Mencintai Untuk Terluka

Mencintai Untuk Terluka
Keluh kesah Reno


__ADS_3

"Kata siapa gue ga bisa main?" Ujar hati Reno.


Seketika bola tidak ada digenggaman tangan siapa-siapa, Reno segera berlari dan menyergap bola tersebut, saat didekat ring, ia mencoba shoot dan bola memasuki ring!


Skor 2-2.


Permainan berikutnya, Reno semakin mendominasi. Ia mencetak beberapa skor dan menyaingi skor tim Zayn. Zayn yang melihat hal itu, tidak bisa menerima. Saat Reno ingin mendribble bola, ia mendorong Reno dengan kencang sehingga Reno terjatuh dan kakinya menimbulkan luka sedikit.


"Eh maap ga sengaja". Cetus Zayn dengan santai dan tidak memerdulikan Reno.


Wajah Reno tampak menahan sakit karena kaki sebelah kirinya terluka. Darah mengalir sedikit dan ia tidak bisa bangkit berdiri.


Melihat itu, pak Herman menghampiri mereka berdua dan mengangkat sebuah kartu kuning sebagai tanda pelanggaran dalam permainan bola basket.


Tak lama Pak Herman memarahi Zayn.


"Zayn, kamu ini gimana sih, kasar banget mainnya."


"Iya maap pak, namanya juga gak sengaja". Balas Zayn kepada Pak Herman.


Pak Herman menghela nafas nya sejenak lalu menghembuskannya.


"Yasudah minta maaf sama Reno kalau begitu".


Tanpa membalas perkataan pak herman, Zayn meminta maaf kepada Reno


"Eh gue minta maaf ya" singkat Zayn. Wajahnya tidak tulus dan seperti bukan orang yang ingin meminta maaf.


"Yang bener atuh kalau minta maaf! Jangan sampai bapak suruh kamu jalan jongkok nih atas ulah kamu!" Kata Pak Herman dengan nada tinggi, hampir marah dan emosi atas kelakuan Zayn.


Zayn tampak semakin jengkel, dan menarik nafasnya dalam dalam.


"Reno sayangg, aku minta maaf yaa, aku janji ga bakal ulangin lagi, maafin aku. Aku ngaku salahh, udah pak, puas?" Tanya Zayn dengan sangat terpaksa.


Pak Herman mengerutkan dahinya dan menatap Zayn dengan terheran heran. Baru kali ini, ia melihat anak dengan tingkah laku seperti itu. Bukannya merasa bersalah, dan minta maaf dengan tulus, malah sama sekali tidak merasa salah.

__ADS_1


"Yasudah, yasudah. Reno, sekarang kamu ke UKS gih, bisa berdiri gak?" Tanya pak Herman pada Reno yang kesakitan.


"Aduh ga bisa pak". Kata Reno menahan sakit di kakinya.


"Uuuu cupu gitu aja sakit".


"Baru kedorong dikit udah jatoh sakit dasar payah".


"Lemah hahaha".


(Seluruh murid menyoraki Reno.)


Diandra segera menghampiri Reno Dan berkata.


"Biar saya aja pak, yang bawa Reno ke UKS".


Pak Herman mengangguk.


"Baik, Dian kalau begitu, silahkan". Pak Herman mempersilahkan Diandra untuk membopong Albert.


Gadis itu mengangkat tangan Reno ke lehernya, dan ia menopang Reno untuk berjalan.



Diandra tampak mengompres kaki Reno dengan es batu dibaluti kain karena ini cara yang ampuh supaya kaki Reno bisa cepat pulih.


"Kurang ajar tuh ya si Zayn. Sengaja banget tadi gue liat dia dorong lo". Kata Diandra sambil fokus mengompres kaki Reno.


Namun, Reno tidak mendengarkan apa yang dikatakan Diandra, ia menatap lurus Diandra yang sedang berusaha menyembuhkan kakinya.


"Eh aduh, ngilu" wajah Reno kesakitan.


"Eh sorry-sorry ga sengaja, yaudah pelan pelan ya gue tempelinnya". Kata Diandra sambil mengompres kaki Reno dengan es secara perlahan.


Reno hanya melamun. Tampak ia mengeluarkan tetesan air mata, wajahnya memerah, ia mulai menangis.

__ADS_1


"Nah udah, dijamin ini pasti bakal sembuh". Kata Diandra sesaat sebelum ia melihat Reno menangis.


