Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Bertemu Nenek Penjaga Warung


__ADS_3

Matahari semakin meninggi. Sedangkan tenggorokan terasa semakin kering dan lengket karena sama sekali tak kemasukan air sedikitpun. Setengah hari aku berjalan ke arah kanan, namun belum ada tanda-tanda aku akan selamat. Yang ada malah hutan belantara yang semakin lebat.


"Sialan, mengapa aku malah mengikuti petunjuk yang tak jelas dari mana datangnya." aku menggerutu sendiri. Betis ku terasa panas dan seperti mau lepas. Namun untuk kembali pun aku juga tak mungkin. Selain sudah sangat jauh aku berjalan, masih ada kemungkinan aku akan bertemu kembali dengan pemukiman milik wanita yang kemarin membawaku ke rumahnya beserta tetangganya.


"Hiii..." bulu kudukku berdiri saat mengingat kejadian malam itu. Saat laki-laki dengan wajah pucat mengeluarkan dan menyeruput dengan lahapnya setiap potongan daging dari binatang yang ia bawa. Serta bangkai binatang yang sudah membusuk tersaji rapi di dalam lemari kayu. Apa jadinya kalau semua itu masuk ke dalam perutku. Membayangkan semua itu membuat kepalaku tiba-tiba terasa sangat pusing.


"Jen ... Jena... Bangun, ayo. Jangan berhenti. Sebentar lagi." Suara wanita itu kembali membangunkan tidurku. Aku yang tak sadar kapan tertidur kini mendadak terbangun, tenaga ku terasa terisi kembali. Meskipun badan sudah terasa sangat lelah, namun harapan untuk selamatlah yang memaksaku untuk bangun dan bangkit lagi.


"Aaarrggg... apa aku harus benar-benar mengikuti suara itu?" aku menggerutu. Namun aku tetao melangkahkan kaki ku untuk terus maju. Hingga pada akhirnya,


Brrruuuggghhh ...


Pandangan seketika gelap gulita dan aku pun tak merasakan apa pun lagi. Tubuhku ambruk, menimpa sesuatu yang keras di bawah sana. Rasa sakit karena benturan tak lagi bisa ku rasa. Aku terlelap, tak tau seberapa lama. Hingga aroma sesuatu menusuk hidung, memaksaku untuk membuka kedua mata.


"Jen... Kamu sadar? Jena, kamu dengar aku?" tepukan lembut di pipi sebelah kanan membantu membuatku cepat menyadari apa yang terjadi. Aku terbangun, tidak ada siapa pun di sekitar, sepi. Aku menangis, jujur, aku takut.


"Nak. Kenapa sendirian?" sebuah suara membuatku menghentikan suara tangisanku.


"Si ... siapa?" aku menoleh ke sana kemari, tak ada siapapun. Hingga pandanganku berakhir pada sebuah sudut di bawah pohon. Sebuah warung kecil terlihat sederhana, dengan seseorang berdiri di sana. Seorang wanita tua, dengan gulungan rambut di kepalanya.

__ADS_1


Aku sudah pasrah kalau memang dia juga bukan manusia. Aku putus asa. Berharap, bisa menemukan pertolongan di saat seperti ini.


Aku berdiri, berusaha berjalan mendekati wanita itu.


"Nek, ini dimana?" tanyaku lirih dan terbata. Wanita itu tersenyum lembut. Wajahnya teduh. Membuatku merasa sedikit tenang menemukan seseorang yang ku harap bisa membantuku.


"Minumlah." wanita itu menyodorkan segelas air hangat. Ragu, tentu saja aku ragu untuk menerimanya. Bagaimana kalau ternyata dia bukan manusia. Dan air yang ku minum?


"Ah, terserah. Aku hanya butuh asupan untuk memulihkan tenaga." batinku sambil meneguk habis air dalam gelas. Seketika tenagaku kembali pulih. Wajahku terasa segar, dan bersemangat.


"Nek, aku tak punya uang untuk membayar." jelasku saat melihat nenek itu menatapku dengan senyumannya.


"Maksud nenek? Nenek sering bertemu dengan orang yang tak punya uang sepertiku?"


Wanita itu mengangguk.


"Sudah berapa lama kamu tersesat, Nduk?" tanya beliau.


"Saya kurang tahu, Nek. Tapi sepertinya sudah tiga harian." jawabku ragu.

__ADS_1


Aku menceritakan kejadian dari mana awal mulanya aku bisa sampai di sini. Si Nenek hanya mengangguk-angguk mendengarkan ceritaku. Sesekali juga menimpali dengan nasihat dan obrolan ringan membuatku sedikit melupakan rasa lelah yang sedari tadi tak begitu ku rasakan.


"Coba, Nenek lihat kaki mu dulu." pintanya membuatku tertegun.


"Hah?"


"Katanya kemarin sempat di beri obat dengan ramuan aneh dan di ikat? Coba nenek lihat sebentar." ucapnya mengulangi. Aku mengulurkan kaki sebelah kanan ku dan sebelumnya meminta maaf berulang kali karena merasa tak sopan sudah menjulurkan kaki kepada beliau.


"Lihatlah, Nduk." sang Nenek menunjukan kaki ku yang ternyata sudah di buka olehnya. Kain yang membalut rapat pergelangan kakiku itu di tariknya dan di perlihatkan padaku.


"Ta... talinya kok."


Nenek itu tersenyum.


"Tidak apa-apa. Dia hanya ingin membantu." tutur Nenek sambil membersihkan sisa ramuan yang menempel di kaki.


"Tapi mengapa harus dengan tali pocong seperti ini ya, Nek?" tanyaku.


"Hehehe... lalu mau pakai tali apa?" tawa Nenek terkekeh membuatku ikut tertawa. Tak bisa ku bayangkan selama beberapa hari ini kaki ku di ikat dengan tali milik pocong.

__ADS_1


"Hhiiii..." memikirkannya saja membuatku bergidik ngeri.


__ADS_2