Mencintai Untuk Terluka

Mencintai Untuk Terluka
Kriteria perempuan ideal Rio


__ADS_3

Rio tertawa kecil dengan tawanya yang manis.


"Aku mah udah kerja, udah 24 tahun haha. Berarti beda 6 tahun kita".


"Anyway, aku mau menanyakan beberapa hal ke kamu, boleh?" Tanya nya.


Gadis itu mengganggukan kepalanya.


"Boleh kok kak. Aku senang ditanya-tanya hehe".


Lalu, di restoran itu, Rio banyak bertanya - tanya hal tentang Diandra.


"Yang baru pulang dari Sydney nih, ngapain aja di sana?".


Ujar Rio kembali menopang dagunya, menatap Diandra dan menunggu sepatah dua kata dari bibirnya.


"Aku disana sekolah kak, sekalian jalan-jalan destinasi wisata di sana".


Jawab Diandra santai.


"Oh, berarti kamu sempat ke gedung Opera gak?"


"Iya sempet kesana juga kak".


Balas Diandra singkat.


Belum selesai bercerita, pesanan makanan mereka sudah datang, seorang pelayan restoran membawakan mereka 2 mangkok besar mi udon.


"Makan dulu ya. Nanti lanjut cerita lagi".


Kata Rio menyodorkan semangkuk mi ke meja Diandra.



Mereka pun menyantap mi udon itu dengan semangat karena kelaparan dan perut keroncongan sedari tadi. Selama mereka menyantap, tidak ada percakapan yang terjadi.


Rio tampak menghabiskan semangkuk mi nya terlebih dahulu ketimbang Diandra. Diandra adalah tipe orang yang saat menyantap sesuatu, sangat menghayati dan lama. Karena sudah selesai menyantap mi, Rio memilih tidak memainkan ponselnya. Melainkan ia menatap gadis yang duduk sambil menyantap mi dihadapannya.


Diandra bersemangat menguyah mi udon tersebut. Sampai sampai terdengar suara seruputan mi dan saus yang agak bercecer di bibirnya.


Rio tampak tersenyum lucu.


Sesekali, gadis itu melihat ke arah pria didepan nya yang tersenyum dan memergoki ia yang sedang menatap Diandra menyantap mi.


"Kenapa kak? "


Tanya Diandra, sambil menyantap mi nya kembali.

__ADS_1


"Gapapa, lanjutkan makan mu"


Pinta Rio sambil tersenyum, ia mengambil tisu dan mendekatkan wajahnya kepada Diandra.


.....


"Lain kali jangan berantakan makannya meskipun kelaparan".


Cetus Rio sambil menyingkarkan saus dibibir Diandra dengan tisu.


Mulutnya saat itu penuh dengan mi sehingga tampak kembung. Diandra memanglah sosok gadis yang feminim, namun dalam urusan makanan, ia tak pernah bisa untuk kalem dan feminim. Pasti selalu berantakan dan lama.


Diandra sangat malu, ia tak menyadari bibirnya tercecer saus mi udon. Ia segera menelan mi yang sudah di kunyah. Wajahnya sedikit malu memerah saat tadi Rio membersihkan mulutnya dengan tisu. Pria itu mendekat ke wajah Diandra sehingga ia melihat wajah Rio dari dekat. Tatapan mata yang indah bersinar, hidung macung, rambut tersisir rapih ke atas, kulit yang tak begitu putih dan tak begitu hitam, juga badannya yang atletis terpencar dari diri Rio. Aura kedewasaan dan tampan nya tak bisa bersembunyi dari sudut mata Diandra. Ia memang tampak memesona, memikat setiap gadis yang ada.


Selesai menyantap mi, Diandra tampak menggeser mangkuk, karena tadi ia makan mi dengan menyeruput, ia takut lipstik yang dipakai luntur. Diandra pun mengeluarkan liptint, dan menggosok- gosokkan nya di bibir.


Rio hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Maklum, namanya juga perempuan. Pasti menjaga setiap titik penampilan. Baik itu mata, alis maupun bibir.


....


Tak lama kemudian, ada sosok gadis yang duduk di sebelah meja makan mereka. Gadis itu sangat cantik dan seksi. Kulit putih mulus bening, pakaian yang ketat, tidak bertali dan memakai celana pendek, rambutnya terurai panjang coklat, dan wajahnya berpadurias dengan make up.