Diandra terkejut melihat Reno yang menangis, ia membasuh air matanya itu dengan kedua tangannya sendiri.


"Lo kenapa nangis? Gara gara sakit? " Tanya Diandra dengan lembut.


Secara emosional, Reno benar benar sangat lelah. Lagi lagi, dia harus menerima setiap caci maki, kedengkian, kebencian dari setiap murid dikelas. Ia sudah tidak tahan lagi, Reno merasa, dunia ini tak adil. Padahal ia tidak melakukan apapun yang salah dimata mereka, lalu mengapa harus dirinya yang dibully? Dan juga, masalah perasaannya kepada Diandra yang tidak bisa terbalaskan. Semua ini menjadi kebebanan bagi Reno.


"Bukan, bukan soal sakit. Tapi karna gue ga ngerti. Kenapa sih harus gue yang dibenci? Salah apa gue dimata mereka?". Curah keluhan Reno pada Diandra.


Diandra hanya bisa menenangkan sahabatnya itu. Ia mengerti apa yang dirasakan Reno, memanglah tidak adil. Bahkan sangat tidak adil.


"Yang sabar Ren, bentar lagi kita bakal ujian dan lulus, lo bisa kok pindah ke sekolah lain, dan gak ketemu lagi sama mereka mereka." Gumam Diandra sambil memberikan tisu kepada Reno.


"Ini ga adil, bener bener ga adil. Gue dibully, di hina, dibenci. Rasanya gue pengen mati aja!!" Ucap Reno, ia menyesal mengapa ia harus dilahirkan karena sejak dulu masalah selalu datang di hidupnya. Baik masalah di keluarga, di sekolah, dan juga masalah perasaan.


"Eh lo kok ngomongnya gitu, jangan! Lo ga boleh mati, justru lo harus maju hadepin mereka! Gue ada disebelah lo buat ngedukung lo. Jangan nyerah. Come on!" Ucap Diandra memberi semangat kepada Reno.


"Ya habisnya gue adalah orang yang sial dihidup ini. Lo tau kan keluarga gue kondisi nya gimana, apalagi soal ayah gue, sekarang gue dibully sama mereka dan juga gue cinta sama orang yang ga cinta gue". Kata Reno menyesal dan keceplosan.


Diandra tercengang dengan perkataan Reno. Ia membelakkan kedua bola matanya lantaran terkejut.


"Hah apa tadi lo bilang? Cinta sama orang yg ga cinta? Maksudnya?" Kata Diandra dengan nada tinggi, apa ia salah dengar?


Reno seketika baru menyadari perkataannya, ia keceplosan.


"Eh maaf. Lupakan aja."


Didalam ruang UKS itu, Reno mengutarakan seluruh keluh kesah nya pada Diandra tentang apa yg dirasakan, saat ia di hina. Reno mengeluarkan tetesan air mata, tetapi Diandra tampak menghapus air mata itu. Setelah agak reda, wajah Reno menjadi sembab. Ia terbaring tak berdaya. Melihat kondisi mental Reno yang tertekan, Diandra tidak tega.


"Ren, nanti gue ijinin ke guru ya. Lo ga perlu ikut jam pelajaran selanjutnya setelah olahraga, istirahat disini aja.". Kata Diandra.


Reno hanya mengangguk perlahan, kini ia terbaring, dan tertidur dengan pulas. Diandra menatap Reno dengan tatapan yang sangat dalam dan berkaca-kaca. Tatapan itu sangat berarti.


"Kasian lo, harus nanggung beban dari dulu. Tapi lo adalah orang yg paling kuat, gue ga bisa bayangin kalau gue diposisi lo, mungkin gue udah bunuh diri". Batin Diandra, sambil menatap Reno yang tertidur karena saking lelah jiwa nya menangis.

__ADS_1


Melihat Reno tertidur pulas, Diandra meninggalkan ruang UKS, dan segera ijin supaya Reno tidak mengikuti pelajaran selanjutnya, karena ia sedang istirahat.


2 jam setelah itu, Reno terbangun dari tidurnya yang pulas. Ia pergi ke toilet sebentar, untuk mencuci wajahnya yang sembab akibat menangis tadi. Lalu Reno mengikuti pelajaran selanjutnya sampai pulang sekolah.


__ADS_2