Mencintai Dengan Paksaan

Mencintai Dengan Paksaan
Bab 24 Perasaan takut yang mulai memudar


__ADS_3

Karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan nathan terpaksa harus meninggalkan resti dan lisa untuk sementara, ia berharap setelah ia menyelesaikan pekerjaannya dengan segera bisa kembali ke sisi resti bersama lisa putri kecil kesayangannya.


Sudah berminggu minggu nathan meninggalkan resti kembali ke negara asalnya, kehidupan resti pun berjalan normal seperti biasa selalu di sibukkan dengan kegiatan di toko dan mengantar lisa ke sekolah.


Hanya saja beberapa hari terakhir ini tokonya selalu kedatangan tamu yang tidak di harapkan, tamu yang selalu datang setiap jam makan siang dan baru akan pergi saat toko akan tutup pada jam sembilan malam.


Awalnya resti selalu mengabaikannya apalagi masih ada perasaan takut untuk berhadapan langsung jadi ia memilih untuk menghindarinya sebisa mungkin.


Namun karena chen tiap hari datang ketempatnya bahkan dengan muka tembok yang mulus licin tak ternoda ia membawa serta pekerjaan kantornya ke dalam toko resti.


Alhasil toko resti sekarang menjadi kantor kedua bagi chen.


Entah karena sudah mulai terbiasa dengan kehadiran chen atau memang karena ketulusan chen yang mencintai resti dan bersikeras ingin mendapatkan hati resti sepenuhnya, perlahan perasaan takut dan trauma terhadap sosok tampan itu sedikit demi sedikit mulai terkikis tanpa ia sadari.


Bahkan sekarang resti sudah berani menatap langsung ke arah bola mata chen, padahal dulu ia sangat takut dan selalu menunduk dan menghindar dari chen


"Apa kau tidak bosan setiap hari selalu datang kemari?" Resti akhirnya memberanikan dirinya untuk mengucapkan kata kata itu di hadapan chen.


Chen yang baru pertama kali mendengar resti berinisiatif berbicara padanya merasa seketika hatinya berbunga bunga hampir saja ia tidak bisa menahan senyum karena bahagia.


"Bisakah kau tidak mengganggu usahaku?" Lanjut resti tanpa menyadari perubahan pada wajah chen.


"Aku tidak pernah mengganggumu" Sahut chen tanpa menoleh kearah resti.


"Tapi kau setiap hari datang kemari..." Hampir saja resti kehilangan kendali pada dirinya


"Apakah pelanggan tidak boleh datang setiap hari?" Chen menghentikan kegiatannya dan berbalik menatap intens kedua bola mata resti yang langsung membuat resti merasa salah tingkah


"Apa? Pelanggan?!"


Wuah...


Resti memijit pelipisnya mencoba menahan emosinya


"Nona resti..."


"Bukankah aku setiap hari selalu membeli kue dan minuman di tokomu?"


"I...iya, tapi..."


"Bukankah itu artinya aku adalah pelangganmu?"


Memang benar setiap chen datang ke toko resti dia selalu memesan kue dan kopi terlebih dahulu untuk menemaninya mengerjakan pekerjaannya.


"Dan juga, aku tidak pernah mengganggu kalian bekerja yang kulakukan hanya duduk disini"


"Kalau cuma mau duduk duduk kau bisa mencari tempat lain, jangan di sini"


"Baiklah kalau nona resti merasa keberatan aku duduk disini, maka aku akan segera pindah" Ucap chen sambil membereskan barang barangnya.

__ADS_1


"Akhirnya orang ini bersedia juga untuk pergi" Batin resti penuh kemenangan


Setelah selesai membereskan barang barangnya chen pun berdiri dan berlalu dari hadapan resti.


Dengan santainya chen menarik kursi yang tidak begitu jauh jaraknya dengan tempat duduknya pertama tadi.


"Mau apa lagi..?" Tanya resti bingung


"Duduk, memangnya mau apa?" Sahut chen dengan wajah polos tak berdosa


"Bukankah tadi kau bilang akan pindah?"


"Nona resti, bukankah tadi kau yang tidak mengijinkan aku duduk di situ, itu sebabnya aku pindah kesini...."


