Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Pencarian Lukman


__ADS_3

Aku memikirkan kondisi Tari yang mati dengan cara memprihatinkan. Aku tak bisa membayangkan Ibunya kalau mengetahui putrinya meninggal secara tragis saat berlibur bersama kami. Ditambah kami tak ikut pulang mengantar jenazah Tari kerumah. Aku hanya berharap semoga diberikan kesabaran pada Ibunya Tari yang juga sudah ku anggap sebagai Ibuku sendiri.


"Maafkan Jenna, Bu. Kami masih harus mencari keberadaan Lukman disini. Jenna gak bisa mengantarkan kepergian Tari." ucapku melalui sambungan telepon. Untung saja Ibu nya Tari mengerti akan kondisi kami.


"Kalian dari mana saja?" tanya Tommy yang terlihat ketakutan.


"Kamu kenapa Tom?" aku berlari kearahnya karena khawatir dengan keadaannya.


"Ta ... Tari, Jen." ucapnya.


"Iya, kita sudah tahu. Kamu tenang saja ya. Tari sudah di bawa pulang." ucapku menenangkan Tommy. Walaupun laki-laki namun Tommy memang lembut dalam perasaan. Hatinya rapuh seperti perempuan.


"Oh ya, Lukman sudah kembali?" tanyaku melihat sekitar. Tommy menggeleng. Pikiranku kacau, disaat seperti ini malah Lukman menghilang entah kemana. Aku tahu Robby pasti sangat emosi mengetahui ini. Namun ia tak menunjukkannya.


"Kita cari nanti malam. Aku yakin Lukman ada hubungannya dengan kematian Tari." bisik Robby padaku. Aku tak menjawab. Pikiranku penuh dengan teka-teki yang tak mampu aku jawab. Baru pertama ini aku menemukan kekacauan yang menyangkut teman-temanku.


"Rob, apa yang bisa aku lakukan?" tanyaku meneteskan air mata.


"Kamu pasti bisa, Jen. Apalagi sekarang kamu punya itu." tangannya menunjuk ke arah liontinku.


"Apakah ini bisa membantu?" tanyaku penasaran.


"Semoga saja. Kita akan dilindungi oleh leluhur untuk mengalahkan mereka, setan-setan yang bersekutu dengan manusia untuk kejahatan." ucapnya.


"Aku tak yakin, Rob." jawabku.

__ADS_1


"Kamu harus yakin. Kita akan selalu bersama." ucapnya.


Malam ini aku, Robby dan Tommy bergegas mencari keberadaan Lukman yang belum kembali juga semenjak tadi malam. Entah kemana ia menghilang, sedikitpun tak meninggalkan jejak. Bahkan barang-barangnya tak ia bawa.


"Rob, lihat ini." ucapku seraya memberikan sebuah bungkusan plastik hitam yang kutemukan di dalam ransel bawaan Lukman. Robby meraihnya dan segera membuka bungkusan tersebut. Sontak saja mata kami membulat sempurna dengan apa yang kami lihat di dalamnya. Bunga tabur yang cukup banyak di bungkus rapi dengan plastik hitam dan beserta minyak wangi yang entah baunya terasa begitu menyengat di hidung.


"Apa ini?" ucap Tommy sambil mengorek-ngorek bunga itu.


"Ada foto Jenna disini." tiba-tiba Tommy berteriak sambil mengambil sebuah foto kecil. Secepat kilat ku raih foto di tangan Tommy. Benar saja, selembar fotoku yang entah Lukman dapat dari mana terselip di antara bunga tabur tersebut.


"Rob." ucapku lirih. Robby tampak sedang berfikir sesuatu.


"Apa selama ini ada gelagat aneh pada Lukman terhadapmu?" tanya Robby. Aku menggeleng.


"Aku gak pernah menyadari apapun soal itu." ucapku lirih.


"Ini ada dua kemungkinan." ucap Robby kemudian.


