Mencintai Untuk Terluka

Mencintai Untuk Terluka
Buku harian Diandra


__ADS_3

Gadis itu memang mahir dalam menulis. Kemampuan menulisnya sudah terlihat semenjak Dian berumur 5 tahun. Kala itu, ia senang menonton dunia fantasi. Imajinasi mulai muncul dikepalanya. Barulah pada berumur 14 tahun, tepatnya setahun yang lalu, Dian sering membaca novel dan mulai menemukan inspirasi menulis. Termasuk juga, ia senang dengan cerita berbentuk romansa.


Bahkan bahasa yang ia cantumkan, tidak sembarangan. Ia selalu melibatkan perasaan terdalamnya, dan juga bahasa yang seakan membuat pembaca turut haru merasakannya dalam dunia nyata.


Reno membereskan beberapa tumpukan carik kertas tadi ke tempatnya semula. Di sebelah tumpukan kertas itu, ternyata ada buku harian Diandra yang tertata rapi diatas meja belajar.



"Ah ini buku harian Dian, kira kira isi nya apa ya? Apakah ada gue didalem buku ini?" Batin Reno bertanya tanya dalam hatinya.


Karena di geluti rasa penasaran yang luar biasa, Reno mencoba menyentuh buku itu dan membukanya. Ia membaca sedikit..


Jakarta, 16 Januari 2014.


"Entah sampai kapan Dian harus menunggu. Sebuah hati yang berujung tidak ada kejelasan. Sebenarnya Dian ingin, merasakan apa itu cinta dan sosok tambatan hati, sosok pria yg bisa mengisi hari hari Dian dengan senang. Namun apalah daya, Dian Belum menemukan sosok itu....


Reno menatap buku harian Diandra sejenak dan berpikir, ternyata.. memang Diandra tak pernah menganggapnya lebih dari seorang sahabat. Perasaan memang tidak bisa dipaksa. Kadangkala, ada saat dimana mencintai dan dicintai tak bisa berpadu. Dimana saat kita mencintai seseorang, bukan berarti seseorang itu bisa mempunyai perasaan yang sama.


Dari isi buku harian Diandra, gadis itu tampak memikirkan, kapan dirinya akan bisa merasakan perasaan cinta, dan ia menginginkan sosok Yang bisa membuat perasaannya beralih bahagia, penuh cinta.


Sementara Yang ia rasakan pada Reno, hanya bahagia sebatas sahabat.


Setelah membaca sedikit, ia tampak sakit hati karena telah tahu kebenarannya, bahwa saat ini tidak ada sosok yang membuat Diandra terpana. Hatinya sesak sembari memegang buku itu.


"Ah betapa beruntungnya laki laki yang kelak bisa mendapatkan hati Dian." Pikir Reno.


Lalu Reno membuka halaman berikutnya


Jakarta, 17 Januari 2014


Hari ini Dian senang, karena bisa main Sama sahabat Dian, yaitu Reno....


Belum sempat Reno, membaca kelanjutannya. Ia mendengar suara langkah kedua kaki. Diandra pun menaiki satu per satu anak tangga, sembari memegang dua gelas jus jeruk dan beberapa piring macaroon, kue tart kecil.




Reno terkejut, ia segera mengembalikan dan merapikan buku harian Diandra ke tempatnya semula, lalu berpura pura tidak tahu, melihat ke sekeliling kamar Diandra.


"Tada, yuk kita belajar!". Pinta Diandra memasuki kamar dan menutupi pintu dengan kaki sebelah kanannya.

__ADS_1


"Eh iya, yuk". Kata Reno sedikit gugup.


2 jam lamanya mereka membahas materi pelajaran, terutama matematika. Reno yang tidak mengerti, bertanya kepada Diandra.


"Eh Yang no 2 ini gimana yah?" Tanya Reno menyodorkan bukunya kepada Diandra.


"Oh Yang ini kalau ini, tinggal dimasukkin aja 2x +5y \= 9 kan jadi masukkin aja, x \= 3. Maka 2 kali 3 + 5y \= 9. Terus..." Kata Diandra sambil menjelaskan dan menulis coretan disuatu kertas.


Reno yang ada disebelah Diandra, melihat sesekali ke arah Diandra. Bukannya fokus ke pelajaran, ia menatap sahabatnya dan melamun.


"Nah jadi karena begini, hasilnya sama dengan..." Belum sempat Diandra melanjutkan, ia melihat ke arah Reno disebelahnya.


