
Seminggu sudah aku di temukan. Selama seminggu itu pula, banyak ritual yang di lakukan oleh sesepuh desa setempat. Begitu juga dengan banyak melalui bantuan kyai yang membantu mendoakan dan berusaha mengembalikan kewarasan ku yang hilang akibat tersesat di alam lain selama tiga minggu. Sungguh mengejutkan memang saat Mama dan orang-orang sekitar memberitahukan ku berapa lama aku menghilang. Selama itukah? Sedangkan yang ku rasakan hanya selama tiga hari saja aku berjalan, lontang-lantung ke sana kemari mencari jalan keluar yang tak kunjung juga ku temukan.
Perlahan Mama dan Robby menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dari awal mula kami berangkat hingga akhirnya aku di temukan.
"Ja-jadi, Tommy?" Robby mengangguk. Mendengar cerita Robby tentang Tommy membuatku marah dan terpukul. Bagaimana bisa dia mengorbankan dirinya demi menolongku. Sosok hitam yang berasal dari laki-laki yanh mengikuti kami sejak awal kami berniat turun gunung tiba-tiba saja mengejar kami, dan membuat kami bertiga terpisah. Para pendaki lain bahkan tak ada satupun yang menolong kami. Sepertinya mereka di buat tak melihat kami bertiga hingga membuat kami bertiga kelimpungan sendiri karena di kejar makhluk dari alam lain. Kata Robby, saking takutnya aku berlari entah kemana tanpa memperdulikan mereka berdua, Robby dan Tommy yang awalnya masih bersama-sama denganku akhirnya terpisah. Aku berlari dan tak menoleh saat di panggil. Bahkan katanya aku menyusup ke semak-semak dan masuk ke hutan sehingga membuat mereka kesulitan mencariku.
"Bagaimana ini, Rob?" tanya Tommy saat hampir putus asa mencariku. Namun nyatanya aku sampai beberapa hari tak juga di temukan. Robby dan Tommy terlepas dari kejaran makhluk hitam itu. Anehnya, sepertinya makhluk itu memang sejak awal hanya mengincar diriku saja. Aku di kejar entah sampai mana. Hingga akhirnya aku tersadar sudah terpisah dari Robby dan Tommy. Awalnya ku pikir mereka meninggalkan ku begitu saja. Apalagi yang ku rasakan saat itu aku hanya pingsan karena lelah dan tiba-tiba saja aku sadar sudah sendirian.
"Lalu, bagaimana Tommy bisa celaka?" tanyaku penasaran. Robby menarik nafas panjang dan kembali membuangnya dengan kasar.
"Saat itu, hari ke tiga. Beberapa orang yang membantu mencari keberadaanmu akhirnya menemukan titik terang tentang hilangnya kamu. Di antara mereka ada yang bisa melihat dan mencoba mencari tahu dimana keberadaan kamu lebih detail. Hanya saja, katanya kamu terlihat hanya berputar-putar saja di tempat. Namun tak pernah bisa keluar dari tempat itu." mendengar cerita Robby membuatku sedikit teringat dengan kejadian dimana aku telah berjalan cukup jauh dan hanya kembali ke tempat semula. Ke tempat di mana dua pohon besar di pos samarantu itu berada.
"Tommy terperosok ke dalam jurang, sebelumnya dia berteriak memanggil nama kamu. Padahal sudah di larang oleh banyak orang, namun katanya dia melihat kamu di bawah jurang melambai memanggil namanya." Robby melanjutkan ceritanya.
"Lalu, apakah benar aku ada disana?" tanyaku penasaran. Tak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita yang membuat salah satu sahabatku itu menemui ajalnya.
Robby menggeleng. Wajahnya berubah muram dan tampak sedih.
__ADS_1
"Bukan kamu yang ada disana. Bahkan larangan beberapa orang tak ia hiraukan. Tommy sudah sangat lelah. Ia sudah ingin segera pulang dan mengakhiri semuanya. Ia ingin segera menemukanmu dan kembali pulang." lanjut Robby.
"Lalu, mengapa dia malah turun ke jurang kalau dia ingin pulang? Sedangkan turun ke jurang sama saja dengan bunuh diri." tanyaku.
"Aku juga tidak tahu, Jen. Hanya beberapa orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti, setelah Tommy melihatmu dia langsung berlari dan terperosok ke dalam jurang. Dan mayatnya berhasil di temukan dua hari setelahnya. Anehnya, kondisinya sudah parah dan membusuk." aku terdiam. Selama dua hari namun kondisi tubuh Tommy sudah membusuk? Sebuah hal yang sangat tidak masuk akal dan mustahil jika di lihat dari sisi medis.
