Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 8 merindukan resti


__ADS_3

Di bandara



Saat mendengar resti akan pergi jauh chen


tidak bisa menahan dirinya tanpa sadar ia bergegas mengejar resti ke bandara.


bahkan dia lupa menanyakan deteil keberangkatan resti kepada sam.


Chen berlari memasuki bandara, ia berlari kesana kemari mencari keberadaan resti namun ia tak menemukan bayangan resti pun.


hampir satu jam chen menyusuri bandara dengan harapan bisa bertemu dengan resti, namun usaha terakhirnya nampaknya sia sia, resti sama sekali tidak kelihatan dan bahkan ia beberapa kali di tegur oleh petugas karena mengganggu.


dengan putus asa chen pergi meninggalkan bandara dan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.


"seharusnya aku menanyakan terlebih dahulu detail keberangkatan resti pada sam" sesalnya


di tengah kekesalannya chen menerima telpon dari sam.


"bagaimana..?" tanya sam setelah tersambung, meskipun sebenarnya sam sudah mengetahui jawabannya.


"sialan kau, cepat katakan padaku kapan dia berangkat?" ujar chen dengan kesal.


"seharusnya dia sudah berangkat dari tadi" jawab sam


"kenapa kau tidak mengatakannya padaku" emosi chen makin menjadi.


"siapa yang menyuruh kau langsung pergi tanpa mendengarkan ceritaku sampai selesai" ejek sam.


"kau kan bisa menelponku.." balas chen


"coba kau periksa ponselmu, aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali" ujar sam menjelaskan.


Chen menutup panggilan sam dan memeriksa layar ponselnya, benar saja ada hampir sepuluh kali panggilan tak terjawab dari sam.


Chen membanting ponselnya, perasaannya saat ini benar-benar kacau, dia merasa sangat kecewa tidak bisa bertemu dengan resti.


Selama ini ia tidak pernah mengira resti akan pergi ke luar negeri. ia mengira resti hanya akan tinggal di kota ini dan ia masih memiliki harapan bisa melihat resti meskipun dari jauh.


namun sekarang semua di luar perkiraannya, kini resti telah pergi meninggalkan negara ini, dan jelas akan membuat dirinya makin sulit menemukan keberadaan resti apa lagi ia tidak tahu negara mana yang resti tuju.


Setibanya di kantor chen langsung menuju ruangan kerjanya, ia tidak menghiraukan beberapa karyawan yang menyapanya.


Brakkk~~~


Chen masuk keruangannya dengan membanting pintu, wajahnya merah menahan amarah kesal dan kecewa yang bercampur menjadi satu.


sam yang masih di situ mencoba menenangkannya.


"sudahlah sob, kau masih bisa mencari tahu keberadaanya" ujar sam membujuk


"apa kau tahu dia pergi kemana?" tanya chen pada sam


"aku juga tidak tahu.." balas sam


Chen melonggarkan dasi di lehernya, dan duduk menyender sambil memicingkan matanya.



"kenapa kau tidak mengatakan terus terang kepada resti?" ujar sam sambil menepuk bahu chen.

__ADS_1


"aku tidak menyangka kau terlalu pengecut.."


"seharusnya kau melakukannya sebelum terlambat"


"ini semua salahku..." sahut chen


"aku telah melukai perasaannya.."


"aku benar-benar laki laki yang br*****k"


"sebenarnya, bagaimana perasaanmu terhadap resti?" tanya sam penasaran


Chen terdiam mendengar pertanyaan sam, selama ini ia juga bingung dengan perasaannya, apakah itu benar-benar perasaan cinta atau hanya perasaan ingin memiliki saja.


"entahlah..." sahut chen dengan pandangan kosong lurus kedepan.


"aku hanya merasa terkadang sangat merindukannya"


"lalu bagaimana dengan putri?" tanya sam lagi


"bukankah dia selama empat tahun ini telah menjadi kekasihmu satu satunya?"


"hahhhhh..." chen menghela napas


"sejujurnya aku sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap putri"


"awalny aku mendekati putri untuk mendapatkan perhatian dari resti"


"namun tidak aku sangka resti benar benar seorang yang sangat susah di dekati dan sedikit pun tidak pernah menunjukan rasa tertariknya padaku"


"hal itu makin membuat aku penasaran dan ingin menantang diriku.."


