Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 14 Keegoisan Nathan.


__ADS_3

Setelah Nathan pamit resti mengantar nathan sampai kedepan parkiran mobil didepan tokonya, mereka berjalan sambil sesekali melemparkan candaan.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi mereka dari jauh...


Mobil nathan pun melaju pergi meninggalkan resti yang masih berdiri di sisi jalan tengah memandangi kepergian nathan hingga menghilang di tikungan tajam setajam silet.


Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan yang diatas sewajarnya persis di sisi resti.


Whusss~~~


Mobil itu melewati resti hingga menerbangkan rambutnya yang tergerai indah.


"Dasar orang kaya, seenaknya aja tancap gas di jalanan" Omel resti.


Resti pun kembali masuk kedalam dengan perasaan masih kesal pada pengendara mobil mewah tersebut.


Chkiiiiit~~~


Terdengar suara rem yang di injak dengan penuh tenaga hingga menghentikan laju mobil.


Pengendara mobil mewah itu tiba tiba memberhentikan mobilnya di tempat yang agak sepi, ia nampak sedang sangat kesal mukanya merah penuh amarah.


Hatinya benar benar terbakar saat melihat resti tengah berjalan sambil bercanda dan tertawa lepas bersama nathan.


Phak phak phak


Stir yang polos tanpa dosa menjadi sasaran pelampiasan amarahnya.


Sebelumnya chen berniat menemui resti setelah putri bercerita kepadanya bahwa toko roti yang ia datangi tempo hari ternyata milik resti,


Selama ini resti berada di luar negeri dan baru saja kembali dan ia memutuskan tidak akan pergi lagi itulah kenapa ia membuka usaha toko roti miliknya sendiri di sini.


Dengan semangat empat lima chen menuju tempat resti, wajahnya di penuhi oleh aura kebahagian, ia sudah sangat tidak sabar ingin menemui resti dan ingin melepaskan rasa rindu yang selama ini ia pendam.


Sesaat chen terlupa akan rasa bersalahnya yang telah ia lakukan kepada resti, yang membuat resti membenci dirinya.


Meski kini ia sudah tiba di depan toko tempat resti ia tiba tiba merasa takut untuk menemui resti perasaan bersalah dan perbuatan yang ia lakukan pada resti seketika membayanginya.


Hingga akhirnya ia memutuskan memarkirkan mobilnya di sisi jalan dan memperhatian dari kejauhan, tidak di sangka saat itu ia juga melihat rey sahabat resti memasuki toko roti itu bersama dengan nathan.


Pada awalnya chen mengira nathan adalah kekasihnya rey yang sengaja ia bawa untuk menemui resti, namun saat ia melihat nathan duduk bersama resti didekat jendela kaca yang menghadap ke arah jalan, ia sangat jelas melihat keakraban antara resti dan nathan.

__ADS_1


Mereka saling bercanda dan tertawa tawa tidak ada sedikit pun rasa canggung diantara mereka, hal itu membuat perasaan chen makin buruk.


"Siapa orang itu?"


"Ada hubungan apa dia dengan resti?" Gumam chen.


Belum habis rasa penasaran dan ingin tahu chen tentang nathan, lisa datang bersama neneknya yang langsung di sambut hangat oleh nathan.


"Siapa anak kecil itu?" Chen makin penasaran.


Karena jarak yang lumayan jauh chen tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang orang yang berada di dalam sana, hanya saja ia sangat yakin wanita yang berambut panjang itu pasti adalah resti.


Karena rasa penasaran dan keingin tahuannya yang besar ia pun memutuskan mengawasi mereka dari dalam mobil,


Panggilan dari seketarisnya pun berulang kali ia abaikan, rapat yang sudah di jadwalkan pun terpaksa di tunda tanpa alasan yang jelas.


"Nathan..??" Ujarnya lirih saat ia melihat dengan jelas orang yang dari tadi duduk bersama resti ternyata adalah rekan bisnisnya yang baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaannya.


