
Malam semakin larut, namun kegiatan pentas yang di adakan oleh makhluk ghaib itu belum juga ada tanda-tanda akan berakhir.
"I ... itu ... " ucap Tommy terbata dengan telunjuk ke arah para penari. Sontak saja kami berdua juga melihat ke arah yang di tunjuk. Tampak disana sosok mirip sekali dengan Tari sedang menari mengikuti alur suara gamelan yang di tabuh oleh para penabuh bertopeng aneh. Wajahnya yang tampak pucat meskipun dengan riasan dan juga baju ala penari yang terlihat mewah tak mengurangi aura menyeramkan dari wajahnya.
"Jiwa Tari di tahan oleh mereka." ucap Robby membuat kami bergidik ngeri. Bagaimana kami tak merasa takut, jasad Tari mungkin sudah di makamkan tetapi jiwanya tidak bisa pergi dengan tenang. Tari masih harus terus melayani perempuan bergaun merah dan menjadi budak untuk hiburan mereka. Aku meneteskan air mata, tak sanggup melihat kenyataan bahwa sahabatku memiliki akhir hidup yang mengenaskan seperti ini.
"Rob, apa mungkin Tari bisa kita bebaskan?" tanyaku berharap.
"Semoga saja ya, Jen. Kita akan berusaha." jawabnya menepuk lembut bahuku.
****
__ADS_1
Rona kekuningan mulai muncul dari ufuk timur. Sepertinya hari sudah mulai pagi. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja pentas tarian sudah tak tampak di depan mata. Bahkan hanya dalam waktu sangat singkat sekali mata mengedip semuanya telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Seharian kami tak mendapat banyak petunjuk untuk menemukan Lukman. Kami malah hanya fokus merenung memikirkan nasib tragis yang di alami Tari. Bahkan aku lebih banyak murung mengingat hal-hal yang sering kami berdua lakukan bersama selama ini. Hubungan kami sangat dekat, bahkan kami bisa dianggap seperti kakak beradik yang tak terpisahkan. Tak terasa air mata mengalir begitu saja saat mengenang hal-hal indah yang sudah tak mungkin dapat kita ulang lagi.
"Sudahlah, Jen. Jangan kamu tangisi terus kepergian Tari. Biarkan dia tenang disana." usap Tommy mengusap lembut bahuku. Dia perasa, dia pasti tahu betul bagaimana perasaanku saat ini. Begitu juga Robby, dia menatap teduh ke arahku. Aku mengangguk dan tersenyum. Aku tak ingin membebani mereka berdua. Aku mengusap lembut liontin berwarna hijau mengkilap di leherku. Aku akan berusaha dan berjanji untuk melepaskan jiwa Tari yang masih tertahan. Aku ingin sahabatku itu pergi dengan tenang dan beristirahat dengan damai.
"Rob ... Rob ... " Tommy menepuk kencang bahu Tommy. Matanya melihat ke satu arah.
"I ... itu Lukman." ucap Tommy sambil menunjuk ke arah sebuah tempat.
Serempak kami menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tommy. Serempak kami tiarap melihat apa yang terjadi disana. Lukman duduk berdampingan dengan gadis bergaun merah yang beberapa kali mereka lihat saat ada pentas. Wajahnya pucat, pandangannya kosong. Bahkan tak ada ekspresi apapun yang terlihat dari wajahnya
__ADS_1
Tangan wanita itu meraba tubuh Lukman. Bahkan lidahnya menjilati seluruh wajah Lukman. Dengan iringan musik gamelan, dengan beringasnya wanita itu menikmati setiap inci dari Tubuh Lukman. Hingga tiba pada pipi kanannya, wanita itu menggigit dan mencabik wajah Lukman dengan giginya yang tajam.
Spontan saja Robby membungkam mulutku dengan tangannya. Kalau saja terlambat sedikit saja, teriakan ku akan membuat mereka mengetahui keberadaan kita.
Lolongan suara Lukman menyayat hati siapa saja yang mendengar. Suara minta ampun menggema, bergemuruh memenuhi seisi alam semesta.
Perlahan-lahan wanita iblis itu menikmati hidangan di hadapannya. Tubuh Lukman mengejang, mengeras menahan sakit setiap gigitan. Sedangkan Tari, dengan gemulainya ia tetap meliuk-liukkan tubuhnya. Sesekali cambuk kecil melayang ke tubuh rampingnya jika ia berhenti menggerakkan tubuh barang sebentar saja.
*****
"Kamu tidak apa-apa?" Robby menyodorkan minuman hangat kepadaku. Hari sudah terang. Tampaknya aku tak sadarkan diri saat melihat adegan menjijikkan semalam. Isi perutku mendadak memberontak, meminta hak nya untuk mengeluarkan seluruh isinya. Aku berlari, memuntahkan semua yang ada di dalamnya. Rasa perih membuatku menangis tersedu.
__ADS_1
"Sudah, Jen. Kita sudah berusaha." Robby menghampiri.