
Aku menyerahkan cincin bermata merah itu pada Pak Syarif, laki-laki yang datang bersama Robby tadi.
"Ini, Pak." ucapku sambil meletakkan cincin itu di meja. Pak Syarif sepertinya enggan menerima langsung dari tanganku. Terlihat dia sedang mengamati benda bulat dengan batu permata cantik itu di meja. Sesekali mulutnya terlihat komat-kamit membaca doa. Kadang dahinya juga tampak berkerut seperti sedang berpikir keras. Tak lama kedua matanya terpejam. Berkali-kali mulutnya mengucap istighfar. Sepertinya dia sedang melakukan hal yang tidak ku mengerti.
Tak ada suara ataupun gerakan dari Mama dan Robby. Semua tampak terdiam dan tampak khusyuk menunggu Pak Syarif selesai melakukan doa.
"Mbak Jenna." Pak Syarif menyadarkan lamunanku.
"Ya, Pak." jawabku sedikit gugup.
"Sebaiknya cincin ini di musnahkan saja." ucap Pak Syarif memberikan nasihat.
"Memangnya kenapa, Pak? Itu pemberian teman saya." ucapku sedikit ragu.
"Justru inilah alat perantara yang di gunakan oleh teman Mbak Jenna untuk membuat Mbak Jenna dan teman-temannya seperti ini." ucap Pak Syarif sambil kembali meletakkan cincin itu di meja.
"Maksudnya bagaimana, Pak?" tanyaku dan Robby bersamaan.
Pak Syarif terlihat menghela nafas panjang.
"Nanti saya jelaskan. Tapi bisakah kita musnahkan ini sekarang?" tanya Pak Syarif kemudian.
"Boleh, Pak." jawab Robby tanpa persetujuanku. Aku yang mendengar jawaban Robby hanya menoleh dan kembali menatap cincin bermata indah itu. Jujur aku sangat menyukainya. Modelnya yang unik dan mata cincin yang bersinar sudah berhasil membuatku jatuh cinta saat pertama kali menerima benda itu dari Lukman beberapa bulan lalu.
"Bagaimana, Mbak Jenna?" kembali Pak Syarif mengulangi pertanyaannya. Ku lihat Mama, wanita itu mengangguk memberikan syarat jika aku harus menerima saran dari Pak Syarif.
"Ba-baiklah, Pak. Silahkan." ucapku sambil mengangguk pasrah. Ku lihat Pak Syarif kembali membaca doa-doa yang sebagian besar aku juga menghafal bacaannya. Cincin itu dia ambil, dan di masukannya kedalam sebuah sapu tangan miliknya.
"Mbak, ini saya bawa, ya. Semoga semua gangguan yang mbak Jenna alami akhir-akhir ini akan segera menghilang." ucap Pak Syarif yang ku ikuti dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Apa Jenna bisa kembali seperti semula, Pak?" tanya Mama penuh harap.
"Bisa, Bu. Penghantar guna-gunanya sudah saya amankan. Nanti setelah di musnahkan, InsyaAllah semua akan kembali seperti semula." ucap Pak Syarif membuat kami semua terperanjat.
"Guna-guna?" aku tak habis pikir jika Lukman tega melakukan hal sekeji itu padaku. Apa motifnya aku pun juga belum paham.
"Memangnya hal seperti ini bisa di obati, Pak?" Mama kembali memastikan.
"InsyaAllah, Bu. Kembali ke Mbak Jenna sendiri. Mulai sekarang, berusaha untuk selalu dekat dengan Sang Pemberi Hidup. Jangan lupa untuk selalu mengerjakan kewajiban dan setidaknya berusaha menjaga diri agar hal seperti ini tidak akan terulang kembali." ucap Pak Syarif.
Sekilas ku lirik tempat dimana tadi ku lihat sosok wanita merah yang menyeramkan. Sosok itu sudah tak tampak lagi.
"Jenna, sejak kapan Lukman memberikan kamu benda seperti itu?" tiba-tiba Mama bertanya saat Robby dan Pak Syarif pamit untuk pulang. Cincin pemberian Lukman di bawanya serta. Pak Syarif bilang, benda itu harus di kembalikan ke asalnya. Tempat dimana Lukman meminta benda seperti itu dulu.
"Beberapa bulan lalu, Ma." ucapku lirih.
Sejenak aku berpikir sebelum melanjutkan obrolan dengan Mama.
"Ada Ma. Dari bentuknya saja sudah terlihat aneh. Lalu, aku juga sering merasa hampa jika tak melihat Lukman barang sehari saja." Mama menghela nafas panjang saat mendengar penjelasanku.
