
Malam ini berlalu begitu saja. Tak ada hiburan malam, berkumpul atau bernyanyi bersama. Aku memilih untuk kembali ke tenda setelah bertemu dengan Lukman di luar tenda.
Meskipun mata tak mau juga terpejam, namun enggan rasanya untuk kembali ke luar tenda. Aku akan berjaga dari dalam saja. Berharap tak ada kejadian aneh yang akan terjadi lagi pada kami.
Krraassakkk ...
Tak sengaja handphone yang saat itu sedang ku pegang langsung terlempar begitu saja saat suara ribut terdengar dari luar tenda.
Bbrrruuuggghhh...
Seperti tertimpa sesuatu. Tenda langsung bergoyang dan memantulkan sebuah benda. Seperti binatang yang menyeruduk dan hendak memaksa masuk ke dalam tenda. Aku meringkuk, mencoba untuk tak bersuara kalau saja benar-benar ada binatang buas yang menyerang tenda kami. Cahaya dari dua mata binatang itu tampak jelas menyorot ke dalam tenda dan berwarna merah.
"Binatang apa itu." gumamku lirih. Aku tak berani menyalakan handphone, takut kalau binatang itu melihat cahaya dari dalam dan semakin beringas menyerang tenda. Aku hanya bisa pasrah saat binatang buas itu kembali menyerang dan mencoba merobek tenda milik kami.
"Kalian dari mana?" tanyaku pada kedua temanku yang entah datang dari mana. Aku memutuskan untuk keluar saat mendengar Robby dan Tommy mengobrol dan tertawa. Sedangkan binatang buas itu sudah pergi entah kemana.
"Nih, nemenin neng Tommy buang hajat." ledek Robby cengengesan. Tomy yang mendengar ejekan Robby hanya tersenyum sembari menggaruk rambutnya yang entah gatal atau tidak.
"Kamu kok nggak tidur, Jen?" Tomy menghampiriku. Aku menggeleng. Ku hembuskan nafas kasar dan menghempaskan diri di sebelah kedua sahabatku itu.
"Nih." Robby menyodorkan segelas kopi panas dan langsung ku sesap dan ku hirup dalam-dalam untuk membuang semua gundah dalam hati.
Aku melihat sekeliling. Beberapa orang dari kelompok lain juga sedang berjaga di luar tenda masing-masing. Mustahil mereka tak ada yang melihat binatang buas menyerang tenda kami. Apalagi jarak tenda kami saling berdekatan. Kemana mereka semua saat ada binatang menyerang.
"Rob, memangnya gunung ini masih liar? banyak binatang buaskah?" tanyaku penasaran.
"Setahu ku tidak. Memangnya kenapa?"
"Tadi, tenda ku di serang oleh binatang buas. Binatang itu datang tiba-tiba dan menyeruduk tenda. Bahkan tanduknya hampir merobek tendanya."
Robby dan Tomy terdiam. Mereka hanya saling pandang dan melihat sekitar.
__ADS_1
"Aneh bukan?" tanyaku memastikan kalau pikiranku sama dengan apa yang di pikirkan oleh kedua sahabatku.
"Bagaimana dengan Tari?" tanya Tomy.
"Masih tidur, sepertinya dia kecapekan. Sampai tak terbangun atau terganggu oleh apapun." jawabku.
******
Pagi ini tak ada obrolan di antara kami. Robby yang sudah paham dengan watak ku membiarkanku untuk tetap diam tanpa banyak bertanya.
Aku sibuk menyiapkan bahan makanan yang akan di masak untuk sarapan, sedangkan Robby bertugas merebus air untuk minum kopi. Yang lainnya sibuk mencari kayu bakar ada juga yang membereskan tenda. Kami semua sibuk dengan tugas masing-masing, membuatku sejenak melupakan kekesalan terhadap Lukman atas sikapnya tadi malam.
"Rob, kaki ku yang ini dari kemarin rasanya berat banget buat jalan." ucap Tari sambil memijit dan menunjukkan kaki sebelah kanan.
"Sejak kapan?"
"Eeeemmm... sejak kita naik dari pos empat sepertinya." jawab Tari sambil mencoba mengingat kembali kapan pastinya kakinya terasa sakit.
