
Nathan pun meminta karyawan butik untuk merias wajah resti.
"Tolong dandani dia secantik mungkin" Perintah nathan
"Tenang saja, tuan pasti akan puas.." Sahut manajer butik dengan penuh percaya diri.
"Silakan nona.." Manajer itu memperlakukan resti ramah dan penuh dengan rasa hormat.
Resti pun mengikutinya masuk kedalam kamar rias yang memang sudah di siapkan untuk tamu VIP butik tersebut, sementara nathan menunggu sambil membolak balik majalah bisnis.
Tidak butuh waktu lama untuk merias wajah resti, karena pada dasarnya resti sudah terlihat cantik meski tanpa riasan, cukup memoleskan sentuhan makeup flawless pada wajahnya makin membuat resti semakin cantik.
"Sudah selesai, tuan" Karyawan itu menunjukan hasil kerja mereka pada nathan.
"Apa masih kurang pas?" Sindir resti saat melihat nathan terpaku memandanginya.
Nathan hanya tersenyum sambil mendekat ke arah resti yang masih berdiri menunggu komentar darinya.
"Sial, ia terlihat sangat cantik malam ini"
"Seharusnya aku tadi tidak perlu meminta mereka untuk mendandaninya...." Sesal nathan dalam hati.
Nathan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jasnya dan mengambil isinya lalu kemudian memasangkan pada tangan resti.
"Cantik sekali..." Seru resti dengan senyum mengembang.
"Kau suka?" Tanya nathan
"Suka sekali" Ucap resti sambil mengagumi
"Tapi ini pasti mahal" Resti menyodorkan kembali gelang yang melingkar di tangannya ke arah nathan.
"Benda yang cantik seharusnya juga di pakai oleh orang yang cantik" Kata kata nathan membuat resti tersipu.
"Apa aku cantik?" Sifat usil resti pun muncul.
"Sangat cantik..." Bisik nathan
Entah mengapa tiba tiba resti merasa nathan sangat berbeda dari biasanya, ia tidak bisa mengimbangi candaan (menurut resti) nathan malam ini.
Malam ini resti memang sangat cantik mengenakan long dress warna hitam.
Dengan model potongan di bagian belakang diberi pita satin panjang, korset tanpa lengan dengan garis leher bulat, potongan punggung, dan siluet putri duyung yang apik, di Padukan dengan sepatu hak bertali dan tas genggam.
Nathan pun tak kalah menawannya ia mengenakan tuksedo abu-abu slim fit dengan 2 kancing depan, kerah puncak dengan trim mandiri, saku besom satin mewah yang membuatnya lebih ramping dan tinggi di tambah tatanan rambutnya yang di sisir rapi makin membuat penampilannya mempesona kaum hawa.
Setelah puas mematutkan diri mereka pergi meninggalkan butik tersebut menuju ke tempat diadakannya pesta.
Resti melangkah keluar dari mobil dengan mendahului nathan
"Ehem..." Nathan sengaja berdeham hingga resti pun menolehnya.
Nathan menyikut lengannya dan memberi isyarat mata pada resti.
'Aishhh' gumam resti sambil berbalik menghampiri nathan.
Resti pun mengaitkan tangannya di lengan nathan yang di sambut senyum sumbringah oleh nathan.
__ADS_1
Aww...
Nathan menjerit saat cubitan kecil dari resti mampir di pinggangnya.
Mereka pun melangkah memasuki ballroom yang di dalamnya sudah banyak tamu undangan lainnya,
dengan menggandeng tangan resti, nathan seolah ingin menunjukan pada setiap tamu yang hadir di pesta itu kalau wanita cantik di sampingnya itu adalah miliknya.
" Halo, tuan nathan" Beberapa rekan bisnisnya menyapa nathan dan sedikit berbasa basi.
Resti yang merasa bosan dengan pembicaraan bisnis mereka memilih pergi ke sudut untuk menikmati beberapa makanan enak.
"Halo nona..." Seorang pria setengah tampan mendekati resti.
"Sepertinya kita pernah bertemu" Lanjut pria itu melancarkan aksinya.
'Heh, dasar pria mesum, masih saja menggunakan gombalan nenek moyang' umpat resti dalam hati
"Maaf, sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu" Jawab resti sopan.
"Benarkah?"
