
Kondisiku semakin membaik. Bahkan kini aku sudah bisa kuat berjalan perlahan. Meregangkan badan dengan berjalan kecil-kecil di sekitar halaman rumah. Berhubung rumahku berada di komplek yang cukup sepi kalau siang, aku biasanya berjalan jalan sedikit untuk mencari udara segar di luar rumah.
"Hati-hati, Jenna. Jangan jauh-jauh. Mama harus pergi bekerja sekarang. Kalau tidak.."
"Jenna tidak apa-apa, Ma. Jenna sudah kuat." ucapku memotong ucapan Mama. Berharap ucapanku kali ini bisa menenangkan Mama. Karena beliaulah yang setiap hari menemaniku untuk berjalan keliling komplek meskipun tidak terlalu jauh.
"Sekali lagi Mama minta maaf. Nanti begitu urusan Mama selesai, Mama akan segera pulang." ucap Mama yang ku jawab dengan anggukan kepala.
Aku meminta Robby untuk datang kerumah. Sendirian si rumah dalam kondisi belum sepenuhnya pun membuatku risau. Apalagi jika sewaktu-waktu arwah Tari akan datang lagi. Atau jika benar ancaman Lukman akan terjadi padaku.
"Tapi aku nggak bisa secepatnya, Jen. Aku masih di kampus. Setengah jam lagi aku usahakan sudah sampai di rumahmu." balas Robby pada pesan yang ku kirimkan padanya beberapa saat yang lalu.
"Iya, aku tunggu." balasku singkat.
__ADS_1
"Kamu jangan kemana-mana dulu. Tetap di rumah dan telephone aku atau siapapun jika diperlukan." balas Robby lagi yang ku jawab dengan emoticon jempol pada layar gawaiku.
Ku letakkan kembali handphoneku ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Berjalan-jalan pagi sendirian rupanya membuatku mudah lelah dan bosan. Aku memilih untuk kembali pulang dan kembali ke tempat tidur.
Dug...dug...dug...
Baru saja aku berniat untuk memejamkan mata, kini sudah terdengar suara seseorang berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki dengan keras di lantai. Tidak mungkin jika itu Robby. Dia bilang kalau ia akan tiba di rumahku paling cepat setengah jam lagi, dan itu artinya ada kemungkinan kalau Robby akan tiba di rumah lebih dari waktu yang di perkirakan. Apalagi di tambah kali ini dia masih di kampus karena Robby mengambil pendidikan S2 di sela-sela waktu sibuknya bekerja.
Aku memilih untuk bangkit dan berjalan ke arah pintu. Berniat untuk mengintip ada apa dan siapa di luar sana. Kebetulan pintu kamarku menghadap ke ruangan yang menghubungkan dengan ruang makan. Dari kamarku aku bisa melihat siapa yang sedang berada di ruangan itu. Ku intip melalui pintu yang ku buka sedikit untuk melihat siapa yang saat ini sedang berada di meja makan. Namun ternyata tak begitu terlihat jelas. Aku memutuskan untuk membuka pintu kamar sedikit lebih lebar. Tampak dari belakang sosok punggung seorang laki-laki sedang duduk menunduk layaknya orang sedang makan dan menghadap ke arah lemari, dengan posisi membelakangiku yang saat ini berdiri tepat di pintu kamar. Aku mengernyitkan dahi mengingat sosok itu tidak mungkin Robby. Robby yang memiliki postur tubuh tinggi dan besar tidak mungkin akan berubah menjadi kurus dan jangkung dalam waktu singkat.
Terlihat sosok itu menghentikan kegiatannya. Tak lagi terdengar alat makan yang beradu. Jantungku mulai berdegub tak beraturan saat terlihat sosok itu hanya diam saja tanpa melakukan hal apapun selain tetap menunduk.
Brruukkk...
__ADS_1
Ku tutup segera pintu kamar saat sosok yang sedang ku amati itu tiba-tiba saja menoleh dan menatap ke arahku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk mengunci pintu kamar dari dalam. Namun karena terlalu panik, kunci yang ku pegang selalu saja terjatuh seperti ada seseorang yang sengaja membuatku gagal mengunci pintu.
Tangan dan tubuhku gemetar hebat. Menatap kedua iris mata yang menghitam dari sosok itu. Wajah yang tak asing namun terlihat sangat pucat sedikit kebiruan, membuatku mengingat siapa pemilik wajah sosok tersebut.
Setelah bersusah payah, akhirnya aku berhasil mengunci pintu kamar dari dalam. Secepat kilat ku raih ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas nakas. Menekan layar dan berusaha menghubungi sebuah nomor yang menurutku sangat penting. Tak butuh waktu lama, suara di seberang sana menjawab teleponku dengan segera.
"Hallo, ya, Jen. Aku sebentar lagi sampai." terdengar suara Robby di seberang sana. Namun bukannya aku bersuara, aku hanya terisak saat sebuah ketukan pintu perlahan terdengar di seberang kamar. Aku mundur perlahan, bersandar pada lemari dan perlahan menjatuhkan diri ke lantai. Dengan posisi duduk aku menelungkupkan wajahku di antara kedua lutut yang ku tekuk.
Robby terdengar panik di telephone. Bahkan ia melarangku untuk mematikan sambungan telephone.
"Hallo, Jen. Jenna. Ada apa? Jen, jangan matikan telephonnya. Tunggu aku sebentar lagi sampai." ujar laki-laki yang menemaniku selama ini sejak kami masih sekolah dulu.
Suara ketukan di pintu kamar mulai terdengar lebih cepat dan keras. Bahkan kali ini suaranya hampir mirip dengan sebuah gedoran. Namun tak ada suara seseorang di luar sana. Hanya suara pintu yang di ketuk berkali-kali tanpa jeda.
__ADS_1