"Lalu anak itu...?" Chen tiba tiba teringat dengan anak perempuan yang di pangku oleh nathan saat di restoran hari itu.


"Apakah itu anak mereka...?" Ia makin marah saat membayangkan hubungan mereka yang kemungkinan lebih dari sekedar teman.


***********


Keesokan harinya


Nathan menjemput resti sekalian mengajaknya makan siang di restoran yang tidak jauh dari butik tempat langgananya. Dengan begitu mereka bisa memilih pakaian yang akan mereka kenakan saat pesta setelah selesai makan nanti.


Nathan dan resti melangkah memasuki sebuah butik yang sangat mewah tentu saja di dalamnya juga di isi dengan barang barang bermerek ternama dan di lengkapi fasilitas salon kecantikan.


"Selamat datang" Sapa seorang karyawan yang memang bertugas untuk menyambut tamu.


"Tolong tunjukan gaun yang sudah aku pesan kemarin" Pinta nathan pada manajer butik tersebut.


Manajer tersebut pun meminta karyawannya untuk mengambilkan gaun pesanan nathan dan meminta karyawan lainnya untuk melayani resti dan nathan.


Tidak berapa lama karyawan itu pun datang membawakan gaun yang sangat indah.


"Cobalah..." Nathan meminta resti untuk mencoba gaun yang telah ia pilihkan.


"Tadaaaa..." Resti keluar dari ruang ganti dengan berputar putar sambil menunjukan gaun yang tengah ia pakai.

__ADS_1


"Bagaimana, baguskan?" Tanya resti masih dengan gaya meliuk liukan badannya bak model.


Nathan memandang takjub pada penampilan resti yang membuatnya terpesona, ia berdecak kagum sambil menggaruk dagunya yang mulus dan tidak gatal sama sekali.


"Jelek..." Nathan langsung tersadar


"Ganti yang lain aja" Lanjutnya sambil menyodorkan gaun lainnya.


Dengan langkah gontai resti kembali masuk kedalam ruang ganti.


Dua kali, tiga kali, empat kali, dan untuk kesekian kalinya resti harus bolak balik keluar masuk ruang ganti karena menurut nathan gaun yang ia kenakan tidak ada yang cocok di badannya.


Warnanyalah, kebesaranlah, kependekanlah, terlalu terbukalah dan masih banyak lagi alasan yang sama sekali tidak masuk akal.


"Bagaimana bisa semua gaun yang ia kenakan terlihat sangat cantik di badannya..." Gumam nathan.


"Ini yang terakhir kali" Keluh resti sambil kembali memasuki ruang ganti.


"Kalau masih tidak pas, aku tidak mau pergi" Lanjutnya dengan kesal karena sudah lelah.


"Iya... Iya..." Nathan mendorong resti memasuki ruang ganti untuk kesakian kalinya dengan anggukan meyakinkan.


Setelah beberapa saat resti keluar dengan mengenakan long dress warna hitam.


Dengan model potongan di bagian belakang diberi pita satin panjang menambah keindahan pada gaun yang di kenakannya ini, korset tanpa lengan dengan garis leher bulat, potongan punggung, dan siluet putri duyung yang apik, di Padukan dengan sepatu hak bertali dan tas genggam untuk tampilan kepala hingga ujung kaki yang menakjubkan.


"Oke, sempurna.." Ujar nathan sambil menjentikan jarinya,


meskipun jauh di lubuk hatinya ia masih tidak rela berbagi kecantikan resti dengan orang lain namun ia tidak mau resti marah padanya dan batal menghadiri pesta dengannya.


Seandainya saja bisa...


Nathan ingin sekali menyembunyikan resti dan tidak akan mengijinkan pria mana pun memandang kearahnya.


"So, pergi sekarang..!?" Tanya resti mengagetkan nathan.


"No, masih ada ritual lainnya"


"Whattt... Again...???" Resti langsung terduduk lemas.


----to be continued.

__ADS_1


__ADS_2