"Maksudnya apa?" tanya Tommy tak kalah penasaran.


"Antara Lukman mau melakukan pelet sama Jena, atau bisa jadi akan dijadikan korban selanjutnya." ucap Robby menggenggam erat fotoku. Aku terbelalak dan menutup mulutku yang terbuka dengan telapak tanganku.


"La ... lalu aku harus bagaimana?" tanyaku gugup.


"Kita harus bertindak cepat." ucap Robby.

__ADS_1


Bergegas kita membawa barang-barang dan berangkat untuk mencari keberadaan Lukman.


"Yakin kita mencari malam-malam begini?" ucap Tommy.


"Sudah kita ikuti saja Robby." jawabku.


Kaki sudah terasa sangat lelah. Ditambah kami belum istirahat siang tadi untuk persiapan pencarian malam ini. Kami hanya sibuk mengatur strategi untuk secepatnya menemukan Lukman dan kembali ke kota. Apalagi ini sudah melewati libur kerja kami.


Neng ... nong ... neng ... gung ...


Kami bertatapan satu sama lain. Robby memerintahkan kami untuk tetap waspada dengan sekitar. Berjalan dengan berhati-hati tanpa menimbulkan banyak suara.


"Sepertinya kita masuk wilayah perkampungan. Ada yang lagi ngadain hajatan atau pentas sepertinya." bisik Tommy yang belum mengerti tentang pentas apa yang sebenarnya sedang tampil. Karena saat aku melihat Tari menari bersama para penari, Tomy sedang berjaga menunggu tenda karena di khawatirkan Tari kembali dan tenda dalam keadaan kosong.


"Sssstttt ... jangan gegabah. Jangan banyak suara." pinta Robby di ikuti anggukan kepalaku. Sedangkan Tommy terlihat bingung. Dia menepuk pundak ku untuk memastikan apa yang di maksud oleh Robby dan aku hanya memberikan isyarat untuk bersabar.


Kami masih terus berjalan mengendap. Tampak di depan sana banyak cahaya obor membuat suasana malam terlihat terang. Kami melihat dari kejauhan. Meskipun tidak terlalu jauh namun cukuplah untuk mengamati ada kegiatan apa disana. Tampak penari-penari muda dan cantik sedang sibuk melenggak lenggokkan badan mengikuti suara gamelan yang di tabuh. Beberapa penabuh pria dengan mengenakan topeng hitam juga tampak asyik terus menabuh gamelan. Dari kejauhan juga terlihat perempuan bergaun merah sedang duduk disebuah bangku yang mirip singgasana. Dengan dua orang perempuan disebelahnya sibuk memegang kipas besar yang di arahkan kepada perempuan tersebut. Bisa dibilang mereka berdua dayang yang melayani ratunya.


"Ini pentas masyarakat atau kerajaan sih ya?" ucap Tommy berbisik.


"Mereka yang harus kita hadapi sekarang." ucap Robby.


"Maksudnya? kita mau perang gitu? Sebenarnya ini ada apa sih?" tanya Tommy penasaran.


"Kan tadi kita udah jelasin pas di camp." ucapku sedikit emosi. Tommy hanya nyengir. Aku tahu sebenarnya Tommy tak benar-benar mendengarkan penjelasan Robby. Bukan karena tak mau mendengar, tapi karena Tommy tak paham dengan situasi apa yang sedang kita hadapi saat ini. Walaupun laki-laki, namun jiwa Tommy lembut seperti perempuan. Dia paling sayang dan paling heboh kalau sesuatu terjadi di antara kami.

__ADS_1


"Jen, lihat. Itu ... itu ... " ucap Tommy terhenti sambil telunjuknya mengarah ke beberapa penari yang sedang meliuk-liukkkan tubuh di depan banyak penonton.


Aku segera menepis telunjuk tangannya dan meminta Tomy untuk tetap tenang dan diam.


__ADS_2