Apalagi mengingat kemarin rombongan kami sempat berhenti cukup lama di pos empat. Padahal sudah di peringatkan juga oleh kelompok lain untuk segera melanjutkan perjalanan, namun Lukman meminta kami untuk menunggunya mencari salah satu barang bawaannya yang katanya terjatuh.
"Sebenarnya kemarin apa yang kamu cari, Man?" tanya Robby pada Lukman. Sedangkan Lukman yang di tanya hanya gelagapan dan tak segera menjawab.
"E... e... bukan apa-apa, kok." jawabnya terbata. Sepertinya ia sedang tak jujur.
"Kalau bukan apa-apa kenapa kemarin memaksa kita semua untuk menunggu? sedangkan saat kita mau bantu kamu selalu menolak." jawabku sewot. Robby menoleh ke arah Lukman meminta penjelasan.
****
Seperti kelompok lainnya, kami sibuk mengambil foto dengan view yang bermacam-macam.
"Sudah, ayo kita berkemas." Robby menurunkan kamera dan meminta menghentikan acara foto-foto.
__ADS_1
"Aaahhh... masih bagus nih, Rob. Ayo dong, siangan dikit aja kita turunnya." ucap Tari merengek. Namun Robby tak menggubris. Ia tetap bersikeras untuk mengakhiri acara foto dan kembali turun.
Aku juga segera mengemasi peralatan dan mengumpulkan semua sisa makanan. Aku tak berani banyak protes. Setelah aku bercerita tentang kejadian tadi malam, Robby memutuskan untuk turun cepat supaya tidak kemalaman saat di perjalanan.
"Bukannya kita mau disini tiga hari? Ini baru semalam loh." Lukman menimpali.
"Capek, Man. Lagi pula sepertinya kurang bagus juga kalau kita terlalu lama di puncak." jawab Robby berharap teman-temannya mengerti dan tak kecewa.
Pukul sembilan kami bersiap untuk turun. Semua peralatan sudah di kemas. Tak ada yang berani protes. Robby menjanjikan liburan ke tempat lain sepulang dari gunung. Padahal Robby hanya ingin menjaga agar kami semua selamat. Rasanya sudah tak nyaman bila di awal perjalanan saja sudah di hadapkan dengan banyak masalah. Yang di khawatirkan selanjutnya akan lebih banyak lagi masalah yang akan di temukan. Apalagi jika sampai membahayakan anggota kelompok.
"Rob, Tari tidak ada di tenda." teriakku saat memeriksa semua kelengkapan barang. Kami semua panik, tak ada yang merasa di beri tahu kemana anak itu akan pergi.
"Tadi bukannya masih bersama kalian saat aku membereskan semua peralatan?" tanyaku pada yang lainnya.
"Iya, tadi dia duduk di situ. Sedangkan aku dan Robby juga berkemas." bela Tomy.
Kami kelimpungan mencari keberadaan Tari. Beberapa orang dari anggota lain kamu tanyai satu persatu. Namun satupun tak ada yang melihat kemana Tari pergi.
"Coba aku cari ke bawah." aku memutuskan mencari ketempat dimana biasanya pendaki menuntaskan hajat mereka.
"Gimana?"
Aku menggeleng. Semua panik, namun sepertinya hanya Lukman yang terlihat biasa saja. Bahkan dia hanya mondar mandir seperti tak berniat mencari sama sekali.
Hingga malam tiba, Tari belum juga di temukan. Beberapa petugas juga sudah di kerahkan untuk mencari keberadaan sahabatku itu. Setengah hari pencarian bahkan tak membuahkan hasil. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali bermalam di puncak hingga ada kabar terbaru dari Tari.
"Tari, kamu dimana?" aku terisak. Memikirkan Tari yang sendirian di luar sana, tanpa bekal karena semua barang miliknya masih utuh berada di dalam tenda.
"Kamu pasti takut di luar sana. Bertahan ya, Tar. Kami akan berusaha mencari mu." ucapku di sela-sela isak tangis ku.
"Sudah, Jen. Petugas juga sedang berusaha mencari keberadaan Tari. Kita berdoa saja. Semoga Tari segera di temukan dalam keadaan baik-baik saja." bujuk Robby.
__ADS_1