
Malam itu chen tidak mengantarkan resti pulang seperti permintaannya, tetapi dia membawa resti ke suatu tempat.
Tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Drrrrrrt~~~
Ponsel chen bergetar, nampak nama sam tertera di layar ponsel, dia mengambil dan mengangkat panggilan dari seseorang yang tak lain adalah temannya itu.
"Bagaimana chen, kamu puas tidak dengan apa yang telah aku lakukan?" Terdengar suara sam di sebrang begitu bersemangat.
"Aku sengaja mengatur dosisnya biar kau bisa bermain-main terlebih dahulu " Lanjutnya lagi
"Seharusnya sekarang kau pasti sedang bersenang senang, kan?" Tebaknya..
"Gila kau sam, jadi ini yang kau maksud dengan membantuku?" Chen nampak tidak begitu senang atas apa yang dilakukan sam.
"Lalu apa lagi?" Jawab sam
"Bro, kau jangan terlalu naif mana ada wanita baik-baik yang dengan suka rela mau ditiduri oleh orang yang tidak dia sukai" Lanjut sam dengan panjang lebar.
"Tapi bukan begini caranya...!" Terdengar suara chen setengah menahan emosinya.
"Yang penting adalah hasilnya" Jawab sam
"Kau lakukan saja, setelahnya kau bisa mengatakan padanya akan bertanggung jawab hingga akhir"
"Dengan begitu dia akan menjadi milikmu seutuhnya" Ujar sam meyakinkan
Chen mengahiri panggilan sam sambil memicikkan matanya dia memikirkan kata-kata sam barusan.
apakah ia benar-benar harus melakukan itu pada resti, bagaimana kalau nantinya resti malah akan semakin membenci dirinya.
-------
Resti mengerjapkan matanya melihat ke arah sekeliling,
"Ini dimana?"
Resti bertanya-tanya dalam hati, ini jelas bukan kamarnya.
"Apa yang terjadi?"
"Seingatku setelah minum jus yang di berikan sam padaku aku tidak makan apa-apa lagi dan terakhir juga minum jus waktu menemani chen sedang makan..."
Resti masih menerka-nerka yang terjadi padanya, berbagai macam pikiran anehpun melintasi otaknya
"Oh tidak, jangan-jangan chen..." Pekiknya, ia langsung bangun dan meraba seluruh tubuhnya,,
"Huhh..." Resti menghembuskan napas dengan lega karena mendapati pakaian di tubuhnya masih lengkap tak kurang satupun.
Tok tok~~~
Suara ketukan pintu dari luar memecah keheningan
"Res..." Panggil suara itu
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya lagi...
Resti bergegas turun dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya.
"Iya, sudah..." Sahut resti dari dalam
"Boleh aku masuk?" Tanya suara itu lagi
Resti berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Chen...?" Ujarnya setengah terkejut.
"Apa kau sudah baikan?" Tanya chen penuh perhatian
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam" Tanya resti balik.
__ADS_1
"Kau mengeluh pusing" Jawab chen singkat
"Ayo kita sarapan dulu" Ajak chen kemudian
Resti mengikutinya dari belakang menuju ruang makan, dimeja sudah tersedia roti lapis dan jus jeruk
"jus jeruk lagi" keluh resti dalam hati
" apakah ada susu, teh, atau yang lainnya?" tanya resti pada chen
"kamu tidak suka minum jus di pagi hari?" chen malah balik bertanya.
kalau bukan karena jus jeruk mana mungkin sekarang ini aku ada di sini sepertinya mulai sekarang aku jadi anti sama yang namanya jus jeruk. gerutu resti dalam hati
"tidak juga, hanya saja aku lagi tidak ingin" jawab resti seadanya.
"baiklah aku ambilkan susu untukmu" chen membuka kulkas dan mengambil kotak susu lalu menuangkanya di gelas.
" Ini dimana?" Tanya resti penasaran. Matanya tak lepas mengitari seluruh sudut ruangan.
" Di rumah peristirahatan keluargaku" Jawabnya sambil menyodorkan segelas susu kepada resti.
"Kenapa kita kesini?" Tanya resti makin penasaran.
Chen yang baru membuka mulutnya untuk menyantap sarapannya berhenti dan meletakkan sendok yang ada di tangannya ke piring.
"Sebelumnya aku minta maaf," Ucap chen
" Aku tidak bermaksud apa-apa padamu, hanya saja aku tidak tahu rumahmu di mana"
" jadi, aku berinisiatif membawamu ke rumahku karena melihat keadaanmu tadi malam tengah kesakitan" Ujarnya menjelaskan.
