Mencintai Untuk Terluka

Mencintai Untuk Terluka
Reno datang ke rumah Diandra


__ADS_3

Zayn dan teman temannya segera meninggalkan ruang kelas. Sementara itu Diandra masih dikelas bersama Reno.


Reno tampak ketinggalan materi pelajaran saat tadi ia disuruh keluar kelas untuk mengeringkan diri. Sementara itu, jadwal ujian sudah keluar dan akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Ia benar benar harus mengejar materi secepat kilat. Satu satunya orang yg dapat mengajarinya adalah Diandra. Kalau tidak siapa lagi?


"Hm. Ketinggalan pelajaran deh. Gimana yah... 2 minggu lagi ujian, malah gue bodoh banget lagi gak ngerti apa apa. Eh ya gue kan bisa minta bantuan Dian. Apa Hari ini gue minta diajarin ke rumahnya aja ya?" Imbuhnya Dalam hati.


Dengan segan segan, Reno bertanya kepada Diandra. Awalnya ia ragu karena takut hari ini, Dian ada kesibukan sehingga ia tidak bisa main main ke rumahnya.


"Hmm Dian". Panggil Reno kepada sahabatnya itu.


"Iya kenapa?" Jawab Diandra menoleh kepadanya.


Reno menggaruk kepalanya dengan tangan, dan berbicara terbata bata.


"Ha.. Hari ini.. gue boleh ke rumah lo gak? Ta.. tadi gue kan disuruh keluar kelas sama Bu Melly, jadi ketinggalan pelajaran. Yah sekalian main main dirumah lo, kan gue udah lama gak kesana. Sekaligus kalau ada waktu kita bahas buku dan lanjutan cerita lo itu hehehehe". Kata Reno malu malu kucing.


"Oh iya boleh tuh. Santai aja. Oke dateng aja ke rumah gue. Tanya sepuas lo materi yang lo ga ngerti gue ajarin haha". Kata Diandra menepuk pundak sahabatnya.


Reno tampak senang dalam hatinya. Karena Hari ini, ia diperbolehkan untuk datang ke rumah Diandra.


"Oke jam 4 ya?" Tanya Reno kepada Diandra.


Diandra memberikan jempolnya kepada Reno sebagai tanda setuju!


....


(Sebuah perbincangan para guru diruang guru).



"Bu Melly, tadi saya melihat Reno, diluar keadaannya basah kuyup. Dia tidak mengikuti pelajaran ibu dikelas 9A, ada masalah apa bu?" Tanya Bu Wati (guru pelajaran bk).


"Benar bu, tadi saya juga lihat dia basah, ada apa ya?" Tambah Pak Dimas (guru biologi).


Bu Melly menarik dan menghembuskan napasnya perlahan. Sebenarnya ia lelah, lagi lagi diperbincangkan tentang perseteruan itu. Padahal semua sudah berlalu. Ia tidak ingin kelasnya itu menjadi bahan perbincangan diruang guru. Karena jika kelas 9A di cap sebagai kelas dengan selalu adanya pembully-an, maka bu Melly sebagai wali kelas akan di reputasi jelek dan dianggap tidak bisa mendidik anak anak dikelas dengan baik.


Dengan ikhlas, bu Melly mengeluarkan beberapa kata.


"Saya sebenarnya juga nggak tahu ya. Tiba tiba saat jam pelajaran saya masuk, saya melihat Reno basah kuyup. Pas saya tanya," kamu maen air ya?". Dia bilang "nggak bu, tadi ada yg ngerjain dan sirem saya dari atas wc". Terus pas saya suruh ngaku 1 kelas, ga ada yg mau ngaku. Diandra, sahabat nya Reno nuduh Zayn yang ngelakuin. Tapi karena ga ada bukti, saya suruh mereka satu per satu minta maaf ke Reno, Dan Reno nya saya suruh keluar, mengeringkan diri karna ga bisa ikut pelajaran, daripada pembelajaran jadi ga nyaman kan." Pembelaan dari Bu melly.


Pak adit (guru Bahasa Indonesia) menambahkan "walah gitu toh ternyata. Iya benar juga sih, kita ga ada bukti buat menuduh. Tapi saya salut loh sama ibu, ibu tegas menentukan keputusan".


Bu Siska, kepala sekolah SMP Harapan Bangsa, ia terkejut dan menghampiri bu Melly, mengulurkan tangannya


"Sebelumnya, saya sangat apresiasi Bu Melly, selamat ya bu! Ibu bijak banget dan tegas. Saya bangga dengan ibu Melly".

__ADS_1


Bu melly tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada bu Siska.


