
Kleng... kleeng... gung...
Sayup-sayup terdengar suara musik gamelan di tabuh. Aku membuka mata dan menajamkan pendengaran untuk mencari asal suara. Ku goyangkan tubuh Robby. Ia dengan mudahnya di bangunkan. Ku berikan isyarat untuk tak bersuara dan mendengarkan alunan musik gamelan di tabuh.
"Mereka bukan dari kalangan kita, Jen. Mereka sedang mengadakan hajatan." ucap Robby.
Kami berdua mengintip ke sumber suara, dimana di bawah sana tampak segerombolan penari melenggak lenggok dengan begitu gemulainya mengikuti alunan musik yang di tabuh oleh pengikutnya.
Aku dan Robby masih saja terus melihat ke tempat di adakannya hajatan itu, hingga pada akhirnya kami menyadari munculnya wanita berbaju merah yang terus saja menatap ke arah kami. Bahkan lambat laun wajahnya berubah sangat menyeramkan. Sedangkan disana, tampak Tari ikut menari bersama beberapa wanita yang melenggak lenggokan tubuh mereka. Alunan gamelan masih saja terus beriringan mengikuti setiap gerakan gemulai Tari. Sepertinya Tari sudah kelelahan. Entah mengapa aku melihat wajahnya sangat pucat dengan keringat membanjiri tubuhnya.
Bbrrruuuugggg ...
Tiba-tiba saja tubuh Tari ambruk. Seketika suasana kembali sunyi. Padahal sedari tadi kami memandang ke arah mereka. Namun saat Tari terjatuh semuanya lenyap. Termasuk perempuan bergaun merah tadi. Bahkan para pasukan penabuh gamelan tak ada yang tersisa satupun.
"Rob, ayo kita tolong Tari." ucapku sambil menarik tangan Robby.
Kami berdua bergegas mendekati tubuh Tari yang tergolek lemas.
"Bagaimana ini ? Apa perlu kita cari bantuan?" tanyaku pada Robby.
"Mustahil. Sepertinya kita berada di tempat yang terlalu jauh dari perkemahan." ucap Robby sambil mengarahkan lampu senter ke segala arah. Benar saja. Suasana sepi dan banyak tumbuhan membuat pandangan kami terbatas. Padahal tadi pas kita menuju ketempat ini jalannya masih seperti biasa saja. Sekarang jalan yang bisa kita lalui pun lenyap.
"Kita harus bagaimana?" tanyaku mulai takut dengan keadaan.
"Kita tunggu pagi dulu. Sebentar lagi matahari terbit." ucap Robby setelah melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Aku mengangguk. Lagi pula tidak akan mudah untuk kami kembali ke perkemahan dengan membawa tubuh Tari yang tergolek lemah seperti ini.
Aku membantu Robby untuk mengangkat tubuh Tari. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu pagi dan menyandarkan tubuh Tari di sebuah pohon yang paling besar diantara pohon lainnya.
"Kita harus bagaimana, Rob? Aku takut." ucapku terisak pada Robby. Ia merengkuh tubuhku. Aku melepaskan semua beban dalam hatiku.
"Semoga tak terjadi apapun pada kita, Jen. Berdoa saja." jawabnya menenangkan.
Apa mungkin kita juga akan menerima imbas dari perbuatan mereka?" tanyaku masih terisak.
__ADS_1
"Mereka? Siapa maksudmu?" Robby mengernyitkan dahi. Aku keceplosan. Bingung, antara menyembunyikan kenyataan sendiri atau menceritakan pada Robby. Tapi apa mungkin Robby akan memaafkan perbuatan mereka kalau sampai semua yang ku ketahui juga di ketahui olehnya.
"Eeemmm ... maksudnya kalau ada yang berbuat tidak benar disini selain kita. Apa mungkin kita akan terkena imbasnya juga. Begitu maksudku." jawabku sambil mengalihkan pembicaraan.
"Jujurlah, Jen. Apa yang kamu ketahui tentang kejadian ini? Selama ini kita mendaki tak pernah terjadi sesuatu hal buruk dengan kita semua. Tapi kali ini entah kenapa aku merasa kita bermasalah." ucap Robby sambil memegang kedua bahuku. Aku tak mampu menatap ke arah matanya. Aku hanya bisa menunduk saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
"Jen." panggilnya lagi membuatku terkejut.
"Aku ... aku ... waktu itu ..."
"Aaarrgghhh ... " terdengar suara Tari seperti menahan sakit.
"Tar, Tari. Bangun. Kamu kenapa?" tanyaku sambil mengguncang pelan tubuhnya. Tari menggeliat kesana kemari seperti menahan sakit. Tubuhnya sesekali mengejang, Robby meluruskan kaki Tari dan merebahkannya. Kepalanya di sandarkan pada sebuah batu dan dilapisi jaket yang Robby pakai. Jujur saja aku takut saat ini. Jauh dari perkemahan dan tak ada satupun yang bisa dimintai pertolongan.