Lalu Diandra membunyikan jari jempol dan telunjuknya.


"Bengong aja, jangan bengong nanti kerasukan setan!" . Imbuhnya.


Reno terkejut. Sedari tadi, ia tidak fokus belajar, malah menatap ke arah Diandra terus. Hatinya terkagum kagum akan gadis itu.


"Cantik, pintar, mahir menulis, baik pula". Baginya Diandra adalah gadis Yang sempurna.


....


"Eh iya sorry, tadi pikiran gue lagi kosong makanya melamun, ayoo lanjut gimana tadi?" Tambah Reno.


Tangan Reno mulai mencoba mengambil sesuatu di tas ranselnya.


"Eh mau ngambil apa tuh Ren". Gumam Diandra penasaran melihat ke arah Reno.


Reno tersenyum, "rahasia! Sebentar ya!"


Diandra melemparkan senyumnya dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya, sahabat sudah lama tapi masih saling merahasiakan.


Lalu Reno mengeluarkan buku "best friend for love" Yang waktu itu dia pinjam dan menunjukkannya pada Diandra.


"Ini udah selesai gue baca, ceritanya bagusss bangett". Ungkap Reno, membanggakan buku tersebut.


"Ohhh ya? Gimana gimana ceritanya? Coba ceritain dongs". Diandra tersenyum menatap Reno.


Kali ini, Reno memberikan isyarat jari telunjuk dibibirnya, pertanda "rahasia".


"Eh ga boleh tau dong, nanti gue bocor. Mau tau kelanjutannya? Rahasiaa" kata Reno tersenyum.

__ADS_1


"Ih rahasia mulu, udah ah males nih". Diandra memanyunkan bibirnya.


Reno tertawa melihat wajah Laura yang sudah tampak bete dan bibirnya manyun seperti bebek.


"Hahaha engga ngga, ga gitu kok. Hmm kalau lo penasaran yuk kita tukeran buku. Lo udah selesai baca belum buku yg waktu itu lo pinjem?"


Diandra menggaruk kepalanya.


"Ehehehe, belum selesai. Soalnya gue ga ngebut bacanya. Minggu depan ya, kita tukeran. nanti gue baca lagi."


"Oke, sip minggu depan, janji ya?" Reno memberikan kelingkingnya, membuat perjanjian dengan Diandra.


Diandra mengaitkan jari kelingkingnya.


"Janji!"


"Eh ya, kok lo baca nya cepet banget bisa selesai dalam 1 Hari?" Tanya Diandra penasaran.


"Iya soalnya, kemaren gue ngebut baca dari siang sampe malem, penasaran banget. Eh ya, Kita lanjutin cerita "my sunshine on you" itu aja, waktu itu ga lanjutin kan". Jawab Reno.


Lalu setelah membahas buku, mereka kembali melanjutkan cerita yang ditulis Diandra, yang sempat tertunda. Dibuku my sunshine on you itu berkisah seorang pria yang hidupnya kesepian, dan mendambakan pendamping dihidupnya.


Reno memberi beberapa ide dan inspirasi di cerita itu.


"Eh gimana kalau ceritanya gini, si cowo yang tadi nya kesepian, dia menemukan seorang cewek, ga sengaja terus happy ending".


Diandra mengangguk setuju


"Hmmm boleh tuh, oke gue ada gambaran".


Mereka melanjut menulis hingga kira Kira pukul 8 Malam, Reno pamit pulang kepada Diandra dan kedua orangtuanya.


Sesampainya, Reno dirumahnya..


"Baru pulang Ren, gimana? Seru tadi dirumah Dian?"


Seru Bu Sumi kepada anaknya.


"Wah iya bu. Seruu. Tadi belajar bareng hehe, udah ya Reno ke kamar dulu". Kata Reno kepada ibunya.


Satu per satu anak tangga, di langkahi Reno. Ia langsung pergi ke kamarnya yang kecil itu dan merapikan diri.

__ADS_1


Dikamar, ia tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan sahabatnya itu. Namun ia juga tidak dapat memungkiri perasaannya gundah, saat membaca buku harian Diandra tadi. Selama ini, Diandra tidak pernah bercerita kalau ia ingin merasakan cinta dan dicintai. Terlebih lagi dibuku harian itu, ditemukan kalimat bahwa Diandra belum menemukan sesosok itu.


__ADS_2