"Ya tuhan...." Resti memijit kepalanya yang tiba tiba berdenyut karena tekanannya yang langsung naik.


"Maksudku bukan disitu, di sana di luar..." Resti melengos kesal sambil menunjuk ke arah luar, emosinya makin tidak dapat di tahan, kepalanya penuh asap tebal berwarna hitam.


"Aku tidak mau, di luar panas" Elak chen dengan santai


Huff


Resti menarik napas dalam dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan, ia lakukan beberapa kali guna menetralkan pikirannya dan berusaha sabar, tabah dalam menghadapi cobaan yang ada di depan mata ini.


"Tuan chen, apakah kau tidak punya kantor sendiri?" Sindir resti dengan menahan kesal.


"Lalu kenapa kau setiap hari mengerjakan pekerjaanmu di sini?"


"Apa kau tidak sadar kehadiranmu itu sangat mengganggu, terlebih lagi kau tanpa malu menggunakan internet kami sesuka hatimu.."


"Apa kantormu tidak memiliki jaringan internet?" Lanjut resti


Yang diajak bicara hanya diam tak membalas sepatah katapun, makin membuat kekesalan resti hampir meledak.


Drrrrt drrrrt drrrrt


Untunglah sebelum gunung kekesalan resti meletus dan menghamburkan lahar panas ponselnya bergetar memberitahukan panggilan video dari nathan.


"Hai nat..." Sapa resti dengan ceria begitu ia mengangkat panggilan video dari nathan.


Raut wajahnya seketika berubah cerah kembali.


"Cih, dia merubah sikapnya begitu cepat" Gumam chen yang tidak suka ketika mengetahui yang menghubungi resti itu adalah nathan.


Mendengar yang menghubungi adalah nathan chen menghentikan fokus kerjanya telinganya langsung membesar seketika.


"Kau masih di toko?" Tanya nathan begitu melihat pemandangan yang ada di belakang resti.


"Eum, sebentar lagi sudah mau tutup" Balas resti

__ADS_1


"Jangan terlalu malam pulangnya kasian lisa"


"Iya, ini juga sudah bersiap mau pulang"


"Apa kau sudah makan malam?" Tanya resti penuh perhatian kepada nathan.


Dasar wanita tak berperasaan, aku seharian duduk di sini tidak pernah di tanya sudah makan apa belum, bahkan di kasih minum pun tidak pernah.


Seketika batin chen bergejolak mendengar pertanyaan resti yang bernada penuh perhatian kepada nathan.


"Ingat jangan suka melewatkan waktu makan" Lanjut resti


Brakkkk


"Aku pulang dulu" Pamit chen sengaja membesarkan suaranya agar bisa di dengar oleh nathan.


sebelum pergi meninggalkan toko resti, chen berbalik menatap kearah resti seraya tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Dasar sin*ting, pulang saja sana siapa juga yang melarang" Omel resti sambil menjulurkan lidahnya.


"Siapa res...?" Tanya nathan penasaran


"Bukan siapa siapa, hanya orang gila yang sering mampir ke toko ini" Sahut resti asal


"bagaimana bisa, kenapa kau tidak melaporkannya?"


"Apa dia sering mengganggumu?" Tanya nathan cemas


"Tidak apa apa, aku bisa mengatasinya"


"Sangat aneh, kenapa keamanan di wilayahmu sangat longgar, membiarkan orang yang tidak waras berkeliaran di jalanan begitu saja" Nathan masih tidak tahu kalau orang yang di maksud resti adalah chen.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan" Resti yang mendengar nathan mengeluh jadi sedikit merasa bersalah terhadap petugas keamanan di wilayah pertokoannya, padahalkan mereka sama sekali tidak tahu apa apa.


_


_


_


Di rumah chen


semenjak pulang dari tempat resti chen tidak henti hentinya mengembangkan senyum di wajahnya, sudah sejak lama ia tidak merasa sesenang dan sebahagia ini.


hari ini adalah pertama kalinya resti memulai untuk mengajaknya bicara meskipun sebenarnya lebih tepatnya memarahinya namun chen sudah merasa sangat senang atas perubahan sikap resti itu membuktikan kalau resti sudah tidak takut lagi terhadap dirinya.



-----TBC

__ADS_1


__ADS_2