Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Kematian Tari


__ADS_3

"Rob"


"Jen"


Kami saling memanggil satu sama lain secara berbarengan setelah berdiam diri cukup lama. Suasana kemah masih ramai. Tari sudah sadar dari pingsannya. Tapi kondisinya terlihat memprihatinkan. Dia banyak melamun dan tak nyambung saat di ajak komunikasi. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tari seperti bukan dirinya yang biasanya. Kali ini ia nampak selalu murung dan melamun. Pandangannya kosong dan hanya mau melakukan sesuatu kalau diminta. Kami semua kebingungan, entah setan apa yang telah merasuki jiwa Tari. Tommy dengan setia menemani keberadaan Tari. Meskipun dia lebih bawel ketimbang kami semua, tapi Tommy paling peduli dengan teman-temannya. Sedangkan Lukman, entahlah. Dia terlihat sibuk sendiri. Bahkan dia sering menghilang dengan berbagai alasan.


"Kamu dulu aja yang cerita, Jen." pinta Robby. Aku pun mengangguk perlahan.


"Tari dan Lukman ... " aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Seperti tercekat rongga di dadaku. Tak sanggup rasanya kalau harus menceritakan aib yang kulihat tempo hari di penginapan.


"Ada apa dengan mereka, Jen? Tolong ceritakan yang kamu tahu." ucap Robby penuh harap.


"Mereka ... berzina." ucapku setelah berfikir agak lama untuk meluncurkan kata tersebut. Seketika mata Robby terbuka lebar seolah-olah tak percaya dengan apa yang aku katakan.


"Apa? Kamu tahu dari mana?" tanyanya tak percaya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi itu memang kenyataannya." ucapku lagi dengan sedikit penekanan. Sejenak Robby terdiam. Wajahnya tampak gusar, sesekali ku lihat ia menyeka wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Bukan, bukan maksudku seperti itu, Jen." ucapnya kemudian.


"Lalu?" entah mengapa aku jadi terpancing emosi. Dia yang memintaku untuk menceritakan apa yang kutahu, tapi dia sendiri malah melotot ke arahku se olah tak percaya ucapanku.


"Bagaimana kamu tahu kalau mereka berbuat seperti itu?" tanya Robby kemudian.


"Aku melihatnya sendiri." jawabku singkat.


"A ... apa? kapan? dimana?" tanya Robby beriringan.


"Ish ... kemarin waktu masih di penginapan. Aku tak mendapati Tari di kamar, lalu aku keluar dan mendengar serta melihat mereka melakukan itu di ruang tengah." jawabku panjang lebar. Seketika aku berdiri dan berniat meninggalkan Robby.


"Tu ... tunggu. Kamu mau kemana?" tanya Robby sambil memegang pergelangan tanganku.

__ADS_1


"Aku sudah menceritakan apa yang ku tahu. Kini giliran kita mendapatkan masalah karena perbuatan mereka berdua." ucapku dengan membuang nafas kasar.


"Aaarrggghhh ... " Robby terlihat begitu frustasi. Pasti, aku pun juga demikian.


"Jen, Rob. Tari hilang." tiba-tiba Tommy mengabarkan sesuatu yang membuat kami berdiri serempak.


"Bagaimana bisa? Bukannya tadi dia sama kamu?" tanya Robby terkejut.


"Iya, tapi pas aku mau ambilin minum buat dia tahu-tahu dia sudah tak ada di dalam tenda." ucap Tommy panik. Kami pun bergegas mencari keberadaan Tari.


"Mana Lukman?" tanya Robby terlihat kesal. Tommy hanya mengangkat kedua bahu tanda tak tahu.


"Aaarrrgghhh ... kemana lagi sih itu orang." Robby terlihat gusar dan geram.


"Yasudah, kita cari Tari aja. Gak usah peduliin Lukman. Nanti juga balik sendiri." ucapku tak kalah geram. Bagaimana aku tak ikut geram. Sering sekali Lukman menghilang dari kami semua, apalagi saat-saat genting seperti ini.


"Sebentar deh." ucapku sebelum beranjak. Serentak Robby dan Tommy menengok bersamaan.


"Kenapa lagi sih, Jen." Tommy menggerutu. Sedangkan kening Robby berkerut.


"Bener juga apa yang Jenna bilang. Menurut mu gimana, Rob?" Tommy menyenggol pundak Robby yang terlihat melamun dan memikirkan sesuatu. Kemudian ia hanya mengangguk.


