Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Bab 28 Barang Pemberian Lukman


__ADS_3

Suara adzan subuh mulai berkumandang. Pintu kamar di buka dari luar, beriringan dengan menghilangnya sosok mama di depanku.


"Mama." panggilku sembari langsung memeluk tubuh wanita yang langsung menghampiriku setelah melihatku duduk memeluk lutut di ujung tempat tidur.


"Jenna. Kamu tidak tidur, nak?" tanya Mama yang ku jawab dengan anggukan kepala. Tatapan mata sendu tersirat dari wajahnya. Aku tahu, Mama pasti khawatir dengan kondisiku yang seperti ini.


"Jen." tiba-tiba Robby datang bersama seorang laki-laki saat aku sedang bersantai di teras rumah. Dari penampilannya, sepertinya laki-laki yang di bawa Robby itu merupakan pemuka agama. Tampak dari wajahnya yang teduh dan pakaiannya yang rapi dan juga agamis.


"Eh, Rob. Nggak kerja?" tanyaku pada laki-laki yang sudah menjadi sahabatku sejak kecil itu.


"Enggak, Jen." jawabnya singkat.


Setelah ku persilahkan keduanya untuk duduk di teras, karena saat ini Mama sedang ijin bekerja sebentar dan akan pulang selepas dhuhur, jadi aku hanya mempersilahkan Robby dan laki-laki itu untuk duduk di teras saja. Meskipun sebenarnya kalau Robby sudah biasa keluar masuk rumahku dengan leluasa sejak dulu. Namun karena kali ini dia mengajak orang lain, maka aku lebih memilih untuk tetap membiarkannya di teras rumah.


"Sebentar, aku ke dalam dulu." pamitku pada keduanya. Terdengar samar-samar obrolan Robby dan laki-laki itu saat aku sedang menyiapkan minum untuk mereka. Hanya saja, apa yang mereka obrolkan tidak terdengar jelas di telingaku karena jarak teras dan dapur yang lumayan. Namun yang ku tangkap, Robby beberapa kali menyebut namaku dan teman-teman yang lainnya.


"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam di luar rumah. Sepertinya suara Mama yang sudah pulang bekerja. Ku lirik jam yang terpajang di dinding atas pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah.


"Masih jam sebelas." gumamku.


Sreeesseeetttt....


Aku menghentikan langkah saat melihat sosok melintas cepat di ruang tengah. Tanganku yang sedang memegang nampan sedikit gemetar. Perlahan kembali ku langkahkan kaki menuju depan. Dengan sesekali melirik ke ruang tengah, aku mencoba untuk berjalan lebih cepat untuk segera sampai di depan.

__ADS_1


"Aaarrrgggg..."


Hampir saja nampan yang ku pegang jatuh begitu saja jika tangan Robby tidak langsung menahan kedua tanganku.


"Hati-hati, Jen." ucapnya tanpa ada rasa bersalah.


Tubuhku gemetar. Nampan yang ku pegang bisa saja terjatuh jika Robby tak mengambil alih dan memindahkannya kedepan untuk teman laki-laki yang ia bawa kerumah.


"Jen, ada apa?" serunya saat kembali dari depan. Sedangkan aku masih saja terpaku di tempat. Air mata mengalir begitu saja, melihat penampakan yang baru saja lewat di sebelahku.


"Jen." lagi-lagi pertanyaan sahabatku itu tak ada yang ku jawab. Robby memapah tubuhku dan mendudukkannya di sofa ruang tengah. Mama segera masuk bersama laki-laki yang di bawa Robby. Berkali-kali terdengar istighfar dari mulut laki-laki itu.


Aku menoleh pada tempat dimana tadi ku lihat sosok menyeramkan.


Terlihat laki-laki itu melihat ke sekitar. Membaca doa dengan suara lirih namun masih sedikit terdengar oleh kami.


"Mba, apa Mbak Jenna punya sesuatu yang di berikan oleh teman Mbak Jenna?" tanya laki-laki itu.


