Mendaki Gunung Slamet

Mendaki Gunung Slamet
Tersesat


__ADS_3

Di dalam perjalanan ,kami tak banyak bicara lagi. Fokus kami hanya tertuju pada pos yang di katakan oleh pendaki lain untuk tak kita singgahi. Namun waktu kita berangkat malah berhenti cukup lama bahkan sampai mendirikan tenda. Pos Samarantu, disitu kemarin kita menunggu Lukman yang katanya kehilangan salah satu barang bawaannya. Sepenting itukah? Bukankah Lukman sudah pernah mendaki ke Gunung ini bersama temannya yang lain sebelum dekat dengan kami. Lalu apakah mungkin dia sama sekali tak tahu menahu mengenai desas desus angkernya pos itu.


"Kita sudah sampai di pos lima. Sebaiknya kita istirahat saja dulu disini. Nanti kita lanjutkan perjalanan tanpa harus berhenti di pos empat." ucap Robby memberikan arahan. Banyak juga pendaki lain yang beristirahat di pos ini. Alasan mereka juga sama, menghindari supaya tidak berhenti untuk beristirahat di pos empat nantinya. Persediaan bekal juga sudah sangat menipis. Kami makan sisa bekal seadanya untuk kembali mengisi tenaga untuk persiapan berjalan kembali pulang sampai bawah.


Melewati pos empat kami memilih untuk tetap diam. Tak ada obrolan apapun, bahkan untuk sekedar memanggil nama saja tidak kami lakukan. Begitulah nasihat dari beberapa pendaki yang tadi kebetulan ikut beristirahat di dekat kami.


"Jeeennn..."


Aku menoleh kebelakang. Aku penasaran, siapa yang memanggil namaku barusan. Bukannya tadi semua sudah setuju untuk tak memanggil nama di pos empat ini. Aku tak melihat siapa pun kecuali kelompok pendaki lain yang juga sedang berjalan beriringan. Namun tak mungkin juga salah satu dari mereka yang memanggilku. Kenal pun tidak.


Aku tak melanjutkan perjalanan tanpa menoleh kebelakang lagi. Lokasi yang cukup terjal membuatku juga harus fokus supaya tidak terjatuh maupun tak terpisah dari Robby dan Tommy.


"Jeennn..."


Lagi, suara seorang perempuan kali ini sungguh terdengar jelas tak jauh dari posisi kami yang sedang berjalan.


"Siapa?" pekikku.


Robby dan Tommy yang mendengar teriakanku menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Robby menghampiri.


"Ada yang manggil-manggil." jawabku sembari menoleh ke sana kemari mencari sumber suara.

__ADS_1


"Sudah jangan di tanggapi. Ayo kita lanjut lagi." ajak Robby membuatku mencoba mengacuhkan suara itu.


"Deg."


Jantungku serasa berhenti berdetak tiba-tiba. Di antara dua pohon besar yang berdiri berjajar, tampak seorang perempuan berdiri mematung dan menatap ke arah rombongan kami. Dengan penglihatan mataku yang masih sehat, aku tahu betul siapa sosok yang berdiri disana.


Wanita itu melambaikan tangannya seolah memberi isyarat perpisahan. Namun aku yang masih syok tak mampu membalas lambaian tangannya dan hanya mampu berdiri mematung melihat ke arahnya.


"Ada apa lagi, Jen?" kali ini Tommy yang menghampiri. Namun aku memilih diam dan menghampiri Robby.


"Rob." aku menarik lengan Robby dan ia hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangannya efek terkejut.


"Lihat kesana." tunjuk ku ke arah dua pohon besar yang berdiri kokoh. Dua pohon itu berdiri kokoh sejajar seperti membentuk sebuah pintu besar yang bisa di lewati oleh siapa saja yang ingin memasukinya.


"Itu, Tari, Rob."


"Sadar, Jen. Sadar." Robby mengguncang-guncangkan pundak ku. Tanpa sadar aku meneteskan air mata mengingat Tari sudah tiada.


"Dia ada di sana, Rob." isak tangisku mulai terdengar. Aku terduduk dengan kaki di tekut dan menelungkupkan kepalaku di antara kedua lutut. Hingga pada akhirnya, suasana menjadi sepi. Robby dan Tommy yang sedari tadi mengajakku untuk segera turun kini tak terdengar lagi. Hingga akhirnya aku berhenti menangis dan mengangkat wajahku, sepi. Tak ada siapapun disini.


