
"Aduh." aku meringis menahan sakit pada pergelangan kaki ku. Entah dari kapan aku tertidur. Sepertinya sudah cukup lama aku tak sadarkan diri.
"Ya Allah, kakiku kenapa jadi begini." aku menarik pergelangan kakiku dan memijat perlahan bagian yang bengkak. Warna kaki yang tadinya normal kini terlihat berubah agak biru keunguan.
Menangis adalah cara satu-satunya yang bisa ku lakukan untuk meluapkan segala rasa yang ada saat ini. Takut, sepi, dingin, sakit bahkan putus asa semua itu bercampur jadi satu.
"Dimana Robby dan Tommy. Mengapa mereka meninggalkanku sendiri begini." aku meratap dan meraung memikirkan bagaimana nasibku selanjutnya. Akankah aku selamat, atau aku yang akan menjadi tumbal selanjutnya. Seperti Tari, yang juga kembali hanya berwujud jasad saja.
Aku menyeka air mataku. Ku perjelas pendengaran yang mungkin saja salah. Suara orang-orang yang sangat banyak dan ramai. Sepertinya ada banyak gerombolan orang di sekitar sini. Tapi dimana?
Aku mencoba bangkit dan mencoba berjalan meski dengan langkah kaki tertatih. Ada secercah harapan untukku saat mendengar suara orang-orang yang sedang mengobrol. Perlahan aku menyusuri jalan mengikuti asal suara dengan bantuan sebuah tongkat kayu yang ku bawa sebagai pegangan saat menuruni puncak gunung.
"Pa... pasar?" aku tertegun melihat apa yang ku temukan di bawah sana.
Sebuah pasar di malam hari dan begitu ramai dengan pengunjung tampak nyata di depan mata. Aku tertegun, entah mereka benar-benar nyata atau hanya halusinasi ku saja.
"Ada yang bisa di bantu?" tegur seorang wanita sambil menepuk bahuku. Aku yang seolah tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang, terlonjak kaget saat seorang wanita tiba-tiba muncul dari belakang dan menepuk pundak.
"Ee... eee... apa itu pasar?" tanyaku tergagap. Aku mengamati sosok perempuan yang saat ini bersamaku. Ia tersenyum ramah, namun...
"Benar. Mau ikut kesana?" tawarnya mengajakku untuk kesana. Aku menolak dengan alasan kaki ku bengkak dan sakit untuk berjalan.
"Oh, sebaiknya tunggu dulu disini." wanita itu memintaku untuk duduk dan menunggunya kembali dari pasar. Aku mengamati sekitar.
Aneh, perasaan tadi aku berjalan sangat jauh dan tidak pernah menemukan jalan lain untuk keluar dari dua pohon besar yang berdiri sejajar. Namun kini yang ku lihat justru sebuah pasar rakyat yang penuh dengan penduduk. Bahkan tempat ini tak pernah ku jumpai saat berangkat ke puncak waktu itu.
"Apa aku tersesat?" gumam ku. Aku memikirkan kejadian aneh yang ku alami semenjak terpisah dari kedua temanku dan kehilangan mereka. Bahkan rombongan yang lain pun tak satupun terlihat.
__ADS_1
"Sini, saya lihat dulu." wanita itu menarik kaki ku dan memeriksanya. Kemudian dia mengeluarkan entah apa namanya, seperti ramuan herbal dengan bau yang sangat menyengat dari kantong yang ia bawa. Kotor dan kumal. Seperti itulah kantong yang ia genggam sebagai tempat ia membawa barang belanjanya.
"A ... apa ini?" tanyaku ragu. Aku takut akan menyinggung perasaannya kalau aku menunjukan perasaan takutku padanya.
Wanita itu hanya terdiam. Tangannya yang sudah terlihat keriput dengan cekatan membalurkan ramuan aneh itu ke pergelangan kaki ku. Bahkan beliau membalut pergelangan kaki ku dengan sebuah kain yang juga tak kalah kumal dari kantong belanjanya.
"Bu, kalau boleh saya tahu, ini di mana ya?" tanyaku ragu-ragu.
