
Sudah satu jam berlalu hujan belum juga reda, untunglah sudah tidak ada badai dan petir lagi.
Dari jendela nampak sesekali kilatan hailintar masih seperti lampu blitz kamera.
Cuaca yang dingin membuat resti merasa ngantuk hingga beberapa saat kemudian ia pun tertidur di samping chen yang juga duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Resti menepis sesuatu yang membuat wajahnya sedikit terasa gatal
"Nyamuk sialan.." Kibasnya tanpa membuka mata.
ia melanjutkan tidurnya dengan menggeserkan badan biar bisa rebahan namun ada sesuatu yang menahan dan menariknya
Resti pun terbangun dan sangat kaget mendapati wajah chen begitu dekat dengan hidungnya.
Resti berusaha menjauh dengan mendorongnya, namun chen begitu kuat dia tidak bergerak sedikitpun.
"Apa-apaan sih chen..?" ia berusaha melepaskan genggaman tangannya.
mata chen menatap liar ke arah resti membuat sekujur tubuhnya jadi merasa bergidik ketakutan.
Resti berusaha menenangkannya dengan bertindak hati-hati.
"chen... tolong lepaskan" pintanya dengan lembut
"kamu kenapa, apa yang sebenarnya terjadi?" resti masih berusaha bersikap setenang mungkin.
Ia masih berharap chen mau melepaskan genggaman tangannya dan bicara baik-baik dengannya.
"Res..." Terdengar suara serak chen memanggil namanya.
tangannya mengelus pipi resti dengan lembut, wajahnya kian mendekat sehingga resti bisa mendengar napasnya yang kian memburu.
resti memalingkan wajahnya saat chen mencoba mencium bibirnya, resti berusaha melepaskan diri darinya dengan menendang nendangkan kaki.
chen bagai di rasuki oleh roh jahat dia sama sekali tidak bisa di kendalikan malah dia semakin kuat menekan resti.
"Lepaskan.." resti mencoba berontak namun chen semakin erat menggengam pergelangan tangannya.
"Res, tahukah kau..."
"Sudah lama aku menyukaimu" ujar chen.
"kau gila..." maki resti
"bukankah kau sekarang bersama putri?!"
"aku tidak mencintainya.." bentak chen
bentakannya makin membuat aku ketakutan, selama ini chen di kenal sebagai pribadi yang tidak banyak omong namun cukup menakutkan.
"orang yang selama ini aku cintai adalah kau.." bisiknya.
"chen.. kita tidak boleh seperti ini"
"kasihan putri, selama ini putri sangat mencintaimu" resti tetap berusaha meyakinkan chen agar mau melepaskanny.
" aku bisa putus dengannya, asal kau bersedia menjadi wanitaku.."
Resti tidak menghiraukan kata-kata yang di ucapkan chen, yang ia pikirkan hanya cara bagaimana bisa melepaskan diri dari genggamannya.
Semakin resti berontak chen semakin menggila, dia melepas paksa semua pakaian yang ada di badan resti.
"Akhhh..."
"Tidakkk..."
"Ku mohon jangan... Jangan lakukan ini padaku" Ujar resti memohon
Air mata resti mulai mengalir membasahi pipinya, namun chen sama sekali tidak peduli, dengan liarnya dia terus menciumi resti.
"Tolonggg..." resti berteriak sejadi-jadinya,
berusaha meminta pertolongan dengan harapan ada seseorang yang akan mendengar teriakannya dan menolongnya.
semua usaha resti sia-sia, hari itu chen berhasil mengambil kesuciannya dengan paksa.
__ADS_1
Resti mengutuki dan menyesali dirinya yang begitu bodohnya termakan dengan kebaikan palsunya.
--------
"Dasar baj***an... k****at... bre*****... aku benci padamu!" Maki resti
"Maafkan aku res.." Ujar chen
"Aku benar-benar menyukaimu"
Chen berusaha menjelaskan pada resti seolah membenarkan tindakannya yang barusan dia lakukan.
"Kau jahat.. Dasar binatang"
"Ba******...akhhhhhh"
Resti memakinya habis-habisan, Air matanya kian tak terbendung, ingin sekali rasanya menancapkan pisau di dada orang di depannya ini.
Resti mengambil bajunya dan mengenakannya lalu berlari ke arah pintu.
"Res, kau mau kemana.." Ujar chen sambil menarik tangannya.