Aku mengerutkan dahi tak mengerti. Namun sejenak aku mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Dimana waktu itu Lukman menghubungiku sore-sore untuk bertemu dan mengajakku makan malam. Padahal waktu itu tubuhku lelah sekali karena pekerjaanku hari itu sangat banyak danharus full di lapangan. Namun entah mengapa aku menerima begitu saja permintaan Lukman untuk bertemu dan makan malam bersama hanya berdua saja.


"Jena." panggil laki-laki yang pernah ku taksir waktu itu.


Aku yang sedang menyedot minumanku dengan pipet, sontak langsung mengalihkan pandanganku dari gelas ke laki-laki itu.

__ADS_1


"Bagus tidak?" Lukman menunjukan sebuah cincin yang menurutku biasa saja modelnya. Hanya saja, cincin itu memiliki mata yang sangat indah. Batu permata berwana merah dan mengkilap membuatku langsung jatuh cinta saat melihatnya. Aku mengangguk dan tatapanku tak berpaling dari benda yang di pegang Lukman.


"Cantik bukan?" tanyanya sekali lagi. Dan aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya yang kedua.


"Ambillah." ucapnya sambil menyodorkan cincin itu ke tanganku. Aku yang masih ragu untuk menerima pemberiannya hanya terus menggenggam tanganku hingga akhirnya Lukman meraih tanganku dan meletakkan cincin itu di telapak tanganku dan memintaku untuk segera menyimpannya.


"Simpan, ya. Buat kamu." ucapnya dengan senyum yang entah apa artinya. Kali ini aku tak menjawab. Hanya ada perasaan aneh saat menerima cincin itu dari Lukman, pria yang baru ku kenal saat kami kuliah dulu.


"Boleh dipakai?" tanyaku ragu. Namun Lukman langsung memberikan kode dengan tangan agar aku tak memakainya.


"Jangan, simpan saja. Itu barang langka." ucapnya terburu-buru.


Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Untuk apa dia memberikan barang langka padaku, bahkan melarangku untuk memakainya. Jika benar memang barang langka, seharusnya dia menyimpannya sendiri atau menjualnya pada kolektor benda antik dengan harga mahal.


"Memangnya kenapa?"aku yang merasa penasaran memberanikan diri untuk bertanya.


"Sudah, jangan banyak tanya. Yang penting ini kamu simpan, ya. Letakkan di tempat dimana kamu tidur." pesannya semakin membuatku tak mengerti.


"Bu-bukan apa-apa. Hanya saja, jika kamu letakkan di lemari atau mana pun, khawatir akan di temukan orang lain dan akhirnya di ambil. Ini sengaja untuk kamu, teman baikku." ucap Lukman membuatku sedikit kecewa. Dia rupanya hanya menganggapku sebagai teman baiknya saja. Sedangkan aku malah berharap lebih dari itu.


Aku akhirnya menuruti apa kata Lukman. Sesampai di rumah ku amati sebentar cincin bermata merah itu dan langsung menyimpannya di bawah tempat dimana aku tidur.


"Biarlah, toh permintaannya tak berlebihan." ucapku kali itu. Semenjak saat itu hingga kamu pergi untuk mendaki, perasaanku pada Lukman semakin dalam. Entah mengapa ada rasa cinta yang begitu besar pada pria yang menurutku tidak sebaik sahabat-sahabatku. Lukman sering berkata kasar, bahkan dia tak segan memberikan pelajaran pada teman-temannya jika tak mengikuti kemauannya saat kuliah dulu. Bahkan yang ku tahu, Lukman sering berganti-ganti pacar saat masih ku lihat dulu. Sering kali aku melihat sendiri dia berjalan dengan mesra dengan perempuan yang berbeda, anehnya aku tak pernah sakit hati. Rasa cintaku padanya pun malah semakin besar.

__ADS_1


Sampai aku melihat Tari dan Lukman berbuat tidak senonoh pun aku tak bisa membencinya. Aku malah kecewa dengan Tari yang tega mengkhianatiku. Padahal Tari tahu jika aku menyukai Lukman sejak kuliah. Sedangkan Tari dan Lukman berkenalan setelah aku yang memperkenalkan mereka berdua.


__ADS_2