Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Sebuah Gapura


__ADS_3

Aku memandang takjub sebuah bangunan yang mirip dengan bentuk sebuah gapura. Gapura yang sangat besar di sisi kanan dan kiri membentuk sebuah pintu. Lebih mirip jika di sebut pintu gerbang. Seperti gerbang-gerbang kerajaan di sinetron yang sering mama lihat di tv.


Seperti pencuri yang takut ketahuan oleh sang pemilik rumah, aku berjalan mengendap-endap dan mendekat ke gapura itu. Aku bersandar dan mencoba melihat apa yang ada di balik sana.


Puk


Aku berjingkat saat ada seseorang yang menepuk pundak ku. Saat kedua mataku melihat siapa yang berdiri disana, membuat mulutku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Mulutku menganga, sedangkan mataku tak mampu berkedip. Tubuhku lemas, lunglai serasa tak bertulang. Aku ambruk, untung saja tubuhku masih bertopang pada tembok gapura. Sehingga bisa mencegahku dan aku tak sampai jatuh ke tanah. Lukman dan Tari berada di kedua sisi gapura. Anehnya aku tak melihat mereka berdua saat tadi masih belum sampai di tempat ini. Keduanya tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan membuatku terkejut seperti ini.


"T-Tari." lidahku kelu saat menyebut nama itu. Aku tahu betul dimana Tari saat ini. Dan sekarang, sahabatku itu berdiri tepat di hadapanku dengan senyumnya yang masih sama.


"T-Tari, benarkah ini kamu?" aku mundur, tubuhku tersandar di dinding gapura. Tari mendekat, meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Ini aku, Jen. Sahabatmu." jawabnya sambil terus menggenggam tanganku. Aku yang ketakutan sama sekali tak berkutik dan hanya terdiam saat Tari menggenggam erat tanganku.

__ADS_1


"Jen, maafin aku, ya. Karena aku, kamu jadi susah begini." ucap Tari dan ingin meraihku ke pelukannya. Aku menolak, dengan perasaan takut aku memilih untuk berjongkok dan bersandar.


"Jenna, maafin kami." Lukman berjalan mendekat. Wajahnya pucat, agak rusak karena terlihat beberapa luka terdapat di wajahnya. Sekilas aku mengingat kejadian dimana Lukman sedang di mangsa oleh setan wanita bergaun merah. Namun saat itu wajah Lukman benar-benar hancur. Bahkan luka di wajahnya mengucurkan darah segar dan wanita itu langsung meminumnya sampai habis.


"Kalau kalian menyesal, biarkan aku kembali dan pulang." pintaku dengan nada parau. Aku berharap kali ini benar-benar bisa pulang. Dan aku berharap Lukman dan Tari bisa membantuku keluar dari tempat terkutuk ini.


"Kami akan membantumu, dengan syarat kamu mau memaafkan kami, Jen." ucap Lukman mendekat. Aku yang takut dengan sosoknya memilih untuk diam saja dan tak menatap wajahnya.


"Ba-baiklah. Aku memaafkan kalian. Tapi bagaimana aku bisa pulang dan keluar dari tempat ini." jawabku sambil terus membuang muka.


"Kalian, kenapa kalian tak pergi saja dari sini?" umpatku sambil terus memejamkan mata dan menutup telinga.


"Hihihihi...Jen, aku begini karena kamu." Tari berjalan mengitari. Aku hanya bisa menunduk dan menutup telinga. Sebisa mungkin aku tak mendengar ocehan-ocehan tak jelas dari mereka.

__ADS_1


"Jenna, maafin aku yang udah rebut Lukman dari kamu." lagi, aku hanya mendengarkan apa yang Tari ucapkan. Sedikitpun aku tak berniat untuk menjawabnya. Sedangkan Lukman, dia kembali berdiri saat Tari menarik lengannya. Aku berusaha tak menggubrisnya. Hingga akhirnya suara itu menghilang dengan sendirinya.


Aku menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin sahabat dan juga lelaki yang sempat ku taksir bisa berakhir tragis seperti itu. Apa pula maksud Tari merebut Lukman dari aku. Sedangkan dia, malah menjadi korban dan mati secara tidak wajar.


Terik matahari terasa begitu menyengat. Tak ada pepohonan di sekitar gapura. Beda dengan tempat sebelum aku berjalan sampai disini. Semua hutan dan pohon-pohon besar. Aku menyesap sisa-sisa air yang ada di botol. Namun rupanya semuanya telah kosong.


"Lebih baik aku coba cari air di sekitar sini."


aku beranjak dan mencoba masuk ke dalam gapura. Tak tampak apapun disana. Bahkan gapura ini rupanya hanya bangunan tua saja. Di baliknya tak ada apapun selain hamparan tanah kosong dan terjal. Seperti lahan kosong akibat kebakaran.


"Aaarrkkk..." tubuhku terjatuh, terperosok ke sebuah lubang yang cukup dalam. Entah siapa yang membuat lubang ini disini. Seperti lubang untuk irigasi. Bentuknya memanjang, seperti terowongan. Aku mencoba mengikuti ke salah satu sisi, berharap akan menemukan mata air di ujung sana.


Aku tersenyum kala melihat tempat yang sepertinya tak asing untukku. Tempat yang sepertinya pernah ku datangi sebelumnya. Aku mencoba untuk keluar dari lubang dengan berpegangan akar-akar rumput liar. Rumput yang merambat dan sangat kuat.

__ADS_1


"Itu, itu. Tolongin. Siapa itu." terdengar sebuah suara samar-samar sebelum akhirnya aku terlelap dan tak sadarkan diri.


__ADS_2