
Aku berusaha meraih gelas yang terletak tak jauh dari tempatku terbaring. Tanganku masih terasa sangat lemas. Bahkan sendi-sendiku terasa kaku dan sulit di gerakkan. Namun rasa haus yang teramat, memaksaku untuk bangkit dan mencoba meraih gelas untuk menuntaskan dahagaku.
Pprraaannnggg...
Gelas yang ku pegang jatuh dan hancur berkeping-keping. Sekuat tenaga aku berusaha bangkit dan berniat untuk mengambil pecahan gelas yang berserak.
"Jenna, biar mama saja." Mama yang langsung masuk saat mendengar keributan di kamar, bergegas lari dan mencegahku untuk turun dari tempar tidur. Aku yang memang sangat lemah hanya mampu meneteskan air mata saat melihat malaikat tanpa sayap yang selama ini telah membesarkanku, kini kerepotan mengurusku lagi yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Maafkan Jenna, Ma." bisikku perlahan.
Mama memintaku untuk memanggil beliau saat membutuhkan bantuan. Bahkan Mama bersedia menungguiku dua puluh empat jam di khawatirkan aku akan melukai diriku sendiri karena belum mampu melakukan apapun sendiri.
"Tidak, Ma. Jenna mau sendiri untuk sementara waktu." tolakku pada mama.
Sementara itu aku memilih untuk menyendiri. Bahkan Robby pun ku tolak saat ingin mampir setelah pulang kerja. Aku masih nyaman untuk sendiri dan merenung. Kembali memikirkan rentetan kejadian yang mampu ku ingat sebelum dan selama pendakian. Bahkan kejanggalan-kejanggalan yang sempat ku alami selama di gunung serta saat tersesat.
"Jenna. Maafin aku." sosok wanita itu muncul lagi. Kali ini dengan wujud aslinya, wujud yang sangat ku kenali. Sosok wanita yang selama ini menjadi sahabatku, menjadi saudari perempuanku, tempat aku berkeluh kesah dan berbagi cerita. Dia wanita yang pertama kali ku beritahu kalau aku mencintai sosok laki-laki yang belum lama ku kenal. Bahkan laki-laki itu ku perkenalkan padanya dan juga teman-teman lainnya.
__ADS_1
"Mau apa lagi kamu kesini?" tanyaku lirih.
"Jen, aku sungguh minta maaf." Tari memelas dengan suara paraunya.
Takut? tentu saja. Aku tahu betul siapa sosok di depanku saat ini.
"Aku sudah memaafkanmu. Sekarang kamu pergilah." ucapku dengan perasaan takut.
"Berhati-hatilah. Lukman masih mengincarmu." ucap Tari membuatku terhenyak.
"Berhati-hatilah, Jen. Aku menyayangimu."
Sslllaaappp...
Sosok itu menghilang dalam sekejap, bahkan sebelum aku kembali membantah ucapannya. Diam, aku memikirkan ucapan Tari. Memintaku untuk berhati-hati pada Lukman. Sedangkan saat itu, aku melihat wujud Lukman sudah mengerikan seperti kondisi Tari saat di temukan. Hanya saja, jasad Lukman belum di temukan sampai saat ini.
Ku raih gawai yang ku letakkan tepat di samping aku tidur untuk memudahkan aku saat membutuhkannya.
__ADS_1
"Rob, bisa kesini?"
Robby yang baru saja ku telephone, tak lama langsung tiba di rumah. Dia memang paling cepat jika di panggil saat aku butuh bantuan.
"Ada apa, Jen? Tadi aku kesini, katanya kamu lagi tak ingin di ganggu." ucap Robby sambil menarik kursi di sebelahku.
Aku menghembuskan nafas kasar. Bingung mau memulai dari mana. Apa mungkin dia akan percaya atas apa yang sudah ku alami. Bertemu Tari, dan mengatakan untuk aku berhati-hati dengan Lukman.
"Hey, ada apa? Cerita saja. Siapa tahu aku bisa bantu." ucapnya lembut.
Perlahan lahan ku ceritakan apa yang ku alami. Di datangi arwah Tari dan juga pesannya untuk tetap berhati-hati.
"Apa kamu percaya?" tanyaku ragu.
Robby tampak menghela nafas berat. Lama dia terdiam.
"Aku percaya. Aku akan cari tahu soal Lukman. Ku kira, semuanya sudah selesai." ucap Robby datar. Terlihat dari wajahnya dia terlihat gelisah.
__ADS_1