"Mudah-mudahan setelah ini kamu bisa terlepas dari semuanya, Nak." ucap Mama yang ku jawab dengan anggukan kepala.
***
Satu bulan setelah Pak Syarif membawa serta cincin bermata merah itu. Aku sudah tidak lagi melihat sosok-sosok aneh di rumah. Bahkan sosok Tari yang sering datang pun kini sudah tidak terlihat. Hanya saja, pikiranku masih memikirkan mereka. Nasib Tommy yang harus meregang nyawa karena berusaha menyelamatkanku. Dan Lukman yang sampai saat ini belum di temukan.
"Jangan sering melamun, Jen." ucap Robby sore tadi. Ia kini jadi lebih sering datang berkunjung kerumah setelah pulang kerja.
"Aku hanya kepikiran sama Tommy dan Tari. Bagaimana nasib mereka di sana." ucapku.
__ADS_1
"Kata Pak Syarif, mereka kembali ke pencipta. Sedangkan sosok-sosok yang sering kamu lihat itu hanyalah jin yang menyerupai mereka berdua." ucap Robby berusaha menenangkanku.
Entahlah, aku juga tak tahu pasti bagaimana mereka saat ini. Tapi semoga saja, apa yang di ucapkan oleh Pak Syarif benar adanya. Aku tak tega jika ruh Tari dan Tommy tidak benar-benar kembali ke sang pencipta, tapi malah terjebak di dunia lain dan menjadi budak para setan seperti cerita di film-film pada umumnya.
***
Sore itu, sambil menunggu Mama pulang kerja, aku memilih untuk menonton televisi. Untung saja hari ini aku bisa pulang lebih cepat.
Sebuah berita menyiarkan tentang di temukannya sosok mayat laki-laki dengan kondisi mengenaskan. Dimana banyak luka tak wajar namun bukan hasil dari kejahatan manusia.
Trriingg...
Sebuah pesan masuk ke dalam gawai.
"Jen, Lukman di temukan. Tapi kondisinya sudah mati mengenaskan." isi pesan teks yang ternyata dari Robby.
"Aku mau ke sana. Kamu tak perlu ikut. Biar ku ceritakan nanti setelah kembali." lagi, Robby mengirimkan pesan yang sebelumnya belum sempat ku balas.
Akhirnya Robby pergi menyusul jenazah Lukman ke gunung. Katanya, luka di tubuh Robby tak bisa di sebut sebagai korban pembunuhan. Lukanya tak wajar. Bukan seperti bekas penganiayaan manusia.
"Kasusnya di tutup, Jen. Keluarganya tidak ingin memperpanjang urusannya." ucap Robby saat kembali. Aku termenung, memikirkan nasib laki-laki yang dulu pernah membuatku tertarik. Namun kini, semua rasa sudah hilang. Yang ada hanya rasa sesal telah mengenalnya dan rasa kasihan karena akhir hayatnya harus seperti itu.
Sejak kejadian itu aku lebih memilih untuk berhati-hati dengan orang lain. Tak sembarangan menerima pemberian orang lain dan selalu berusaha untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.
"Jen... Jenna... Tolong aku." sontak aku menoleh ke arah cermin di kamar mandi yang berada di kantor, karena saat itu aku sedang berada di sana. Sebuah pemandangan yang mengerikan kembali terlihat. Wanita menyeramkan itu menarik sosok laki-laki bertubuh kurus dengan sebuah rantai yang mengikat tubuhnya. Sesekali cambukan keras ia layangkan dan seketika membuat tubuh lelaki kurus itu langsung membiru dan mengeluarkan darah serta nanah. Tubuhku mendadak lemas, pandanganku kabur dan berputar-putar. Aku mencoba bersandar pada dinding kamar mandi, berharap bisa menopang dan menahan tubuhku agar tak jatuh ke bawah.
Itulah terakhir kali aku melihat Lukman setelah kematiannya. Mungkin kini ia merasakan hal yang sama dengan apa yang sudah ia perbuat pada Tari dan Tommy. Bahkan mungkin masih ada lagi korban lain yang tidak ku ketahui. Sejak saat itu, aku tak pernah melihat mereka lagi. Aku juga tak menceritakan kejadian yang ku lihat pada Robby dan Mama. Semua ku simpan sendiri. Sebagai pelajaran, agar tidak ada sedikitpun niat untukku bersekutu dengan makhluk gaib. Karena kebahagiaan yang di dapat dengan bersekutu dengan mereka, pada akhirnya hanya akan ada kesengsaraan yang di dapat.
Terimakasih banyak untuk para reader setia Mendaki Gunung Slamet. Cerita saya tamatkan disini. Nantikan cerita selanjutnya, yaaa....
__ADS_1