"dan tanpa aku sadari aku semakin terobsesi padanya..."


"aku turut prihatin padamu" lanjut sam sambil pergi meninggalkan chen.


*****


Sejak kepergian resti chen selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, tidak heran dia akhirnya di pilih menjadi wakil presiden di perusahaan ayahnya itu.


"chen, apa hari ini kau lembur lagi?" tanya ketua perusahaan yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


"masih ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan" jawab chen.


"kapan kau punya waktu untuk makan malam?"


"ibumu sudah sangat merindukanmu" lanjut ayahnya


"kalau ada waktu ajak putri untuk mengunjungi ibumu"


"aku tahu, aku akan mencari waktu untuk menemui ibu" sahut chen dingin


"seharusnya kau sudah tahu keinginan ibumu yang paling besar" ucap ayahnya.


Chen tidak mengatakan apapun,ia tahu yang di maksud oleh ayahnya, namun saat ini ia benar-benar tidak ingin menikah dengan wanita mana pun.


"ayah, kalau tidak ada hal lainnya, aku akan kembali ke kantorku" chen melangkah pergi meninggalkan ayahnya.


"dasar anak ini.."


"sudah dua tahun sifatnya sangat dingin pada orang sekitarnya" keluh ayahnya.

__ADS_1


"apa sebenarnya yang terjadi padanya?" ujar ayahnya membatin.


Chen berdiri menghadap jendela kaca kantornya, matanya menatap jauh keluar.



"Res..."


"Di mana kau saat ini.."


"aku sangat merindukanmu"


"aku ingin meminta maaf atas semua kesalahku di masa lalu"


"akankah suatu hari nanti kau memaafkan aku dan bisa menjadi milikiku seutuhnya" ujarnya membatin.


*******


putri


tok tok tok ~~~


suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunan chen.


dari balik pintu muncul wajah cantik yang selama ini selalu mengikuti chen ke mana pun.


"kak chen..." seru putri dengan riang


"aku membawakan makan siang untukmu" ujarnya sambil meletakkan kotak makan di atas meja.


"apa kau sudah makan?" tanya chen penuh perhatian.


putri menggeleng manja sambil bergelayutan di lengan chen.


"tunggulah di sana, sebentar lagi aku selesai" ujar chen.


"baik, tapi jangan lama-lama" ujar putri


chen mengangguk sambil mencium lembut kening putri.


Putri merasa sangat bahagia bisa memiliki chen, di seluruh gedung tempat chen bekerja hampir semua karyawan mengetahui status putri sebagai kekasih anak bos mereka.


meski pun putri sudah cukup lama berkencan dengan chen dan sudah mendapat lampu hijau dari keluarga, namun chen belum pernah sekali pun berniat menikahi putri.


setiap putri mempertanyakannya kepada chen, ia hanya beralasan ingin bekerja lebih fokus dan belum siap untuk berumah tangga.


Jauh di lubuk hati putri, ia merasa kalau sebenarnya orang yang chen cintai selama ini bukanlah dirinya, hanya saja selama chen tidak mengakui atau pun mengatakannya ia akan tetap bertingkah seperti tidak mengetahuinya.


sudah lima belas menit putri duduk di sofa sambil menunggu kekasihnya. namun chen seperti lupa akan dirinya. ia tetap fokus dengan pekerjaannya seolah di ruangan itu hanya ada dirinya seorang.


"kak chen..." panggilnya


"oh, maaf.. aku hampir lupa" sahut chen


setelah menutup laptopnya chen pun mendekati putri dan membuka kotak makan yang di bawa oleh putri.


putri memandangi wajah chen yang tengah menyantap makan siangnya..


"seandainya aku tidak datang mencarimu, kau tidak mungkin akan mengingatku" ujar putri dalam hatinya.


ironis meskipun menyandang status sebagai kekasih namun putri tidak memiliki hati chen seutuhnya.

__ADS_1


-to be continued


__ADS_2