Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Pengorbanan Tommy


__ADS_3

Rasanya tubuhku begitu sakit dan berat. Namun seberapapun aku mencoba untuk bergerak, rasanya semua itu mustahil dan sia-sia. Seperti ada yang mengikat erat dan mencegahku bergerak.


Alunan suara pengajian terdengar oleh telingaku. Namun saat aku ingin menoleh dan melihat, mata ini sangat sulit untuk di buka.


"Apa mungkin aku buta?" gumamku hampir frustasi. Apa-apaan ini, kemarin aku tersesat dan berjalan kesana kemari sendirian. Sekarang aku harus buta setelah berhasil lolos dan kembali ke keluargaku.


Sebuah tangan mengusap lembut dahi dan membelai rambutku. Tangannya terasa begitu lembut dan halus. Isak tangis lirih terdengar dari mulutnya.


"Mama." gumamku. Tentu saja Mama tak mendengar suaraku. Rasanya aku ingin berteriak dan memberitahukan bahwa aku baik-baik saja.

__ADS_1


"Aaaakkkhhh..." aku berteriak saat sebuah cairan yang mungkin itu air membasahi seluruh tubuhku. Dari ujung kaki, perlahan naik ke atas hingga kepala. Rasa panas sangat ku rasakan setiap siraman-siraman kecil itu mulai membasahi kulitku. Aku berteriak sekuat tenaga, namun rupanya sia-sia. Gayung itu tetap menari-nari di atas tubuh ku dan seseorang mengucuriku dengan air di dalamnya. Tentu saja dengan aroma bunga yang, aaahhh, entahlah. Aromanya saja aku tidak suka.


"Mama, ampun, Ma. Panas sekali rasanya tubuhku." aku meronta, berteriak meminta tolong. Namun rupanya tak satupun yang menggubris. Hingga pada akhirnya sebuah sosok wanita mendatangiku. Dan disitulah pertama aku bisa melihat setelah bisa kembali dari dunia lain. Sosok wanita yang pernah ku lihat, bahkan sepertinya aku pernah berbicara padanya.


"A-apa ini?" aku baru sadar saat melihat apa yang wanita itu pegang di tangannya. Sebuah tali tambang yang sangat besar ia ikatkan kuat-kuat pada tubuhku. Terlihat wanita itu menarikku dengan paksa hingga ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membawaku. Di satu sisi, beberapa orang berusaha memanggilku. Tak begitu jelas siapa mereka yang memanggilku karena udara tiba-tiba saja berkabut dan menghalangi pandangan. Namun dari suara yang ku dengar, tampaknya mereka keluargaku dan juga Robby.


"Nek, lepaskan saya. Saya mau pulang." ucapku sambil memberontak, meronta agar segera di lepaskan. Namun rupanya wanita tua itu yang ternyata orang yang menolongku saat di dekat pasar dan mengikat pergelangan kaki ku dengan kotoran dan tali pocong malah semakin kuat menarikku.


Akhirnya terjadilah hal tarik menarik antara nenek tua itu dan juga beberapa orang yang memanggilku. Aku tak melihat wajahnya, hanya wanita tua itu saja yang ku lihat wajahnya dengan jelas. Tak ada yang mau mengalah. Begitu juga denganku. Aku tak ingin kalah dengan peperangan ini. Aku ingin pulang. Aku rindu dengan semuanya.

__ADS_1


"Lepaskan, Nek. Kamu bisa membawaku saja." sebuah suara muncul tiba-tiba dari dalam kabut.


"T-Tommy?" aku menjerit saat Tommy mendekat ke arah wanita tua itu dan tangan wanita itu segera mencengkeram lehernya. Namun tak ada ekspresi apapun pada wajah Tommy. Dia hanya tampak tersenyum, lalu menyuruhku untuk segera pulang.


"Pulanglah, Jen. Hiduplah dengan baik." sebelum akhirnya makhluk itu lenyap dengan membawa Tommy di tangannya. Aku menangis sejadi-jadinya melihat salah satu sahabatku mengorbankan hidupnya untukku.


"Tommy. Tega sekali kamu pergi dengan cara seperti ini. Bukan seperti ini yang ku mau. Kembalilah." aku meratap, berteriak dan menangis memanggil Tommy berharap dia akan mendengar dan kembali lagi.


"Jen. Jenna. Pak, Jenna mengeluarkan air mata." terdengar suara yang ku tahu itu Mama. Aku semakin terisak, aku rindu Mama. Namun aku juga ingin mencari Tommy lagi.

__ADS_1


"Jen. Kamu lihat kita?" sayup-sayup aku melihat beberapa orang mengerumuniku. Tubuhku yang hanya di balut dengan kain jarik tampak basah dan aku kedinginan. Rupanya aku telah dimandikan oleh beberapa orang entah untuk apa tujuannya. Yang pasti, air yang tadinya panas membuat tubuhku rasanya hampir melepuh kini malah membuatku menggigil kedinginan.


__ADS_2