"dan aku juga minta maaf karena tidak membawamu ke rumah sakit" lanjut chen
Resti tertunduk seolah menyesali pikiran jahatnya tentang chen.
"Apa?" taanya chen
"Tidak ada apa-apa" Jawab resti sambil melambaikan tangan karena salah tingkah
"Maksudku terimakasih.." sahutnya sembari tersenyum
Chen berdiri dan berjalan sambil menatap ke luar jendela...
" Sepertinya kita tidak bisa pulang sekarang.." Ujar chen Tanpa mengubah pandangannya.
"Apa?"
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku tidak mengerti
Aku ikut berdiri dan melihat ke arah jendela..
Awan hitam yang tebal tengah bergelayutan di langit.
Benar saja tidak butuh waktu lama hujan lebat turun disertai angin yang bertiup kencang bahkan gunturpun tidak mau ketinggalan...
"Akhhhhh benar-benar sial" Umpat resti dalam hati
Ia duduk di sofa sambil meringkuk ketakutan
"Kenapa mesti hujan badai di saat seperti ini" resti terus mengomel sendiri seolah menyalahkan alam dan tidak menerima keadaan.
Chen mendekatinya seraya memberikan selimut untuk resti
"Kamu takut badai?" Tanya chen lembut
Resti hanya mengangguk, tanpa mengubah posisi duduknya.
__ADS_1
Entah mengapa setiap hujan badai yang disertai dengan guntur dan petir benar-benar membuat resti ketakutan.
kilatan halilintar di iringi suara guntur makin membuat suasan semakin menegangkan.
resti makin merapatkan tangannya ketelinga dan memejamkan matanya.
Djuarrrr---
"Akhhhhh...."
Suara petir yang begitu nyaring spontan membuat resti berteriak dan melompat kehadapan chen, tanpa sadar ia memeluknya dengan erat.
"Jangan takut.." Bisik chen berusaha menenangkan resti, tangannya dengan lembut mengelus pundak resti.
Bagai anak kecil yang sedang berada di pelukan seorang ayah, tanpa sadar resti terus memejamkan matanya dan tidak mau melepaskan pelukannya.
Sesaat kemudian resti mulai melepaskan pelukannya
"Maaf.. Aku benar-benar tidak sengaja" Ujar resti menjelaskan.
"Tidak apa-apa" Sahut chen
Chen menuntun resti duduk di sofa tangannya masih tetap merangkul bahu resti, seolah ingin menjadi pelindungnya.
Thuppp~~~
Tiba-tiba ruangan jadi gelap gulita, aku makin mempererat peganganku pada lengan chen.
"Apa yang terjadi?" Tanya resti dengan ketakutan.
" Tidak tahu" Jawab chen
"Mungkin sedang ada pemadaman listrik"
'ya tuhan....
apa-apaan ini, ini adalah hari yang benar-benar buruk dalam hidupku, belum selesai hujan badai sekarang malah mati lampu. dosa apa yang telah aku lakukan hingga kau menghukumku begini'
Resti terus mengeluh dalam hati dan mengutuki keadaan saat ini.
"Cepat lakukan sesuatu.." pintanya
"Aku takut..." rengek resti lagi
"Aku kira kamu itu gadis tangguh yang tidak takut apa-apa" Ejek chen.
"Aku kan juga manusia" Sahut resti sewot tanpa melapaskan peganganku.
Entah kenapa resti merasa sangat aman dan tidak begitu takut lagi berada di dekat chen.
"Cepat cari lilin atau senter" Kata resti memerintah
" Coba nyalain hp kamu.." Ujar chen
"Hp ku di meja makan.." Sahutnya
"Hp ku juga ada di meja makan..."
"lalu, bagaimana, masa kita hanya diam tanpa berbuat apa-apa" ujar resti setengah kesal.
"ya sudah, kamu tunggu di sini, aku mau ambil lilin di dapur dulu" ujar chen sambil berdiri bermaksud meninggalkannya.
"tidak mau, aku ikut, aku takut sendirian" resti langsung menarik tangan chen.
"lagian rumah seperti ini, masa tidak ada lampu cadangan" lanjutnya dengan omelan.
terdengar hebusan napas chen yang mungkin sedang menahan sabar atas omelan resti.
untung saja saat ini sedang mati lampu dan gelap jadi resti tidak perlu melihat wajah chen yang kesal karena ulahnya.
-to be continued
__ADS_1