Aku terperanjat. Ku lihat sosok wanita bergaun merah berdiri tak jauh dari kami bertiga. Wajahnya tampak sinis menatap kami semua. Aku beringsut mundur. Seperti tatapan tak suka pada kami. Aku berusaha meraih tangan Robby.
"Ada apa, Jen?" tanya Robby yang mulai menyadari ketakutanku. Aku menunjuk ke arah wanita itu.
"Jangan kau campuri urusanku. Dia tumbalku." ucapnya dengan tatapan tak suka.
"Tu ... tumbal? Apa maksudnya? Dia teman kami, kami akan melindunginya." Ucap Robby berdiri.
"Jangan macam-macam, Rob. Aku takut." bisikku pelan di telinganya.
"Kamu tenang, Jen." jawabnya.
"Hahahahahaha ... kau berani macam-macam padaku? Dia telah berbuat onar disini. Dan aku mau dia jadi tumbalku." ucapnya lagi.
Robby menatap Tari yang tergolek lemah. Sesekali tubuhnya menggeliat seperti kepanasan.
"Dia? Apa yang dia lakukan padamu sehingga membuatmu begitu marah?" tanya Robby.
"Dia menghancurkan tempatku. Bahkan mengganggu kesenanganku bersama lelakiku." jawabnya lantang.
__ADS_1
"Lelakimu? Siapa?" tanyaku dan Robby hampir bersamaan. Pikiranku melayang, apa mungkin Lukman yand wanita itu maksud.
"Hahahaha ... kau paham juga gadis pintar." dia menunjuk ke arahku membuatku semakin takut. Apa mungkin wanita itu mampu membaca isi pikiranku? Aku bersembunyi di belakang tubuh Robby.
"Kau punya pelindung rupanya." ucapnya kemudian. Robby menoleh ke arahku dan aku hanya menaikkan kedua bahu sebagai tanda tak mengerti dengan maksud ucapannya.
"Aku tak akan membiarkan tumbalku lolos. Aku akan terus mengejarnya." ucapnya dan menghilang. Kami berdua celingukan kesana kemari mencari sosok wanita tadi yang telah menghilang seketika. Tampak cahaya keemasan dari sebelah timur.
"Sepertinya sudah mau pagi." ucap Robby. Kami menghampiri tubuh Tari yang masih tergolek di tanah. Kali ini tubuhnya tak lagi menggeliat. Sepertinya sosok itu ingin mengambil jiwa Tari.
"Bagaimana ink, Rob?" tanyaku.
"Sebenarnya apa yang kamu tahu, Jen? Coba jujurlah." tanya Robby memaksa.
"Akan ku ceritakan setelah kita kembali ke perkemahan." jawabku setelah memikirkan apa yang harus aku katakan lada Robby.
"Rob, Jen." terdengar suara bersahut-sahutan. Kami beranjak. Sepertinya itu suara Tommy, dan mungkin juga dia bersama pendaki lain sedang mencari keberadaan kami.
"Robby, Jenna, Tari ... " suara teriakan mereka terdengar semakin mendekat.
"Tommy ... kita disini." teriak Robby yang di ikuti dengan teriakanku.
"Astaga, apa yang terjadi sama kalian? Ini Tari kenapa juga?" tanya Tommy panik. Para pendaki lain yang berjumlah lima orang berhamburan dan segera membantu kami membawa tubuh Tari.
"Eh kalian lihat sini. Ini jurang lho." ucap Tommy. Aku melihat ke arah yang Tommy tunjuk. Mataku terbelalak, begitu juga Robby.
"Perasaan semalam kita berdiri disini." ucapku pada Robby. Ia hanya mengangguk.
"Kok kalian bisa disini sih?" tanya Tommy penasaran.
"Nanti kita ceritakan. Sudah ayo kita kembali ke perkemahan." ajak Robby. Tampak wajahnya begitu lelah.
"Nih, Jen." Tommy menyerahkan botol air mineral kepada kami berdua. Seketika isinya kami kuras sampai habis. Kami berjalan beriringan menuju perkemahan. Jalannya begitu terjal dan sulit di jangkau. Padahal semalam saat aku dan Robby mencari keberadaan asal suara gamelan, jalan yang kami lewati tak seperti sekarang. Hanya ada semak belukar namun tak separah ini. Dan sekarang jalannya begitu mengerikan dan susah di lewati. Seperti jalur yang tak pernah di lewati oleh pendaki lain. Bahkan mereka yang memapah tubuh Tari terlihat kesusahan dan kerepotan saat memilih jalanan supaya tidak tergelincir ke jurang. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku. Apa yang dimaksud dengan tumbal dan lelaki dari wanita bergaun merah tadi. Aku yakin Robby juga sedang memikirkan hal yang sama. Tampak dari wajahnya yang serius dan seperti sedang berfikir.
__ADS_1