"Tapi kenapa aku merasa kita tidak asing"
"Entahlah, mungkin karena wajahku yang pasaran" Sahut resti masih menahan sabar
"Itu tidak mungkin, wajah sepertimu sangat jarang di temui"
"Lalu di mana kau pernah melihatku?"
"Emm... Mungkin di dalam mimpiku"
"Apakah sudah tidak berhasil?" Sesal pria itu
"Astaga, ternyata aku sudah sangat ketinggalan" Lanjutnya dengan wajah kecewa.
Resti yang melihat tingkahnya menjadi tertawa.
"Apakah ini juga salah satu caramu untuk mendekati wanita?" Selidik resti
"Apa?? Aku ketahuan lagi?" Pekiknya berpura pura polos.
"Hah, ternyata kau tidak termakan sama sekali" Keluhnya
"Kau masih harus banyak belajar"
"Sepertinya aku memang harus mencari guru baru" Guraunya
"Namaku kris, siapa namamu?" Ujarnya memperkenalkan diri
"Aku resti.."
" Senang bisa mengenal wanita cantik dan juga pintar" Pujinya
"Jaman sekarang sangat banyak wanita cantik dan pintar, kau tidak akan sulit menemukannya" Balas resti
"Yah, tapi sangat sulit menemukan yang sepertimu"
__ADS_1
"Ayolah, berhenti menggangguku dengan kata kata gombalmu itu" Protes resti.
Dalam sekejap mereka sudah nampak sangat akrab dan saling bercanda tanpa rasa canggung.
Nathan yang memang sedari tadi mencari cari resti datang menghampiri mereka.
"Ternyata kau di sini?" Seru nathan
"Oh, kau sudah selesai?" Balas resti
"Sudah, kenapa kau tidak bilang saat pergi?" Nathan merangkul pinggang resti
"Maaf aku tadi sangat bosan"
"Siapa dia?" Mata nathan tertuju pada pria setengah tampan yang berdiri di dekat resti
"Dia kris, teman yang baru aku kenal" Jujur resti
Nathan mengernyit memandang kearah resti
"Halo, saya kris.." Kris memperkenalkan dirinya terlebih dahulu
" Saya nathan" Sambut nathan
"Apakah kau kris putranya tuan sucipto?"
"Benar, anda kenal papa saya?
"Aku mengenalnya saat kami meninjau pabrik tembakau, dan dia sering menceritakan putranya yang hanya tahu bermain main" Sindir nathan
"Ternyata begitu..." Kris menjadi sedikit canggung dengan perkataan nathan.
"Maaf sepertinya saya telah mengganggu kalian, saya akan permisi terlebih dahulu" Pamit kris
Setelah kris pergi nathan memandang lekat pada resti.
"Sepertinya kau sangat senang barusan?" Nampak jelas di wajah nathan bahwa ia tidak senang resti dekat pria mana pun.
"Dia hanya anak kecil yang baru belajar tumbuh" Elak resti
"Jadi apa yang kau ajarkan?" Selidik nathan
"Tidak banyak, hanya beberapa kata rayuan.." Sahut resti dengan tersenyum
"Dasar kau.." Nathan menggeleng gelengkan kepalanya melihat resti yang sok soan mengajari orang lain padahal dirinya sendiri tidak punya pengalaman sama sekali.
Nathan dan resti sangat menikmati pesta itu sesekali mereka bersulang dan tertawa tawa kecil, hingga mereka tidak sadar menjadi pusat perhatian seseorang.
"Tuan nathan...." Suara itu membuat nathan menoleh ingin tahu siapa yang memanggilnya.
"Oh anda ternyata tuan chen" Balas nathan dengan hangat.
"tadinya aku tidak percaya itu adalah anda"
"saya juga tidak menyangka anda akan datang ke pesta ini" karena setahu nathan chen orang yang sangat sulit di undang untung menghadiri acara seperti sekarang ini.
"hanya kebetulan ada sesuatu yang ingin saya pastikan di sini" sahut chen matanya melirik ke arah resti yang menunduk dalam.
__ADS_1
resti benar benar tidak menyangka akan bertemu secara langsung dengan orang yang selama ini ia hindari.
Ternyata chen juga hadir di pesta itu tanpa membawa putri sebagai pasangannya.