
Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Setelah memutuskan untuk kembali berjalan, aku belum juga menemukan titik terang untuk bisa kembali pulang.
Nenek Rampi, nenek pemilik warung yang menolongku tadi menyarankan untuk terus berjalan. Aku tak boleh menoleh kembali ke belakang apapun yang terjadi. Meskipun beliau memintaku untuk bermalam di tempatnya, namun keinginanku untuk segera pulang memaksanya untuk membiarkanku melanjutkan perjalanan.
"Jangan menoleh kebelakang, apa pun yang terjadi." pesan Nenek Rampi yang ku sanggupi dengan anggukan kepala. Beliau memberikan bekal kepadaku untuk ku bawa selama perjalanan.
"Ini, makanlah jika kamu lapar." ucap Nenek Rampi sambil menyerahkan bungkusan kepadaku. Jujur, aku trauma dengan bingkisan yang ku terima dari orang yang tak ku kenal. Aku takut jika apa yang ku bawa ternyata sama dengan apa yang ku terima dari wanita tua sebelumnya. Namun, untuk menjaga perasaan Nek Rampi, supaya beliau tak tersinggung, akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya saja.
"Jeenn... Jeennaaa..." suara seseorang memanggilku membuatku menghentikan langkahku.
"Jen, aku disini." kembali, suara itu kembali terdengar. Saat aku ingin menoleh ke belakang, sontak aku teringat akan pesan Nenek Rampi untuk tak menoleh ke belakang apa pun yang terjadi. Namun suara itu?
"Aaakkhh..." aku melanjutkan perjalanan. Tak ku hiraukan suara itu lagi. Aku ingin pulang, hanya itu satu-satunya tujuanku. Aku tak ingin terjadi hal-hal yang tidak ku inginkan terjadi padaku disini.
Dengan setengah berlari, aku mengikuti langkah kaki ku yang entah akan membawaku ke mana.
"Jen... tolong aku." suara itu muncul lagi. Kali ini benar-benar terdengar lebih jelas.
"S-siapa?" aku menoleh ke kanan dan kiri. Namun aku benar-benar tak berani menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Jena, ini aku. Tolong aku, Jen." kali ini aku mengenali suara itu.
"T-tari. Kamu dimana?"
Tak ada jawaban.
"Aku disini, Jen." tiba-tiba suara itu muncul lagi saat aku baru melangkah beberapa langkah.
"Teman macam apa yang tega meninggalkan sahabatnya sendiri di sini." suara itu memaksaku menghentikan langkah. Aku menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Hahaha... dasar teman tak tahu diri. Ngakunya sahabat, tapi tega meninggalkan sahabatnya sendirian." lagi, kali ini membuat pendirianku goyah.
"Tari... kamu dimana?" kali ini gantian aku yang memanggilnya.
"Aku minta maaf, kalau aku tidak bisa menyelamatkan kamu. Tapi kamu juga jangan lupa, kalau semua ini terjadi karena ulah kamu. Andai saja kamu dan Lukman tidak ..." aku tak melanjutkan ucapanku. Aku tersadar dengan apa yang telah ku lakukan. Larangan yang telah ku sepakati kini ku langgar.
"Hihihihihi ..." suara tawa yang menggema begitu nyaring terdengar di telingaku. Seakan akan mengolok-olok kebodohan ku.
"Hhiiihiiihhiii..."
__ADS_1
Sekelebat bayangan muncul melewati atas kepalaku. Aku terjatuh di antara semak belukar yang tiba-tiba rimbun dengan sendirinya. Padahal, sebelum semua itu, semak yang ku lewati tak setinggi dan se rimbun sekarang. Bahkan aku masih dengan mudah berjalan dan melewati hutan. Namun kini semua suram. Pohon-pohon besar di kelilingi oleh semak belukar yang tingginya hampir sama dengan tinggi badanku, membuatku kesulitan untuk melihat ke depan.
"Tari, mengapa kamu berbuat seperti ini padaku? Apa salahku?" aku memaki dan mengumpat. Aku sudah putus asa. Dan sekarang aku semakin tersesat. Jangankan untuk melanjutkan perjalanan. Aku harus berjalan kemana pun aku tak tahu.
"Jen, tetaplah disini. Temani aku." lagi, suara itu menggema di sekitarku. Namun sosoknya tak pernah ku lihat.
"Tidak. Aku tidak mau." jawabku tegas. Aku berdiri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk melanjutkan perjalanan. Dengan berbekal keyakinan, aku berharap arah yang ku tuju kali ini benar.
Rupanya gangguan tak hanya sampai disini. Sosok itu mengikuti ku. Aku berlari, meskipun beberapa kali terjatuh karena tersandung alang-alang yang tinggi menjulang.
"Hihihihihi..." suara tawa itu menggema. Namun tak menampakan wujudnya.
"Setan sialan. Siang-siang begini juga mengganggu." umpat ku sambil terus berlari. Ku paksakan sepatuku yang sudah mulai koyak karena untuk berlari terus-terusan. Tidak peduli lagi dengan kaki yang mulai terasa lelah. Hingga akhirnya aku tersandung, dan terjatuh lagi. Kali ini aku merasakan tubuhku tergelincir. Tanganku berusaha menarik apapun yang ada di sekitarku untuk menahan tubuhku agar tak semakin jatuh ke dalam. Namun rasanya percuma. Tubuhku menggelinding, entah mau sampai dimana. Aku masih tetap tersadar, hingga sebuah benturan keras menghantam bagian belakangku.
"Aaakkkhhh..."
Dan disitulah aku berhenti. Sebuah benda keras menahan punggungku. Kepalaku terasa pusing, seluruh tubuhku serasa mati. Kaki ku tak bisa di gerakkan, hanya bisa merintih kecil.
"Dimana lagi ini."
__ADS_1