Mencintai Untuk Terluka

Mencintai Untuk Terluka
Kepulangan Diandra ke Jakarta


__ADS_3

"Iya, gue kerja disini juga udah lama hahaha." Sambung pria yang dulu pernah membully Reno tersebut.


Putri terheran heran melihat keakraban mereka berdua. Ia pun menyela pembicaraan Zayn dan Reno.


"Jadi kalian udah saling kenal sebelumnya"? Tanya Putri dengan nada tinggi, karena terkejut.


Para karyawan lain, saat itu tidak fokus dan melirik Putri, Reno dan Zayn yang sedang berbincang-bincang.


"Stt, jangan kenceng-kenceng, ganggu karyawan lain yang lagi kerja, put". Jawab Zayn dengan pelan.


Putri tertawa kecil karena malu, tidak bisa mengontrol nada bicaranya saat terkejut.


"hehe ya maaf kali. Ga sengaja. " kata Putri sembari menggosok kepalanya.


"Jadi gimana kalian emang udah kenal lama?" Tanya nya sekali lagi dengan pelan.


Reno menunjuk Zayn dengan jari telunjuknya.


"Dia nih dulu kalau lo mau tau, musuh gue semasa SMP haha, tukang ngebully tapi sekarang udah jadi temen, ya gak Zayn?".


Zayn hanya tersenyum malu jika mengingat ngingat masa sekolah nya dulu dengan Reno. Terlebih dengan Diandra yang kini sudah tidak ada kabarnya. Saat itu kebersamaan mereka bertiga tampak saat berbincang bincang. Putri sebagai wanita satu satunya disitu, menjadi pengganti Dian untuk sekejap.


"Eh Ren, by the way gimana kabarnya si Dian, cewek yang dulu ambis dan sinisnya sadis bener ke gue haha?" Tanya Zayn melenceng dari topik pembicaraan.


Sahabat Diandra itu hanya terbungkam dengan pertanyaan Zayn. Ia menghembuskan nafasnya sejenak dan seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih.


Zayn mendekatkan wajahnya ke arah nya dan melihat Reno yang tengah melamun.


"Kenapa lo ? Kok sedih bahas Dian? ". Tanya Zayn penasaran. Karena tidak biasanya Reno murung jika membahas tentang gadis itu, dulu saat sekolah. Lagipula mereka berdua adalah sahabat yang benar-benar lengket dan tak dapat dipisahkan. Kini, Zayn yang menanyakan sahabat Reno itu.


Tanpa Reno melanjutkan kata-katanya. Zayn menduga yang tidak-tidak kepada Diandra.


"Ren, jangan bilang kalau Dian..... Kalau dia udahh?? (Meninggal)". Zayn membelakakan kedua bola matanya.


Saat itu, Reno memarahi Zayn yang berbicara sembarangan.


"Stt, jangan sembarang lo. Gue akuin gue sedih, iya. Gue sama Dian udah lost contact 4 tahun yang lalu, dan sekarang gue gak tau gimana kabar dia di Australia sana..."


Zayn tampak mengelus pundak Reno dan menghiburnya.


"Yang sabar ya, Ren. Semoga nanti lo ketemu sama Dian. Kalau udah ketemu Dian bilang juga ya ke gue, kangen haha". Zayn tertawa kecil.


Reno melirik Zayn sekilas. Tatapan dari kedua matanya, membuat laki-laki itu takut. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sementara Putri bertanya kepada Reno

__ADS_1


"Diandra yang tadi kalian bahas itu siapa?". Tanya Putri sambil mengunyah sebuah risoles yang ia ambil dari dapur kantor.


Reno menjawab dengan suara lirih dan pelan


"Sahabat lama gue, sekarang gak ada kabar".


"Walah sahabat macam apa itu yang tega ninggalin, ga ada kabar. Yang sabar ya, Ren hahaha". Jawab Putri dengan sedikit wajah menggoda.


Reno menatap gadis itu dengan sinis, karena berani beraninya ia mengatai Diandra yang tega meninggalkan nya. Putri pun mengalihkan pandangan menuju ke komputernya. Ia takut dengan tatapan mata Reno, semenjak ia berani bertanya perihal Diandra.


Reno POV


"Jangan-jangan apa yang dikatakan Zayn ada benarnya. Jangan-jangan, Dian ga ada kabar sekarang, karena dia udah ..... (Meninggal)"


Namun hatinya berkata lain.


