Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Kosong


__ADS_3

Sayup-sayup aku mendengar suara saling bersahutan memanggil namaku. Namun sedikitpun aku tak mampu mengeluarkan suara untuk menjawabnya. Yang ku bisa hanya menatap satu-persatu deretan orang-orang yang tengah mengerumuniku.


"Jenna, ini Mama." Seorang wanita memegang tanganku dan menyebut dirinya Mama. Entah apa yang terjadi padaku. Mengapa aku mendadak tak mengenali mereka semua. Aku hanya diam dan hanya bisa mengamati satu persatu. Tak ada yang bisa ku ucapkan. Hingga aku menunjuk ke sebuah meja, dan disitu ada beberapa gelas berisi air. Seseorang meraihnya dan memberikannya padaku.


"Tenang, Bu. Mbak Jenna bakal sembuh. Dia hanya perlu pemulihan." jawab seorang laki-laki yang ku tak tahu siapa namanya. Jenna? apa itu namaku? Aku sedikit mengingatnya. Aku menoleh saat orang itu menyebut namaku.

__ADS_1


"Apa dia linglung?" terdengar seseorang berbisik kepada laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Sedangkan yang di tanya hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala.


"Aaaaakkkhhh..." aku merintih. Meraba tanganku yang begitu nyeri dan sakit entah mengapa. Aku tak ingat apapun. Yang ada di ingatanku, aku di sekap dan di ikat dengan tali oleh seorang Nenek Tua. Setelah itu aku melarikan diri dan terus berlari hingga membuat kedua kaki ku terluka dan membengkak. Aku meraba telapak kaki ku. Tampak memerah dan melepuh. Di kedua lengan tanganku bahkan ada bekas ikatan memerah dan membuat kedua lenganku membengkak.


Aku di gantikan pakaian oleh wanita yang mengaku sebagai Mama. Sedangkan yang lain entah berembug apa di luar kamar. Bahkan aku pun tak tahu saat ini berada dimana.

__ADS_1


"Pak Kromo. Lihat, mengapa anak saya jadi seperti itu?" aku mendengar Mama mengobrol dengan laki-laki yang bernama Pak Kromo. Sesekali matanya melihat ke arahku, bahkan sesekali pula aku di tunjuk-tunjuk. Sedangkan Pak Kromo hanya diam dan memperhatikanku dari kejauhan.


Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan saat ini aku tak mampu mengingat mereka semua. Namun di dalam hati, aku sangat merindukan wanita yang menyebut dirinya Mama. Rasanya aku ingin berlari dan segera memeluknya. Namun aku ragu, aku takut. Sosok wanita tua yang menyekapku mengatakan, kalau jiwaku sudah di serahkan sebagai tumbal. Itu artinya, aku adalah tawanan setan. Lalu siapa yang sudah menumbalkan aku.


"Jenna, kamu mengenalku?" seorang pria datang dan menghampiri. Wajahnya teduh, namun aku juga tak mengingatnya. Namun melihat wajahnya, membuatku sangat sedih. Entah apa artinya.

__ADS_1


"Jen, Tommy sudah pergi. Kamu jangan cari dia lagi, ya." pria itu menceritakan apa yang sering kami lakukan bersama. Siapa saja yang sering bersamaku, dan pengalaman apa saja yang sering kami lakukan. Terlihat pria itu sesekali menyeka air matanya. Namun tidak denganku. Pikiranku kosong, bahkan tatapan mataku juga kosong. Aku mendengar semua yang ia ucapkan, namun aku tak tahu bagaimana cara merespon ceritanya. Yang ku tahu, sebuah desakan dalam hati memaksa ku untuk mengeluarkan cairan bening dari kedua bola mataku. Cairan panas itu perlahan meleleh dan membasahi kedua pipi.


__ADS_2