujuk resti agar bersedia di bawa ke dokter.


"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh" Resti tetap bersikeras tidak mau di bawa ke dokter.


"Kalau kenapa napa, nanti bagaimana aku menjelaskannya dengan orang tuamu"


"Ayolah res, kita pergi kedokter ya.." Bujuk rey lagi.


"Cuma deman biasa rey..."


"Besok juga sudah sembuh" Resti tetap menolak.


"Ya sudah, aku pergi belikan obat di apotik buat demammu" Akhirnya rey mengalah dan membiarkan resti.


Sepulang dari membeli obat rey mengambil air di baskom untuk mengompres demam resti.


"Minum obatnya dulu res" Ujar rey sambil membangunkan resti.


Rey yang khawatir dengan keadaan resti menungguinya sepanjang malam. Hingga tertidur di samping resti.


Keesokan paginya demam resti sudah turun resti pun beranjak dari tempat tidur dan mencari rey.


"Rey..." Panggil resti


" Ada apa res?" sahut rey dari dapur.


resti pun berjalan menuju dapur.


"demammu sudah turun" ujar rey sambil memegang dahi resti


"kamu masih lemah, sebaiknya istirahat di kamar, kalau butuh apa-apa panggil saja aku " ucap rey


"aku sudah sembuh kok" ujar resti dengan tersenyum


"kamu butuh sesuatu?" tanya rey lagi


"Tidak, aku hanya tidak melihatmu pas bangun tadi"


"Oooh, baru pergi sebentar kau sudah merindukan aku ya.." Goda rey.


"Makasih ya sudah merawatku" Ujar resti sambil memeluk rey..


"Tidak perlu bilang terima kasih, kau kan sahabatku, sudah sewajarnya aku ada untukmu"


"Sarapan dulu, sudah aku siapkan bubur di atas meja"


"Eum.." Angguk resti

__ADS_1


Hanya sedikit bubur yang di makan resti, saat ini ia benar- benar tidak ada selera untuk makan apapun.


Rey sebenarnya ingin sekali menanyakan apa sebenarnya yang terjadi pada temannya itu kemarin.


Namun di urunngkannya, rey takut itu adalah hal yang melukai perasaan resti. Jadi rey memutuskan untuk menahannya dan menunggu hingga resti mau menceritakannya sendiri.


*****


Di kantor


Hari-hari di lewati resti dengan bekerja bersama rey seperti biasa, resti pun tidak menceritakan kejadian pahit waktu itu ia berusaha menyimpan sendiri tanpa memberitahu siapa pun.


rey mendekati resti dengan wajah bahagia, perlahan ia menepuk pundak resti dan berbisik di telinga resti.


"Hari ini ketua tim mengajak kelompok kita untuk makan-makan" bisiknya


"kamu ikut kan?" Tanya rey


"Tumben.." Sahut resti ragu


" Kabarnya ketua tim ulang tahun"


"Asik dong, sudah lama tidak makan enak.."


"Mumpung ada yang traktir kita makan sepuasnya hehehe" Rey dengan senyum liciknya mengedipkan mata pada resti


"Yang tidak memberikan kado jangan harap bisa makan enak, cuma boleh minum" Terdengar suara yang mengagetkan dari belakang.


" Yah ketua, kan belum gajian" Balas rey


"Ngutang dulu boleh ya..." Lanjut rey sambil cengengesan.


"Huh... Dasar kamu ya.." Ujar ketua sambil menjitak kepala rey.


"Kamu bisa ikut kan res?" Tanya ketua


" Oke, nanti sepulang kerja kita ngumpul di tempat yang biasa" Pesan ketua.


Acara makan makan berjalan cukup menyenangkan mereka saling melempar candaan tidak ada tingkatan senioritas yang membedakan. Sehingga membuat canggung suasana.


Al sebagai ketua tim tidak terlalu gila hormat ia lebih suka bekerja dengan suasana yang lebih kekeluargaan.


Resti merasa perutnya agak sedikit mual dan ia pun berlari ke kamar kecil, kepalanya sedikit pusing makanan yang barusan ia makan habis di muntahkannya.


Rey yang merasa khawatir ikut menyusul resti ke kamar kecil.


"Res...resti" Panggil rey sambil mengetuk pintu


"Kamu kenapa res?" Tanya rey penuh cemas...


Beberapa saat kemudian resti keluar dengan wajah sedikit pucat.


"Kamu kenapa..?" tanya rey lagi


"Tidak apa-apa, cuma masuk angin" Sahut rey yang masih memegangi perutnya.


"kamu sih, kebiasaan melewatkan makan siang" ujar rey sambil memijit bahu resti.


"Ya sudah kita pulang duluan aja kalau gitu" Saran rey


"Tidak perlu, habis muntah tadi jauh lebih enak sekarang"


Resti merasa tidak enak hanya gara-gara dirinya acara makan-makan tim dengan ketua jadi berantakan.


"Beneran tidak apa-apa?" Tanya rey lagi dengan cemas.

__ADS_1


"Iya rey..., beneran" sahut resti meyakinkan.


"Ayo kita kembali" Ajak resti


"Baiklah.., kalau begitu kita lanjut lagi" Ujar rey dengan semangat.


Di koridor tidak sengaja mereka berpapasan dengan dua orang yang cukup mereka kenal.


nampak putri dan chen tengah berjalan ke arah mereka.


Resti yang tidak sempat menghindar mau tidak mau terpaksa menghadapi.


"Hai rey, res..." Sapa putri


"Kalian di sini juga?" Tanya putri ramah


Resti hanya menunduk dan tak ingin sedikit pun melihat ke arah putri yang sedang menggandeng tangan chen.


"Hai Put, kalian juga makan di sini?" Tanya rey balik.


"Iya, kami baru datang" Jawab putri


"Res, kamu kenapa?" Tanya putri mengalihkan pandangannya ke putri.


"Tidak apa-apa, kami pergi dulu ya" Balas resti sambil buru buru menarik tangan rey.


"Eh res..." Panggil putri


"Resti kok agak aneh ya?" Ujarnya pada chen.


Chen tidak menghiraukan apa yang di katakan putri, matanya memandangi resti yang berlalu cepat meninggalkan mereka.


Selama ini chen sudah berusaha untuk menemui resti namun resti selalu menolak dan menghindarinya bahkan nomernyapun sudah di blokir oleh resti sehingga ia tidak bisa menghubungi resti lagi.


"res, kenapa kamu sangat dingin dengan mereka tadi?" tanya rey penasaran.


"tidak apa-apa, aku cuma lagi malas aja bicara dengan mereka" sahut resti beralasan.


"beneran tidak ada masalah antara kau dengan putri?" rey masih penasaran.


"masalah apa?" resti malah balik bertanya


"yah, siapa tahu kalian sedang perang dingin merebutkan chen.." sahut rey bercanda.


resti yang mendengar candaan rey berhenti dan memandang wajah rey.


"rey..." ujar resti sambil menatap dalam rey


"tolong jangan sebut orang itu lagi di depanku"


"terlebih lagi menjadikannya bahan candaan"


"aku benar-benar tidak suka mendengarnya" lanjut resti lagi.


Rey jadi bingung atas sikap resti hari ini. ia benar-benar tidak mengerti kenapa resti sangat membenci chen, apa sebenarnya yang telah chen lakukan terhadap resti sehingga resti sebenci itu padanya. apakah ini ada hubungannya dengan ke jadian waktu resti pulang dengan keadaan yang sangat kacau dan basah kuyup hari itu.



-Putri


-Sahabat resti


-Manja


-Kekasih chen

__ADS_1


-to be continued


__ADS_2