
Aku tersenyum kala melihat tempat yang sepertinya tak asing untukku. Tempat yang sepertinya pernah ku datangi sebelumnya. Aku mencoba untuk keluar dari lubang dengan berpegangan akar-akar rumput liar. Rumput yang merambat dan sangat kuat.
"Itu, itu. Tolongin. Siapa itu." terdengar sebuah suara samar-samar sebelum akhirnya aku terlelap dan tak sadarkan diri.
Aku menggeliat, merasakan seluruh tubuhku yang remuk redam. Meringis menahan sakit serta merintih karena nyeri yang tak terhingga.
"Jenna. Bangun." sebuah suara yang sangat ku rindukan terdengar membangunkan.
Aku mendengarnya, namun aku tak bisa membuka mata. Rasanya sangat berat dan susah seperti terkunci.
"Jenna, kamu dengar mama?" ya, itu suara Mama. Sedang apa Mama disini? Atau aku hanya bermimpi.
__ADS_1
"Mama, Jenna kangen, Mama." rasanya ingin sekali aku berteriak memanggil Mama dan memeluknya. Namun rasanya tubuh ini sangat sulit di gerakkan. Bahkan mulutku terasa terkunci sehingga tak mampu mengeluarkan kata barang sepatah kata pun.
"Sabar, Bu. Nanti Mbak Jenna akan sadar sendiri. Kita sabar dan banyak berdoa. Sepertinya jiwanya belum seutuhnya kembali."
"Jiwa? Kembali? Jadi apa maksudnya semua ini?" Aku mendengar suara ucapan mereka, namun aku tak bisa ikut menimpali. Aku ingin memberitahukan kalau aku baik-baik saja.
"Memangnya apa yang membuat anak saya belum sadar juga, Pak? Tapi Pak Kromo lihat sendiri kan? Anak saya bergerak." terdengar suara Mama dengan menahan isak tangisnya. Ya, aku tahu kalau Mama menangis kali ini.
"Sepertinya Mbak Jenna sudah memakan makanan dari alam sana, Bu. Jadi itu yang membuat jiwanya belum kembali seutuhnya." jawab suara lelaki yang ku ketahui bernama Pak Kromo itu.
________
__ADS_1
Aku masih saja bisa mendengar suara mereka mengobrol di dekatku. Hanya saja, anehnya aku sama sekali tak bisa menjawab atau ikut menimpali obrolan mereka. Aku hanya bisa mendengar kala Mama berdoa berharap aku segera sadar. Papa yang selalu menelepon dan menanyakan keadaanku, dan Robby. Ya, ternyata ada Robby disini. Rupanya dia sudah selamat. Hanya saja, aku tak mendengar suara Tommy. Robby yang menemani Mama menjagaku saat ini. Bahkan ku dengar, Mama menitipkan aku saat Mama ingin pergi saat ada keperluan.
"Jen, ayo sadar. Ayo kita lekas pulang. Nggak bakal ku ajak muncak lagi kalau kamu begini terus." suara Robby terdengar parau. Rasanya ingin sekali aku tertawa saat mendengar dia sedikit terisak saat memintaku untuk segera sadar.
"Mas, belum sadar juga?" suara Pak Kromo kembali terdengar.
"Ini mau bagaimana, Pak." tanya Robby pada Pak Kromo.
"Kita akan mengadakan ritual untuk memanggil seluruh jiwanya Mbak Jenna, Mas.
"Ritual?" apalagi ini. Aku sudah muak sekali dengan hal-hal berbau mistis. Aku ingin pulang. Aku sudah berada disini, hanya saja aku tak bisa bergerak.
__ADS_1
"Ritual bagaimana, Pak?"terdengar suara Robby mewakili rasa penasaranku.
"Oohh, bukan ritual yang aneh-aneh. Kita hanya akan berdoa dengan bantuan sesepuh disini untuk meminta dikembalikannya Mbak Jenna agar segera sadar. Saya sepertinya tidak salah menebak, Mbak Jenna sudah kembali. Hanya saja masih ada ikatan dari alam sana, mungkin Mbak Jenna memakan makanan pemberian dari makhluk di alam sana." jelas Pak Kromo membuatku teringat dengan makanan yang di berikan oleh Nenek Rampi.