Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Bertemu Kakek Tua


__ADS_3

Aku berhenti sejenak, mencoba memutuskan ke arah mana aku akan berjalan. Matahari pun semakin meninggi, namun cuacanya terasa tak begitu panas.


Sepanjang mata memandang, aku hanya melihat papan kayu yang di pasang berjajar. Tidak ada batu nisan layaknya di pemakaman pada umumnya. Hampir keseluruhan kayu-kayu nya pun telah lapuk dan keropos. Bahkan gundukan tanahnya hampir rata dan hampir tak di kenali kalau itu adalah pemakaman. Aku berjalan perlahan, takut jika tiba-tiba saja dengan tak sengaja menginjak papan atau bahkan menginjak makam yang memang sudah hampir tak bisa di kenali.


Tiba-tiba saja cuaca yang semula cerah mendadak menjadi mendung dan gerimis. Lumayan menyegarkan untuk tubuhku yang sudah tak mandi berhari-hari. Hanya saja, kalau sampai baju ku basah, tak ada lagi kain yang bisa ku gunakan untuk menggantikannya.


Dengan terseok-seok aku berjalan menurun. Jalanan yang mulai licin dan berkerikil membuat semakin sulit medan yang harus ku lalui. Air di botol sudah semakin sedikit. Sedangkan bekal makanan yang di berikan oleh Nenek Rampi belum sempat ku buka. Niatku nanti saja kalau sudah menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat.


"Dimana ini sih, mengapa dari tadi tak ada rumah satu pun yang ku temui." gumamku yang mulai putus asa. Masalahnya sepanjang perjalananku menuruni lereng gunung, hanya ada makam saja yang ku lihat. Sedikitpun belum menemukan tanda-tanda aku akan bertemu dengan warga atau pun pemukiman penduduk.


Aku duduk di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Daun-daunnya lumayan rimbun dan sedikit menahan jatuhnya air hujan yang semakin bertambah agar tak membasahi tubuhku yang sudah mulai kedinginan.


"Itu apa?" aku berdiri dan memastikan bahwa apa yang ku lihat itu benar dan tidak hanya halusinasi ku saja. Sebuah bangunan dari tembok yang tampaknya masih bagus dan cukup baru, dengan atap dari asbes atau seng yang masih terlihat mengkilap. Aku harus sedikit bersabar karena rupanya hujan malah semakin deras. Namun setidaknya aku akan menemukan tempat untuk beristirahat dan meminta pertolongan di rumah itu. Pastinya akan ada orang yang tinggal disana dan akan memberikan ku bantuan untuk bisa pulang.


"Aku mengitari bangunan yang dengan susah payah ku datangi ini. Bagaimana mungkin ini ada yang menemani, kalau pintu dan jendelanya saja tidak ada. Aku berputar beberapa kali untuk memastikan kalau benar-benar tak ada tempat untuk ku meminta tolong. Tanah yang becek karena hujan baru saja membuat sepatuku semakin parah rusaknya. Kedua telapak kaki juga semakin terasa dingin dan keriput.


"Ah, sial. Ini mah cungkup" aku mengumpat kasar karena merasa tertipu dan kecewa. Aku lupa dimana aku berada saat ini. Seharusnya aku harus bisa menjaga etika dan ucapan saat di tempat seperti ini.

__ADS_1


"Cari apa, Nak?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Seorang lelaki tua membawa cangkul muncul entah dari mana. Aku yang terkejut langsung melompat dan bersembunyi di balik bangunan yang mirip rumah tetapi sangat kecil ini.


"Jangan takut, kamu cari apa?" laki-laki tua itu mengulangi pertanyaannya.


"Bapak manusia kah? Atau bukan?" aku memberanikan bertanya seperti itu, karena aku merasa sudah sangat lelah dan ingin cepat pulang.


"Hehehehe..." laki-laki tua itu malah terkekeh mendengar pertanyaan ku.


"Kenapa memangnya kalau saya bukan manusia?" jawab lelaki tua itu sambil menurunkan cangkul yang ia pikul di pundak.


"B-buat apa itu, Kek?" tanyaku perlahan.


"Makam." jawabnya singkat. Laki-laki itu tak menoleh. Ia hanya terus menggali dengan cepat. Mungkin karena tanahnya yang basah sehingga membuatnya mudah untuk mencangkul nya.


Laki-laki itu terduduk di bawah pohon tak jauh dari makam yang sudah beliau gali sendirian. Aku memberanikan diri untuk keluar dari balik bangunan dan duduk bersandar pada dinding cungkup itu.


"Kakek kok sendirian? Memangnya tidak ada yang membantu menggali makam?" tanyaku mulai basa basi.

__ADS_1


"Tidak ada. Lagi pula, rumah yang seharusnya di tempati untuk diri sendiri, bukankah akan lebih baik kalau kita sendiri yang membuatnya?" ucap kakek tua itu sambil terkekeh membuatku menelan saliva mendengar ucapannya. Terdengar aneh di telingaku, namun apa yang aneh aku pun tak tahu. Hanya merasa janggal dengan ucapannya dan membuatku enggan untuk menanyakan lagi.


Terlihat kulitnya yang keriput, tulang-tulangnya juga terlihat amat jelas menandakan betapa senjanya usia laki-laki itu. Kedua kelopak mata yang tampak sayu, wajah yang terlihat pucat mungkin karena lelah. Membuatku merasakan iba yang mendalam. Aku memberanikan diri untuk mendekat, mencoba menawarkan bekal yang di berikan Nenek Ranti untuk beliau. Dengan tangan gemetar, laki-laki itu menerimanya.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya laki-laki itu.


"Seseorang yang ku temui sebelum sampai kesini, Kek. Dia menolongku." jawabku sambil membuka bungkusan itu yang ternyata benar berisi makanan.


"Kalau begitu makanlah. Itu memang untukmu. Bukan untuk kakek." ucapnya.


"Kita makan bersama ya, Kek." tawar ku yang tetap di tolak oleh beliau.


"Berjalanlah ke arah sana. Nanti kamu akan menemukan jalan pulang." tiba-tiba laki-laki itu berdiri dan memintaku untuk segera pergi.


"Loh, Kek. Kakek mau kemana? Makan ini dulu." ucapku sambil sibuk membungkus kembali makanan yang belum selesai ku makan. Berniat ingin menyusulkan makanan untuk di berikan pada kakek tua itu, namun saat aku menoleh rupanya pria tua itu sudah tidak ada lagi.


Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku mencari dan menoleh ke semua penjuru. Mencari sosok pria tua yang membawa cangkul tadi, namun sosoknya sungguh menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Hanya tanah bekas galian yang benar-benar ada. Tidak mungkin laki-laki yang sudah sangat tua, untuk berdiri saja sedikit butuh bantuan bisa berjalan dan menghilang dengan cepat. Aku menggenggam erat bungkusan makananku, lumayan untuk nanti berjaga-jaga bila lapar melanda dan belum juga di ketemukan jalan keluar. Untung saja aku masih ingat petunjuk yang di berikan oleh kakek tua yang belum ku tanya siapa namanya. Aku berjalan terus dan kali ini jalanan sudah semakin mudah. Tak banyak rerumputan liar maupun batu-batuan besar. Hanya batu kerikil dan beberapa batu besar yang tidak mengganggu perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2