"Bagaimana kondisinya?" tanyaku.
"Seluruh tubuhnya menghitam. Seperti sudah mati berhari-hari yang lalu. Kamu akan takut jika ku ceritakan semuanya." Robby berusaha menghentikan ceritanya. Namun tidak denganku, aku sangat ingin mengetahui dengan jelas kondisi sahabatku itu di akhir hayatnya.
Menurut Robby, mata Tommy terbelalak, dengan mulut terbuka seperti orang yang sangat kesakitan. Sebagian wajahnya menghitam, sebagian pula berwarna kebiruan seperti memar. Mungkin karena luka karena terbentur benda keras saat terperosok ke dalam jurang. Badannya pun dalam kondisi yang sama. Selain mengalami patah tulang di beberapa bagian, tubuh Tommy juga menghitam. Aroma busuk pun juga sudah menguat dari dalam tubuhnya.
"Tommy menjadi tumbal dari makhluk halus penunggu gunung. Dia menggantikan mu dan menyerahkan dirinya sendiri. Melepaskan mu dari kejaran makhluk gaib dan menggantikannya dengan dirinya sendiri." Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Air mata mengalir begitu deras mendengar cerita dari Robby. Begitu besar pengorbanan Tommy untukku, bahkan rela menyerahnya nyawanya sendiri demi menyelamatkanku.
Aku merenung memikirkan apa yang terjadi dengan kami di gunung. Akibat perbuatan tak senonoh dua orang, mengakibatkan orang lain ikut merasakan sakitnya kematian yang tak wajar. Mama mencoba membujukku untuk tak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi.
"Kamu istirahat dulu, Nak. Mama mau ke bawah." pamit Mama padaku. Saat ini aku sudah di bawa pulang ke Jakarta. Kembali ke rumah kami dan bisa berkumpul dengan keluarga.
__ADS_1
Aku mengangguk, seiring menghilangnya Mama dari balik pintu kamar. Aku melihat keseliling, melihat kondisi kamar yang sangat ku rindukan. Meraih sebuah bingkai kaca berisi foto kami berempat. Aku, Tari, Robby dan Tommy yang memang kami berempat tumbuh hampir bersamaan. Rasa sakit di dada kembali muncul, manakala sedikit ingatan tentang kejadian beberapa waktu lalu kembali muncul di dalam pikiran. Bayangan Tari dan Lukman saat di penginapan, hingga niatan Lukman untuk mencelakai ku saat di gunung, membuatku merasakan sakit yanh teramat hebat pada kepalaku. Aku mengerang, memukul-mukul kepala ku sendiri untuk mengurangi rasa sakit yang timbul dari dalam.
"Jenna." Sebuah suara memanggil namaku. Aku yang sedang kesakitan tak menggubris panggilan itu.
"Jenna." kembali panggilan itu terdengar. Aku menoleh, mencari ke sumber suara. Di sana tampak seorang wanita berdiri tepat di depan pintu kamar. Wajahnya sayu, beberapa goresan tampak pada wajahnya. Kulit tangan dan tubuhnya terdapat beberapa memar dan lebam. Wanita itu menangis, menatapku dan seolah ingin mengatakan sesuatu padaku.
"Mau apa kamu?" tanyaku sambil terus memegangi kepala yang masih berdenyut.
"Maafin aku, Jen." wanita itu menangis. Tangannya menjulur ke arahku berharap untuk meraih dan memelukku. Aku menepis, bahkan tak ku hiraukan keberadaannya disana.
"Maafin aku, Jen. Aku lelah, aku ingin pergi dengan tenang." ucap wanita itu membuatku menyeka air mata secara diam-diam.
"Pergilah. Aku tak pernah menahanmu." ucapku acuh.
Sosok itu tak juga pergi. Ia hanya berdiri dan terus menatapku.
"Pergilah. Aku sedang tak ingin di ganggu." ucapku membuat wanita itu menghilang sekejap dan pergi entah kemana. Aku yang sendiri kembali merasakan sakit kepala yang hebat dan menyiksa. Aku meraung, berteriak dan aku juga mencoba menyakiti diriku sendiri untuk mengalihkan rasa sakit yang ku rasakan saat ini.
__ADS_1
"Jenna, sadar." Mama datang dan langsung memelukku. Memberiku obat dan berusaha membuat aku menghentikan hal bodoh yang ku lakukan.