
"Sa...sakit." rintih ku sambil meringis menahan sakit pada pergelangan kaki ku. Namun sepertinya wanita paruh baya yang ku panggil Ibu tadi yang telah menyeret ku ke ruangan kecil nan gelap ini.
"Jangan macam-macam kalau kamu ingin kembali." ucapnya lirih namun penuh penegasan.
"Te... tempat apa ini, Bu?" aku sungguh ketakutan. Entah bagaimana bisa aku malah sampai ke tempat ini. Aahhh, tentu saja aku sendiri yang memintanya.
"Jangan pernah mengintip keluar rumah lagi kalau ingin selamat." ancam beliau lagi. Aku hanya terduduk meringkuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Aduh." wanita itu menarik kaki ku dan membuka kain kumal yang ia ikat di kaki ku tadi. Tak lama ia kembali membalurkan ramuan berbau menyengat sama seperti tadi. Kain kumal itu kembali ia ikatkan lagi ke kaki ku.
"Kenapa ini semakin sakit, Bu?" tanyaku penasaran.
"Diamlah. Ini makan, jangan sentuh apapun di rumah ini. Termasuk makanan yang ada di rumah ini." ucapnya sambil memberikanku sebongkah singkong yang masih mentah. Aku menggenggam erat singkong itu. Mana mungkin aku memakan makanan mentah seperti ini. Tetapi cacing di perutku meronta, meminta hak mereka untuk segera di beri makan.
"Aahh... aroma apa ini." aku membuka mata dan mengendus asal bau yang tak sengaja menyusup ke dalam hidung. Aku coba bangkit dan mencoba untuk keluar dari ruangan pengap ini. Terlihat wanita itu sedang membungkuk dan mengaduk-aduk kuali dengan centong kayu. Namun tak ada api di sana, bagaimana ia memasak dan mengeluarkan aroma sedap ini.
Aku tak berani menghampirinya. Aku sadar, siapa wanita itu dan dimana aku sekarang. Aku menunggu wanita itu pergi. Berharap bisa melarikan diri dari tempat ini.
"Hah, mengapa Ibu itu mempunyai makanan lezat disana. Sedangkan hanya singkong mentah yang ia berikan padaku?" aku menggumam sebal saat melihat aneka makanan lezat itu ia simpan di dalam lemari tua yang tampak reyot. Bahkan aromanya membuat cacing-cacing di dalam perutku memberontak hebat.
Kkkrrrriiiieeeettrt....
Aku berhenti mencoba membuka pintu lemari reyot itu. Suara mengerikan itu selalu muncul setiap aku membuka pintu atau apapun di rumah ini.
"Rumah setan atau bukan sih ini, kok serem banget." bisik ku sambil mengusap tengkuk leher. Sekilas aku teringat bayangan tadi malam. Saat mengintip keluar rumah dan melihat tetangga sebelah rumah.
__ADS_1
"Hooeeekkk..."
Perutku tiba-tiba terasa seperti di campur aduk. Rasa mual tak tertahankan muncul saat aroma menyengat terendus dari dalam lemari tua milik Ibu pemilik rumah ini.
"Bau bangkai." pekik ku. Aku memaksa membuka lemari tua itu dan betapa terkejutnya dengan apa yang ku lihat di dalam sana. Ayam dengan bentuk masih utuh, bahkan beberapa bulunya sudah mulai rontok. Dengan banyak belatung merayap, menggeliat, dan berusaha menggerogoti tubuh ayam yang sudah busuk itu. Tak hanya itu, bahkan di dalam piring yang terbuat dari tanah liat pun terdapat cacing-cacing besar dan menggeliat seolah-olah sedang meronta meminta kebebasan.
Braaakkk...
Aku menutup pintu lemari kuat-kuat. Tak sabar rupanya perutku untuk memuntahkan semua isinya. Namun lagi-lagi tak ada yang bisa di keluarkan. Hanya rasa perih dan pahit yang ku rasakan.