"Masih di tempat yang sama dengan kemarin." hanya itu jawaban yang ku dapat. Apa maksudnya coba, apa ada tempat dengan nama seperti itu disini. Wanita itu berdiri dan berjalan cepat, tanpa memperdulikan kaki ku yang masih sakit, aku langsung saja beranjak dan berjalan mengikuti wanita itu.
"Mengapa kamu mengikuti ku?" wanita itu berhenti dan langsung menoleh membuatku terkejut.
"Ee... sepertinya saya tersesat, Bu." jawabku singkat.
"Lantas?" beliau menatap tajam ke arahku. Wajahnya tak seramah saat bertemu pertama tadi.
"Jangan sentuh ini." wanita itu dengan cepat meraih kantong belanjanya dan menyelipkan ke dalam ketiaknya. Aku yang merasa semakin tak enak hanya terdiam dan merasa bersalah karena membuat wanita itu tampak marah.
"Boleh kan, Bu?" kembali aku meminta, kali ini aku sedikit memohon dan berharap wanita itu luluh dan mengijinkan ku untuk ikut ke rumahnya.
"Pergilah, disini bukan tempatmu. Atau kamu akan menetap disini selamanya."
Deg
...l11Langkahku terhenti saat mendengar penuturan beliau. Lalu, aku harus bagaimana. Bahkan jalan pulang pun aku tak tahu....
"Sa... saya harus bagaimana, Bu?" tanyaku penuh harap.
__ADS_1
"Pergilah, disini bukan tempatmu." lagi, hanya itu yang beliau katakan. Bahkan solusi pun tak beliau berikan.
"Lalu saya harus bagaimana? Saya bahkan tak tahu ini ada dimana?" aku menangis sejadi-jadinya. Wanita misterius itu kembali mendekat dan menarik lenganku dengan kencang. Ditariknya tanganku dan di ajaknya berjalan cepat entah kemana.
"Ini dimana?"
Sebuah rumah yang jauh dari kata sederhana berdiri di bawah pepohonan besar yang rimbun dan banyak semak belukar di sekitarnya. Bahkan, tampak juga beberapa rumah lainnya yang kemungkinan warga sekitar yang kondisinya tak jauh berbeda dari rumah wanita paruh baya yang membawaku itu.
"Kamu tetaplah disini. Jangan keluar rumah ataupun berkeliaran tanpa sepengetahuanku." ucap wanita itu, kemudian beliau pun berlalu.
"Ibu mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Jangan banyak bertanya. Cukup ikuti saja ucapan ku." perintahnya. Aku pun langsung terdiam. Aku takut bila harus pergi lagi malam malam begini.
Kkrrriiieeett.... bulu kudukku berdiri saat mendengar derit pintu rumah saat sang empunya menutup dan menghilang beberapa saat kemudian di balik pintu reot itu. Aku menatap sekitar, bilik bambu dan beratap jerami itu memberikan kesan kuno pada hunian tersebut. Tak banyak isi perabotan rumah tersebut. Hanya ada satu periuk dan dandang yang terbuat dari tanah liat dan terlihat sangat kuno, menunjukan seberapa tua usia sebenarnya pemilik rumah ini.
Aku mengintip keluar melalui celah yang ada. Terlihat jelas suasana di luar sana, dimana ada salah satu tetangga sedang menyeret sesuatu yang tak begitu jelas bentuknya. Namun dari bayangan yang terpantul, sepertinya sebuah binatang besar sedang berusaha ia bawa untuk di bawa masuk ke dalam rumahnya.
Hoooeeekkk ...
Ternyata salah dugaan ku. Binatang itu tak di bawanya masuk untuk dimasak, melainkan langsung ia gigit dan memakannya langsung. Bahkan ususnya yang terburai itu tak luput dari santapannya. Aroma menyengat menusuk hidung saat hembusan angin menyeruak menerobos lubang tempatku mengintip keluar.
Hoooeeekkk ...
Kembali perutku serasa di kocok dari dalam memaksaku untuk mengeluarkan isi perut seluruhnya. Namun hanya perih yang ku rasakan karena tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutku.
"Aaakkhh..."
__ADS_1
Sebuah tangan mencengkeram dan menarik dengan kuat memaksaku untuk masuk ke sebuah ruang kecil tak berjendela. Tubuhku di hempas begitu saja hingga tersungkur jatuh ke lantai yang terbuat dari tanah liat yang di padatkan.