"Sial, rupanya mereka meninggalkanku sendirian disini." umpatku. Aku berdiri dan mencoba untuk berjalan kembali. Namun kaki ku terasa sangat berat seperti sedang menyeret sesuatu.


"Sial, pada kemana sih orang-orang. Secepat itukah jalan mereka? Bahkan satupun pendaki tak ada yang terlihat."umpat ku sambil terus berjalan tertatih.

__ADS_1


Sungguh kakiku terasa berat, lama kelamaan terasa sakit saat di gunakan untuk berjalan. Bahkan terasa ada yang mencengkeram kuat di bawah sana. Namun, tak ada apapun saat aku menoleh dan mengamati sekitar.


"kenapa hari cepat sekali berlalu, perasaan tadi masih siang. Sekarang sudah gelap saja."batinku sambil mengamati sekitar. Disitu aku mulai sadar. Mengapa suasananya sangat berbeda dari waktu kami naik ke puncak saat itu. Secepat itukah berubah.


Aku menghentikan langkahku saat hal aneh mulai ku sadari. Tak ada bintang, tak ada suara binatang malam. Yang kulihat hanya pepohonan besar yang tinggi menjulang. Bahkan setelah berjalan sejauh ini, aku hanya akan tiba di tempat semula. Di depan dua buah pohon besar yang tadi siang ku lihat.


"Robby sama Tommy kemana sih." aku mulai bingung, pikiranku campur aduk. Mungkinkah aku tersesat. Atau? Entahlah, aku tak berani memikirkan kemungkinan keduanya. Mengingat aku hanya seorang wanita dan saat ini aku sedang sendirian, aku tak berani memikirkan kalau kenyataannya aku tersesat di alam gaib.


"Hati-hati, Kak. Pos Samarantu itu banyak mistisnya. Setidaknya Kakak harus fokus dan jangan terpengaruh sama sekitar. Dan satu lagi, sebisa mungkin jangan berhenti disana."


Aku terngiang-ngiang nasihat dari beberapa orang dari anggota lain. Begitu juga dengan Robby. Aku sendiri, jujur belum terlalu paham. tentang kondisi gunung ini. Memang, semua gunung yang ada di negara ini ada mistisnya. Namun, karena kali ini anggota kami ada yang melakukan kesalahan. Mungkin pada akhirnya kami semua menerima akibatnya.


"Apa mungkin Tommy dan Robby menjadi tumbal wanita setan itu? Atau, justru kali ini giliran ku?"


Aku menangis sekencang-kencangnya. Jujur saja, perasaanku saat ini hanya takut. Aku ingin kembali, aku ingin pulang dengan selamat. Aku menyalahkan Lukman dan Tari pada akhirnya. Mengapa mereka yang berbuat tapi kami semua harus merasakan akibatnya.


"Papa... Mama..." aku teringat kedua orang tuaku. Membayangkan perasaan mereka jika mendengar kabar kematian ku. Atau hilangnya aku dan sampai kapan pun aku tak akan di temukan. Aku kembali terisak, mencoba untuk bangkit dan mencari jalan pulang.


"Aaarrgghhh ..."


"Siaaalll ..." aku mengumpat dengan kesal. Lagi-lagi aku bertemu dua pohon besar itu. Apa tak ada jalan lain lagi yang bisa ku lewati?


Lampu senter ku sudah mulai melemah cahayanya. Tak ada lagi lampu serep yang ku bawa. Aku memutuskan untuk berhenti saja disini, dan memilih untuk menginap saja. Masa bodoh dengan anjuran untuk tak berhenti di tempat ini. Nyatanya sudah hampir tengah malam tapi aku masih berada di tempat yang sama.

__ADS_1


Aku mengurut kaki kananku yang terasa berat. Rasa sakit seperti di cengkeram membuat otot ku menjadi seperti hampir mati rasa. Aliran darah di kakiku terasa berhenti mengalir. Seperti tertahan oleh sesuatu membuat telapak kaki menjadi kebiruan dan tampak bengkak.


__ADS_2