"Ah ga mungkin Ren. Jangan mikir yang ngada-ngada, pasti Dian masih hidup. Belum ketemu aja sekarang". Batinnya merana, ia tampak merindukan sahabat terbaik nya itu dan memikirkan berulangkali perkataan Zayn tadi.


Bagaimana Diandra sekarang....


Apa kabarnya....


Dia sedang apa...


Sedang bersama siapa....


....



Diandra dan keluarganya telah mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Jika sewaktu ia pergi ke Sydney, ada yg menemaninya yaitu Reno. Kini, kepulangannya tidak disambut siapa-siapa. Mungkin Rio, yang akan bertemu dengannya nanti.


"Jakartaaaa, I'm here now". Ucap gadis itu sembari menarik nafasnya dalam-dalam.


Untung saja, rumah yg mereka tinggali dulu, belum mereka jual. Sehingga Diandra dan keluarganya, kembali ke rumah nya dulu, yang penuh dengan kenangan.



Sebelum pulang ke rumahnya, Diandra ingin sekali mengunjungi rumah Reno, siapa tahu ia bisa mendapat kabar terbaru tentangnya.


"Semoga, dia ada dirumahnya.." imbuh Diandra dalam hatinya.


Ditemani kedua orang tuanya, Diandra mengunjungi rumah Reno. Dan melihat bahwa semua rumah itu kosong seperti tak ada penghuni. Gadis itu pun mencoba bertanya kepada orang sekitar, yang tak lain adalah tetangga Bu Sumi dulu.

__ADS_1



"Hmm permisi Bu, mau numpang nanya. Ini rumahnya, Reno dan Bu Sumi kan ya?". Tanya Diandra mendekati seorang ibu-ibu, yang merupakan tetangga Bu Sumi.


"Waduh non. Sumi dan anaknya sudah pindah, gak disini lagi". Jawab ibu itu kepada Diandra.


Diandra tersenyum dan mencoba bertanya lagi.


"Kalau boleh tau, pindah kemana ya, Bu? Hehe".


Ibu-ibu itu menggaruk kepala dan wajahnya tampak kebingungan.


"Wah saya kurang tahu deh, soalnya gak ada info dari Sumi maupun Reno-nya".


Wajah Diandra tampak putus asa setelah mendengar pernyataan ibu itu. Ia mencoba menghubungi Reno semenjak di Sydney, namun nomornya tidak terhubung. Kini, ia datang langsung ke rumahnya pun, Reno dan Bu Sumi sudah pindah.


Gadis itu menggoreskan senyum di pipinya dengan sedikit terpaksa.


"Oke deh makasih banyak ya bu".


Bu Laura dan Pak Wandy mencoba menenangkan dengan mengelus pundak anak semata wayangnya. Mereka tahu, Diandra kecewa karena Reno dan Bu Sumi tidak lagi tinggal disitu.


Dengan berat hati, Diandra dan keluarganya mengangkat kaki dari rumah Reno yang dulu. Sesekali Diandra menatapi kembali, rumah kuno itu, penuh dengan sepotong kenangan dirinya bersama Reno.


...


(Sesampainya di rumah Diandra)


"Wah kangen banget sama rumah ini, setelah 4 tahun". Kata Diandra sambil memegang tasnya, penuh bersemangat.


Saat itu, kondisi rumah sangat kacau balau dan tidak tertata rapi. Bu Laura dan Pak Wandy segera mengeluarkan dan menata barang-barang mereka dari koper. Tak lupa Diandra ikut membantu beres-beres.


Ditengah, keluarga yang sedang merapikan rumah itu, Pak Wandy dan Bu Laura baru teringat, bahwa putrinya harus segera mendaftar kuliah.


"Dian, kamu sudah menemukan tempat kuliah yang cocok disini?" Tanya Bu Laura sambil merapikan dapur.



Diandra mengangguk. Sebelum ia pulang dari Sydney, ia sudah mencari cari Universitas yang bagus di Jakarta. Pilihannya tepat pada Universitas xxxxx xxxxx, yang tak lain adalah kampusnya Reno juga.


"Universitas xxxxx xxxxx mah, tau kan?" Tanya Diandra memastikan.


"Kamu mau ambil jurusan apa?" Sambung Pak Wandy yang tengah duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Diandra dengan penuh keyakinannya, menjawab.


"Jurusan Sastra Indonesia pah. Dian ingin jadi penulis buku yang hebat hehe". Jawabnya.


__ADS_2