Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Bab 27


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukan waktu lewat tengah malam. Namun mataku tak juga mau terpejam. Pikiranku melayang, memikirkan nasib kedua sahabatku yang ku lihat di cermin tadi siang.


Ku tengok ke arah dimana cermin tadi siang berada. Kosong, Robby pasti sudah memindahkannya saat aku tertidur tadi. Aku menelisik, memandang ke seluruh penjuru kamar. Sepi, hanya itu yang ku rasakan. Bahkan binatang malam pun tak terdengar suaranya. Kembali ku rebahkan badan, menarik selimut sebatas leher. Kembali mencoba untuk memejamkan mata karena jarum jam sudah menunjukan di angka dua dini hari.


"Hhhmmm..."


Aku melenguh menahan dingin saat merasakan tarikan selimut ke arah bawah.


Ku rasakan hawa dingin di bagian bawah. Ku gapai selimut yang tadi sempat menutupi hampir seluruh tubuhku. Nihil. Aku yang merasa sangat mengantuk karena baru saja terpejam kini terpaksa harus bangkit untuk meraih selimut yang ternyata terjatuh di bawah tempat tidur. Perlahan aku beranjak turun, mencondongkan badan untuk meraih selimut yang tergeletak di lantai.


Mataku membulat saat tak sengaja menangkap dua cahaya merah di ujung kamar. Secepat kilat ku raih selimut dan kembali ku rapatkan ke seluruh tubuh. Kali ini ku tutup hingga kepala. Nafasku tersengal, detak jantung berpacu tak beraturan. Bahkan hawa sejuk dari mesin pendingin ruangan tak terasa lagi di tubuh ini. Keringat membanjiri seluruh tubuh. Bahkan peluh di badan sudah membanjiri baju yang tadinya kering kini berubah menjadi basah.


Ku eratkan genggamanku pada selimut manakala terasa dari bawah sana seseorang sedang menarik selimutku ke bawah. Tanganku sudah terasa dingin karena takut. Ingin rasanya berteriak memanggil Mama. Namun rasanya percuma saja. Kamar Mama yang berada di ujung, pasti tak akan terdengar jika aku berteriak. Yang ada, malah sosok bermata merah itu akan menjadikanku bulan bulanan karena mengetahui ketakutanku.


Ku baca surat-surat pendek yang ku hafal. Membaca istighfar berkali-kali untuk menetralisir rasa takut yang semakin tak tertahankan. Isak tangisku pun mulai terdengar, rasanya tak kuasa aku melewati malam yang terasa sangat panjang kali ini.


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar terbuka. Sosok di kaki ku tak lagi menarik selimutku ke bawah. Aku sedikit merasa lega, namun rasa khawatir kembali muncul saat menebak-nebak siapa yang membuka pintu kamar tiba-tiba. Sebuah tangan terasa meraba pundak, berpindah ke atas dan berusaha membuka selimut di wajahku. Aku menahan sekuat tenaga agar selimut tak terbuka dari kepalaku.


"Jenna sayang. Ada apa?" suara itu membuatku menangis kencang. Aku bangun dan bergegas memeluk sosok di hadapanku. Tangan lembut itu membelai rambut lalu turun ke punggung. Mengelus perlahan lalu menepuk-nepuk perlahan. Aku menangis sesenggukan di pelukannya. Namun sosok yang ku panggil Mama itu tak menyahut saat memelukku.


Hawa dingin kembali terasa. Bahkan aroma bunga tercium kuat menguar menusuk indra penciumanku. Aku tersadar, segera ku buka mata dan melepaskan pelukan sosok wanita di hadapanku.


"Mama." panggilku lirih pada sosok yang hanya diam saja saat ku pegang tangannya.


"Mama sehat?" aku terkejut saat kedua telapak tangan wanita yang melahirkanku itu terasa sangat dingin, sedingin es saat ku pegang.


"Ma." panggilku lagi. Namun Mama hanya menatapku sambil tersenyum miring. Aku mundur, hingga tubuhku menabrak dinding ranjang di belakangku.


"Jenna."


Aku terkejut saat suara Mama tidak seperti biasanya. Bahkan suara Mama saat ini terdengar seperti suara seseorang yang sudah lama menghilang.


"Jenna, apa kabar?" tanya sosok yang menyerupai Mama itu mendekat. Aku yang sudah merasa terpojokkan memilih untuk menyingkir dengan berdiri perlahan berpegangan pada tembok kamar.

__ADS_1


"Jenna. Apa kamu tidak rindu kenangan kita?" lagi, suara itu mengingatkanku pada Tari yang sedang di seret oleh sosok wanita menyeramkan di dalam cermin.


"Ka-kamu mau apa?" tanyaku dengan penuh rasa takut.


"Mengapa kamu tidak menolongku, Jen?" tanya sosok yang menyerupai wajah Mamaku.


"Jen, aku disini tersiksa. Mengapa kamu tidak menolongku?" Mama semakin mendekat, sedangkan aku semakin terpojokkan.


"Jangan mendekat." ancamku sambil mengacungkan gunting ke arah sosok wanita mirip Mama.


"Hahahaha..." tawa wanita itu menggelegar. Memenuhi seluruh kamar.


"Kamu berani mencelakaiku, Jenna?" tanya sosok itu semakin mendekat. Sedangkan tubuhku semakin bergetar hebat.


"Tusuk saja, Jen. Maka wanita ini akan mati di tanganmu. Hahahaha..." ku urungkan niatku untuk terus maju kedepan membawa gunting tajam. Teringat bahwa sosok di depanku itu adalah tubuh Mama. Maka aku akan melukainya jika aku meneruskan niatku itu.


Ku baca lagi surat-surat pendek yang ku hafal. Kali ini ayat kursi juga ikut ku baca juga. Berharap sosok di depanku ini segera pergi dan berhenti menggangguku.

__ADS_1


__ADS_2