"Kalau dengan keadaan situasi seperti ini. Saya ingin membuat keputusan, Sekolah SMP Harapan Bangsa harus memasang cctv, apakah para guru guru setuju?" Tanya bu siska, didepan ruang guru.


Semua guru saat itu setuju dengan keputusan bu Siska. Alhasil, pemasangan cctv akan dilakukan, lusa dihari kamis.


....


Waktu berlalu. Pukul sudah menunjukkan jam 4 sore.


Tampak seorang lelaki yang berdiri didepan rumah berdominan warna putih terbentang luas dengan tamannya. Siapa lagi kalau bukan Reno? Yang sudah berada didepan rumah Diandra. Kali ini pakaiannya sangat rapi. Ia memakai celana panjang, dan tak lupa ia sudah mandi sebanyak 2 kali, supaya tidak bau badan saat berjumpa Diandra dan kedua orang tuanya. Berkali kali, Reno mencoba mengecek nafasnya dengan menghembuskan ke telapak tangan kanan dan menghirupnya. Tadi ia sudah sikat gigi juga.



Reno pun memencet tombol bel yang ada disebelah kanan pintu rumah Diandra.


"Permisi tante, Diannya ada?" Tanya Reno tersenyum ramah kepada Bu Laura


"Oh ada, masuk aja Ren". Kata Bu Laura mempersilahkan Reno masuk ke dalam rumah.


Lalu mereka perlahan melangkahkan kakinya ke koridor ruang tamu dan masuk ke dalam rumah.


"Santai aja Ren, anggap rumah sendiri haha" canda pak Wandy kepada Reno.


Sesampainya Reno yang berdiri diruang tamu, Diandra mengajak Reno untuk naik ke lantai atas, kamarnya yang pintunya sudah terbuka lebar.


"Eh gaus... Ah..." Pinta Reno yang terlambat mengatakan karena Diandra sudah pergi ke lantai bawah untuk membawakan cemilan sebelum Reno menyelesaikan kalimatnya.


Karena Diandra sedang berada didapur untuk mengambil beberapa cemilan, Reno melihat lihat ke sekeliling kamar Diandra. Menarik baginya. Terlihat kamar yang sangat unik, ada beberapa gantungan, dan ada balkon di kamarnya. Yang paling menyita perhatian adalah ada beberapa lembaran secarik kertas berisikan puisi, cerita cerita yang Diandra tulis.



Reno memegang sebuah secarik kertas yang berisi puisi, dibacanya lah dalam hati.


......


***Judul :


[merana]


Ah aku lupa berapa lama aku sudah memendam rasa ini..


Semenjak itu.


Seutas luka masih membekas di hati.

__ADS_1


Membuatku jadi sendu candu.


Hening. Sudut sudut ruang menemaniku..


Terdengar suara jangkrik malam.


Sangat berisik


Dan menyekik.


Lembar lembar buku berterbangan.


Hampa. Kosong. Tak terisi sebuah tulisan.


Aku lupa sudah berapa lama ini aku tak lagi menulis.


Tinta hitam tak terbiar sepi di sana.


Hujan tak lagi memberi kenangan.


Goresan goresan tawa.


Singgah dalam sebuah lukisan


Bayang bayang hitam tanpa warna.


Bulan diselimuti langit menghiasi angkasa.


Ruang semu hadir meninggalkan bahagia.


Malam yang penuh dengan aksara.


Tanpamu, aku merana*..


......


"Bahasa yang sangat menyentuh". Dalam sekejap, senyum mulai merekah di wajah Reno. Ia tampak terpikat dengan puisi yang dibuat oleh Diandra hingga ia mulai menitikkan sedikit air mata. Hatinya tersayat dan tersentuh ketika melihat puisi yang bermakna dalam.


Ia kembali menyentuh secarik kertas lain, Kali ini isinya quotes :


......


"Wanita yang paling bahagia di dunia ini adalah wanita dibahagiakan oleh pria yang kelak akan menjadi pasangan hidupnya. Pria yang berhasil membuat hatinya terasa seperti tak pernah patah sekalipun. Pria yang tak tega apabila ia harus menyakiti hati seorang wanita itu. Sungguh wanita beruntung".


......

__ADS_1


Tangan Reno bergetar memegang quotes itu. Saat membaca quotes yang dibuat sahabatnya itu, ia menatap tajam, menarik nafasnya sejenak dan menstabilkan dirinya. Terutama detak jantungnya yang berdegup sejak membaca quotes tadi.


"Dan lo selama ini gak tau. Kalau gue adalah pria itu. Pria yang mencintai lo sepenuh hati, Dian". Imbuh Reno Dalam Lubuk hatinya yang paling dalam.


__ADS_2