"Terus kita harus bagaimana?" tanyaku.


"Kita cari tau dimana Tari lebih dulu. Biasanya tak berselang lama Lukman juga akan muncul." ucap Robby di ikuti anggukan kepala oleh Tommy. Namun tidak denganku. Aku ragu kalau kali ini Tari akan baik-baik saja.


"Kalian yakin?" tanyaku ragu-ragu.


"Lantas kita harus bagaimana lagi?" tanya Robby seolah-olah ia juga tak yakin dengan ucapannya.


"Bro. Cepat ikut kita." tiba-tiba datang dua orang laki-laki yang pernah ku lihat sebelumnya. Ya, mereka anggota perkemahan lainnya yang tadi pagi ikut membantu membopong tubuh Tari saat menemukan kami.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya kami serempak.


"Udah ayo cepet. Ini menyangkut teman kalian." ucapnya kemudian membuat kami bergegas dan mengikuti mereka dari belakang. Kami berjalan tergopoh-gopoh dengan perasaan cemas dan campur aduk.


"Dimana?" tanya ku tak sabaran.


"Sebentar lagi." ucap salah satu dari mereka. Perasaanku sudah dipenuhi dengan berbagai macam pikiran buruk akan terjadi. Ku lihat kerumunan beberapa pendaki lain di sebuah tepian.


"Itu." ucap mereka.


Aku dan kedua temanku mengikuti petunjuk dua laki-laki tadi. Kami bertiga ikut melongok kebawah, tempat dimana banyak orang ikut melihat dan menunjuk-nujuk sesuatu.


"Ya Tuhan." ku paling kan wajah. Robby seolah sadar dengan yang ku lakukan. Dia merengkuh tubuhku dan menelungkupkan wajahku di dada bidangnya. Aku tak sanggup melihat kebawah. Namun aku sudah terlanjur melihat. Tubuh Tari terbujur disana dengan ranting runcing menancap di dadanya. Matanya melotot seolah akan keluar dari tempatnya. Ada beberapa tim SAR berusaha mengeluarkan tubuh Tari dari dalam jurang tersebut. Entah bagaimana bisa Tari sampai di dasar jurang seperti itu. Padahal jelas-jelas letak perkemahan dengan jurang ini terlalu jauh. Apa lagi lokasinya sangat berbahaya seperti ini. Terdengar bisik-bisik dari beberapa anggota perkemahan lainnya.


Aku tak bisa menghentikan air mata yang terus saja meleleh. Robby dan Tommy bergantian untuk menenangkanku. Rasa takut bercampur dengan rasa kehilangan sahabat yang dari kecil sudah terbiasa bersama, kini ia harus menemukan ajalnya dengan cara mengenaskan seperti itu.


Setelah membutuhkan waktu yang cukup lama dan proses yang sulit, akhirnya tubuh Tari berhasil di angkat. Aku melihat wajah perempuan bergaun merah menyeringai tak jauh dari tubuh Tari. Lagi-lagi tangisku tak dapat di bendung. Aku semakin histeris saat melihat perempuan itu mendekat dan mencoba mencabik tubuh Tari. Sungguh aku tak sanggup melihatnya. Anehnya semua orang yang berada disini sepertinya tak melihat sosok itu. Hanya aku saja.


"Rob." panggilku lirih.


"Aku lihat, Jen." jawabnya dengan mimik muka serius. Aku semakin terisak.


"Sudahlah. Ini bukan salahmu." ucapnya.


Tubuh Tari segera dibawa oleh anggota tim SAR untuk dibawa pulang. Sedangkan kami masih harus mencari keberadaan Lukman.


"Sebaiknya kamu ikut mereka pulang saja,Jen." pinta Robby.


"Enggak. Aku harus membantu mengungkap semuanya." ucapku.


Aku memutuskan untuk tetap tinggal di puncak, mengunggu sampai Lukman kembali atau di temukan. Tubuh Tari di bawa oleh petugas medis dan polisi. Aku mengabarkan kepada orang tua Tari melalui telephone dan meminta maaf belum bisa menemani Tari sampai rumah.

__ADS_1


"Maafkan Jena, Bu, Pak. Kalau kita tahu akan seperti ini, Jena akan larang Taru untuk melanjutkan rencana ini."


Meskipun mereka tak menyalahkan, namun rasa bersalah tetap ada.


__ADS_2