Aku berjalan tertatih menuju pintu keluar. Rasanya ingin sekali aku segera meninggalkan tempat ini. Persetan dengan ancaman untuk tak keluar rumah sembarangan. Mungkin aku akan di santap oleh setan penghuni tempat ini jika aku keluar sana. Apa bedanya dengan keberadaan ku disini. Toh lambat laun aku juga akan menjadi santapan Ibu tua yang telah membawaku ke sini. Bodohnya aku, aku malah memintanya membawaku ke tempat ini.
Matahari sudah tampak cukup tinggi. Anehnya, mengapa di dalam rumah selalu tampak gelap gulita seolah-olah hari masih malam. Dengan menyipitkan kedua mata karena silau, aku berjalan tertatih mencari jalan keluar untuk kembali ketempat di mana aku tersesat tadi malam. Dengan harapan akan bertemu kembali dengan pendaki dan aku akan mengikuti mereka sampai bawah. Awas saja, akan ku maki Robby dan Tommy yang telah tega meninggalkan ku di tempat seperti ini.
"Ramuan apa ini sebenarnya." aku membatin heran dengan bau menyengat dari ramuan yang di oleskan ke kaki ku itu.
"Ah, entahlah. Yang penting kaki ku sudah tak sakit lagi."
Aku kembali berjalan menyusuri hutan. Menurutku ini hutan, karena banyak pohon-pohon besar berdiri kuat dan kokoh di mana-mana. Sesekali aku menoleh kebelakang untuk memastikan tak ada yang mengikuti ku.
Aku bersandar di bawah pohon, nafas terasa sesak karena terlalu lelah berlari mencari perlindungan. Jangankan makanan, bahkan air minum pun aku tak punya. Rasa panas menjalar di tenggorokan hingga dada. Perih, kering, pusing, semua bercampur jadi satu.
"Dimana aku, Ya Allah." aku menangis sesenggukan. Rasanya sudah pasrah dan menyerah jika memang seperti ini jalan hidupku. Namun di satu sisi, aku juga masih ingin hidup. Aku ingin pulang dan bertemu dengan kedua orang tua ku.
Rasa lelah tak tertahankan membuatku tertidur dengan sendirinya. Apalagi di tambah semilir angin di bawah pohon yang begitu rimbun, membuat mata seperti di tiup perlahan dan rasa kantuk pun menyerang dengan hebatnya.
__ADS_1
"Jen ... Jenna ..."
"Jenna... bangun. Berjalanlah ke sebelah kanan. Jangan berbelok."
"Tari ..." ku panggil nama itu saat tiba-tiba terbangun begitu saja dari tidurku.
"Tari... kamu dimana?" aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara yang begitu jelas ku dengar.
Lagi-lagi air mata ku menetes. Mengingat keberadaan Tari saat ini.
"Apa kamu tidak pergi dengan tenang? Apa kamu masih berkeliaran disini?" aku berteriak memaki sahabatku itu.
Pllaaakkk ...
Sebuah ranting jatuh dari pohon dan menimpa pundak sebelah kanan.
"Aaahhh..." aku meremas pundak ku yang tertimpa ranting, meskipun tak besar, namun tetap saja sakit saat mengenai bahu. Sesaat aku langsung ingat dengan pesan suara tadi. Aku berjalan ke arah kanan dan tak menoleh ke belakang. Berharap menemukan secercah harapan dengan petunjuk yang ku dapat entah dari mana datangnya. Aku hanya perlu waspada. Berharap tak bertemu Ibu tua yang membawaku ke rumahnya tadi dan tak bertemu dengan makhluk tak kasat mata lainnya.
Aku berhenti sejenak, perutku terasa amat perih karena tak makan apapun dari kemarin.
"Untung saja aku membawa singkong pemberian wanita tua tadi." aku merogoh kantong celanaku yang ternyata masih menyimpan bongkahan singkong pemberian wanita tua tadi.
"Hah, apa ini." sontak saja ku lemparkan benda putih dari kantong celanaku. Ku geser dan ku bolak balik dengan menggunakan kaki. Benda putih dan keras itu tergolek di tanah.
"Tulang. Sial, untung aku tak memakannya." umpat ku kesal. Rasa lapar ku menghilang seketika. Aku memilih untuk meneruskan perjalanan lagi.
__ADS_1