"apa menurutmu aku masih bersedia tinggal denganmu, setelah yang kau lakukan padaku" Jawab resti penuh amarah.
"Tapi di luar masih hujan.." chen berusaha menahan resti.
"lepaskan..."
"aku lebih baik kehujanan dari pada bersamamu"
"apa lagi yang kau mau dariku" air mata resti makin mengalir deras
Chen menarik resti kedalam pelukannya seraya berkata.
" Maafkan aku res, aku akan bertanggung jawab seutuhnya padamu" Ucapnya.
Resti mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukannya.
"Kau pikir dengan kata maaf dan tanggung jawab semuanya akan selesai" Teriaknya.
"Aku sangat membencimu..."
"Mulai sekarang aku tidak mau melihatmu lagi.."
"jangan pernah muncul di hadapanku" amarahnya makin menjadi.
Resti merasa dunianya sudah benar-benar runtuh, hancur berkeping keping, kesucian yang selama ini ia jaga telah di ambil oleh seorang ba******
Resti pun berlari keluar dari rumah itu dan tidak menghiraukan chen yang memanggil manggil namanya.
Di tengah rintikan hujan ia berlari kejalanan.
berharap bisa meninggalkan tempat mengerikan itu secepatnya dan sejauh mungkin
-----------
Chen
sementara chen nampak mondar mandir di depan rumah, ia begitu menghawatirkan keadaan resti.
sebenarnya chen berniat mengejar resti namun chen sadar saat ini resti tidak akan mudah di bujuk.
sesekali chen memeriksa ponselnya dan mencoba menghubungi resti, namun tidak pernah diangkat oleh resti.
chen menyesali perbuatannya dan sekarang dia membayangkan betapa bencinya resti pada dirinya.
"maafkan aku res...."
"aku memang bodoh"
"tidak seharusnya aku melakukan ini padamu.."
tangannya mengepal erat dan memukul mukul tembok seolah ingin menghajar habis kebodohan dirinya.
__ADS_1
****
Resti
Di jalan dengan keadaan berantakan dan basah kuyup resti mencoba menghentikan mobil yang lewat.
tentu saja orang orang tidak akan berhenti setelah melihat penampilannya yang sangat kacau.
untunglah setelah beberapa mobil yang lewati, akhirnya ada juga yang bersedia memberikan tumpangan.
Resti tidak langsung pulang kerumahnya, ia tidak mau membuat orang tuanya khawatir melihat keadaannya yang seperti sekarang ini.
Satu-satunya tempat yang bisa resti tuju sekarang hanyalah rumah rey.
Untunglah rey tinggal sendiri, orang tuanya terlalu sibuk dan kadang hanya sebulan sekali pulang ke rumah.
Ting tong ting tong ting tong...
Dengan tidak sabar resti memencet bel pintu rey beberapa kali
Rey pun keluar membukakan pintu untuknya.
"Resti...?" Pekiknya terkejut melihat resti dalam keadaan yang sangat kacau.
"Rey...." Jerit resti
Resti memeluk rey dan menumpahkan tangisannya kedalam pelukan rey.
"Apa yang terjadi?" Tanya rey penasaran
Rey memapah resti masuk dan menyuruhnya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Selesai mandi restu berbaring di tempat tidur rey dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kamu kenapa sih res..?" Tanya rey dengan hati-hati
"Cerita dong, jangan di simpan sendirian"
"Aku capek rey" sahut resti tanpa semangat.
saat ini resti tidak ingin mengingat hal buruk yang baru saja ia alami.
"Aku mau istirahat,.." Sahutnya di balik selimut
rey mengelus kepala resti dengan penuh perhatian
"Baiklah, kau bisa istirahat di sini dulu"
"aku akan menghubungi orang tuamu biar mereka tidak khawatir"
"rey..." panggil resti
"terima kasih sudah mau mengerti aku" ucap resti.
Rey hanya tersenyum menatap resti.
sepertinya rey sedikit banyak dia sudah bisa menebak yang apa yang telah terjadi pada resti, dan dia pun tidak memaksa resti untuk menceritakannya.
"aku keluar dulu"
"setelah tenang kau bisa menceritakannya padaku"
"Aku tidak akan mengganggumu lagi" ujar rey.
Rey sangat mengerti saat ini resti tidak ingin di ganggu, rey pun berdiri dan meninggalkan resti sendirian di kamarnya.
-Rey
-Sahabat baik resti
-Baik dan pengertian
__ADS_1
-to be continued