Rio menatap gadis yang seksi itu. Sebagai pria, wajar jika matanya terpikat dengan gadis seksi, badan model langsing ala gitar spanyol, dan kulit putih mulus.


Lalu ia mengalihkan pandangan ke Diandra, menaikkan alis dan tersenyum nakal didepannya.


"Hehe cantik tuh cewek seksi".


"Apa kamu sempat berniat seperti itu?"


Ujar Rio bertanya pada Diandra.


"Seperti itu gimana?"


Jawab Diandra ambigu dan tidak memahami perkataan yang dimaksud Rio.


Pria itu sesekali melirik wanita seksi disebelah.


"Kamu pernah berniat untuk berpenampilan seperti itu?".


Kata Rio sambil tersenyum. Ia sudah membayangkan betapa cantiknya Diandra jika ia memakai pakaian yang seksi.


...


"Mungkin suatu saat nanti haha".


Balas Diandra, sebenarnya ia ingin merubah penampilan menjadi lebih cantik dan fashionable ala ala selebgram. Karena adanya godaan duniawi, sehingga para wanita cantik sudah bertebaran dimuka bumi, hanya dengan perawatan, menjaga badan, dan make up, semua perempuan terlihat cantik dan berlenggak-lenggok memamerkan lekuk tubuh dengan berpakaian seksi.

__ADS_1


"Haha, benarkah? ".


Pria itu tertawa dan seakan seperti tak menyangka Diandra berniat untuk berpakaian seksi suatu saat.


Namun, Diandra sesekali melirik gadis itu dan berbicara pada Rio.


"Hmmm, ya cantik sih, aku juga akuin. Kak Rio suka ya sama cewek itu? Keliatannya dia lagi sendiri tuh, ga mau kenalan? Haha."


Pinta Diandra bercanda.


Tapi Rio menggelengkan kepalanya dan membalas perkataan Diandra.


"No, Hanya karena kakak puji cewek itu cantik, ya kakak sekedar memuji, bukan berarti suka. Memang di akuin, kakak sebagai cowok seneng kok liat yang cantik-cantik. Tapi balik lagi, untuk menjadi kriteria pacar, itu saja gak cukup. Harus berdasarkan kepribadian, kecocokan dan persamaan pemikiran juga. Jadi, salah tuh statement-nya."


Diandra menopang kan dagunya, dan sedikit terbingung.


"Ah gitu ya, berarti selama ini pemikiranku salah. Aku selalu berpikir, cowok jaman sekarang mau sama cewek karena fisik, ya gak sih kak?".


Tanya Diandra penasaran.


"Semua tergantung cowoknya. Kalau kakak sebagai cowok yang udah dewasa dan udah bekerja, kakak lebih suka cewek yang apa adanya aja, natural look. Kata Rio.


Diandra kembali bertanya, dan bertanya lagi.


"Terus kira-kira nih, kalau di liat, cewek yang disebelah itu termasuk kriteria kak Rio gak?".


Kali ini, ia bertanya dengan volume suara yang kecil karna takut terdengar oleh wanita seksi duduk disebelah mereka.


Namun, pria itu menggelengkan kepalanya sebagai tanda bukan.


Seketika Diandra terkejut. Bagaimana bisa wanita secantik dan seseksi itu saja bukan kriteria Rio.


"Lah kok bisa bukan kriteria kakak? Kan dia cantik gitu. Memang kriteria kakak yang seperti apa?"


...


Rio memiringkan kepalanya dan mengarahkan matanya keatas, mencoba berpikir.


"Hmmm, kalau kriteria, kakak suka cewek yang babyface, imut dibanding tua dan menor. Seperti kamu yang lucu haha".


Jawabnya tertawa.


Wajah Diandra memerah. Ia salah tingkah dan mencoba membenarkan rambutnya dengan tangannya, tapi ia tidak boleh canggung, tetap menjaga sikap dan berusaha agar tidak kaku.


"Terus-terus apa lagi kriterianya?"


"Terus kakak nggak suka cewek yang lebih tua, meskipun itu lebih tua satu tahun, kakak lebih suka yang umurnya lebih muda".

__ADS_1


Diandra tercengang.


"Waw, umurpun ada kriterianya ya. Kenapa gitu kak? Kok ngga suka yang lebih tua?".


__ADS_2