
Aku meringis menahan perih. Apalagi tulang-tulang di punggungku terasa seakan di patahkan. Aku meraba perlahan, rasa nyeri itu terasa sangat hebat. Dengan meraih apapun yang ada di sekitarku, aku mencoba untuk bangkit dan duduk. Suasana sudah gelap. Entah berapa lama aku tertidur disini. Tak ada cahaya apapun. Semua gelap, sepi, bahkan binatang malam pun tak berani bersuara. Yang ku takutkan hanya satu, ular. Ya, bagaimana jika tiba-tiba binatang melata itu datang dan mematuk kaki atau anggota tubuhku. Jangankan untuk berlari, untuk berdiri menghindar saja rasanya aku sudah tak mampu. Aku membuka botol minum yang sempat ku bawa dari warung Nenek Rampi.
"Untung saja airnya tidak berubah." gumam ku lirih sambil tersenyum kecut. Tak bisa ku bayangkan jika apa yang ku pikirkan benar-benar terjadi. Air yang ku bawa berubah darah, dan makanan yang ku makan berubah menjadi binatang menjijikan. Atau bahkan bangkai yang sudah membusuk.
"Hah." rasanya mual sekali jika mengingat kejadian waktu itu. Padahal sudah jelas-jelas aku di peringatkan untuk tidak menyentuh apapun selain yang wanita tua itu berikan. Tetapi aku malah nekad mencari dan berniat mencuri apa yang wanita itu simpan.
Aku meneguk air yang ada di botol. Aku lega, tidak ada yang aneh dengan rasanya. Lumayan untuk menghilangkan dahaga setelah berjalan seharian. Aku duduk bersandar pada sesuatu yang menahan punggungku sedari tadi. Entah benda apa itu, aku tak bisa melihatnya. Namun saat ku raba, seperti benda keras dan pipih bentuknya.
"Mungkin kayu." gumam ku. Aku tak perduli, yang jelas malam ini aku akan beristirahat saja. Tak sanggup rasanya jika harus berjalan lagi. Aku takut jika di bawah sana adalah jurang yang amat dalam. Tempat yang sewaktu-waktu bisa membunuhku jika aku sampai terperosok kesana.
"Hihihihihi ..."
"Aahhh, sial." umpat ku. Rupanya sosok itu masih mengikuti. Apa memang dia yang menungguiku seharian ini?
Sekelebat kain putih beterbangan di atas kepalaku. Dia terbang ke sana kemari berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Aku tak mau menatap. Hanya melirik sekilas pergerakannya. Suara tawanya menggema memekakkan telinga. Seperti ingin meledek kondisiku saat ini yang memang sangat memprihatinkan.
__ADS_1
"Hihihihihi..."
"Diam kau, setan, sialan. Jangan hanya tertawa kau." umpat ku kesal. Apa setan itu tak sadar kalau suara tertawanya itu melengking dan menyeramkan. Tidak ada merdunya sama sekali. Lalu buat apa dia terus tertawa, apakah hanya itu kemampuan yang dia bisa. Bukankah membantuku keluar dari tempat ini adalah salah satu cara terbaik untuk berbuat kebaikan. Siapa tahu dengan membantuku dia bisa pergi dengan tenang, tidak harus bergentayangan seperti itu. Apa dia tidak lelah jika harus beterbangan terus menerus seperti sekarang ini?
Sepertinya umpatan ku tak mempan terhadap setan itu. Dia masih saja terus tertawa, hanya saja kali ini dia tidak beterbangan. Dia dengan santainya duduk di atas pohon dengan kakinya yang menjulur ke bawah, dan rambutnya yang terurai tebal. Entah bagaimana dia bisa memiliki rambut setebal dan sepanjang itu. Shampo apa yang sebenarnya ia gunakan untuk bisa memiliki rambut seperti itu, dan harus menghabiskan berapa banyak shampo untuk mencuci rambutnya itu.
Aku terus mengamati sosok yang sedang asyik nongkrong di atas pohon. Pohon itu tak terlalu tinggi, hanya saja pohon itu sangat besar. Dahannya yang menjulang, sepertinya menjadi tempat ternyaman untuk wanita itu duduk bermain ayun-ayun dan bergelayut manja. Dengan suara tawanya yang khas, ia terlihat sangat bahagia.
Tiba-tiba saja sosok itu menatapku. Secepat kilat ku buang pandanganku agar tak bertatapan dengannya. Hanya saja, aku sempat melihat wajahnya. Wajahnya yang tampak rata, tak memiliki mata atau pun hidung. Hanya sebuah mulut yang cukup lebar, dengan senyumnya yang entah mengapa membuat bulu kudukku merinding.
Tak ku hiraukan lagi keberadaan makhluk itu di atas ku. Jujur saja jika sebenarnya aku sangat ketakutan saat ini. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa selain mencoba untuk tetap berani dan bertahan meski harus di temani oleh sosok wanita tak kasat mata seperti itu.
Sepi. Suara tawa itu sudah pergi. Bahkan nyanyian senandungnya pun tak terdengar lagi. Hanya suara angin malam yang menerpa dedaunan di atas pohon, membuat udara malam terasa sangat dingin. Ya, dingin yang teramat dingin. Dingin yang aneh menurutku.
Gemericik daun-daun kering yang di terpa angin terdengar seperti nyanyian malam. Membuat tubuhku yang terasa lelah terbuai dan serasa di timang. Kedua mata yang sedari tadi ku coba untuk tetap bertahan, rasa-rasanya mulai di serang oleh rasa kantuk yang hebat. Aku merebahkan diri dan mulai terpejam.
__ADS_1
"Jen. Bertahanlah." satu kalimat yang membuatku tersadar kembali. Aku membuka mata, mencoba untuk menguasai diri dan mencoba terjaga. Aku melihat ke sekitar. Tak ada jurang, hanya sebuah papan kayu usang yang ku gunakan untukku bersandar.
"Bagaimana mungkin kayu tua seperti ini semalam menjadi sangat kuat." gumamku.
Aku mencoba bangkit dan berdiri. Setelah ku rasa tenagaku sudah kembali, aku mencoba untuk berjalan perlahan dan mencoba menyusuri jalan kembali. Ilalang yang tinggi membuat kulitku terasa perih, ditambah jarak pandangan yang terbatas karena harus berkali kali menyibakkan rerumputan yang menghalangi jalan. Hingga akhirnya sebuah benda keras tersandung oleh kaki ku. Aku meringis menahan sakit.
"Kok seperti pemakaman?" batinku lirih.
Aku merasa lega. Itu artinya sebentar lagi aku akan bertemu dengan pemukiman penduduk. Aku bergegas dan terus berjalan. Ilalang sudah mulai berkurang. Aku mengikuti jalan setapak yang tampaknya sudah sangat kuno dan lapuk. Untuk pemakamannya pun sepertinya sudah tidak terawat.
"Mungkin karena di lereng gunung, jadi warga yang sudah meninggal dan di makamkan di tempat ini maka kuburannya tidak akan ada yang merawat lagi. Karena susahnya akses jalan ke tempat ini.
Aku tak mempedulikan tentang itu. Yang pasti di pikiranku saat ini, dimana ada tempat makam, maka akan ada juga peradaban manusia yang akan ku jumpai. Dengan semangat empat lima aku berjalan dan mencoba mencari jalan keluar dari pemakaman yang cukup besar dan luas. Dimana sepanjang mata memandang hanya ada patokan kayu sebagai penanda.
Aku berhenti sejenak, mencoba memutuskan ke arah mana aku akan berjalan. Matahari pun semakin meninggi, namun cuacanya terasa tak begitu panas.
__ADS_1