
"Kita harus bagaimana, Rob?"
"Pulang, Jen. Memang itu satu-satunya jalan terbaik." jawab Robby singkat. Ia tetap dengan pendiriannya, meminta kami semua untuk segera pulang.
"Lalu bagaimana dengan Lukman? Sampai sekarang dia belum juga di temukan."
"Lagipula, ini masalah karena perbuatan Lukman. Biarkan dia sendiri yang menerima konsekuensinya."ucap Robby.
Aku tak membantah ucapan Robby. Memang benar. Semua ini bermula karena perbuatan Lukman dan Tari. Kalau saja mereka tak berbuat semaunya, mungkin malapetaka ini tak terjadi menimpa kami.
Aku kembali menghempaskan badan di tenda. Sepertinya ucapan Robby perlu di pertimbangkan. Aku ingin pulang, bahkan aku rindu dengan masakan Mama dan kamarku yang hangat.
"Besok, sebaiknya kalian pulang saja. Terus, jangan berhenti di pos 4." ucap salah seorang pengunjung yang juga mengetahui betul kejadian yang menimpa kami.
"Memangnya kenapa, Kak?" tanyaku penasaran.
"Entahlah, ceritanya panjang. Tapi menurut warga sekitar, pos 4 di kawasan ini memang tidak bersahabat. Sebaiknya kalian melewatinya." ucapnya menjelaskan.
"Lalu, apakah teman kami bisa di selamatkan?" tanyaku.
"Lupakan saja. Hal semacam ini sering terjadi. Bahkan akhirnya mereka yang melakukan perbuatan tak terpuji juga akan merasakan akibatnya juga. Sebaiknya kalian kembali saja dan lupakan mereka." nasehatnya membuatku tak terasa meneteskan air mata. Teringat masa kecilku dengan Tari. Dimana kami selalu kemana mana bersama. Bahkan, orang tua kami juga saling mengenal dengan baik. Sampai kami dewasa, kami berdua pun juga selalu bersama. Hingga akhirnya kami mengenal Robby, Tommy dan terakhir Lukman. Laki-laki yang awalnya biasa, tapi entah mengapa lambat laun membuatku merasakan rasa ketertarikan yang luar biasa dan merasa sangat menginginkannya.
"Aaahhh... aku tak rela mengingat kejadian malam itu antara Tari dan Lukman." bisikku dalam hati.
Entah aku tak menyadari kapan perasaan ini muncul secara tiba-tiba. Padahal dulu aku tak merasa sedikitpun tertarik pada Lukman. Laki-laki yang menurutku lebay dan terlalu mengumbar perhatian kepada siapapun. Namun entah mengapa malah membuatku tergila gila, hingga memaksa Robby untuk menerima Lukman sebagai salah satu anggota geng kita. Padahal awalnya Robby sudah menolak dengan alasan Lukman tak pantas bersama geng kami. Namun karena aku yang sudah tergila gila pada Lukman, terus memaksa Robby dan akhirnya di setujui oleh Robby.
Robby pria yang sangat teguh dan perhatian dengan anggota geng. Bahkan dia sangat menyayangi kami teman-temannya. Bahkan dia sangat mengayomi kami. Dulu pun aku sempat mengagumi sosok Robby tersebut. Sebelum akhirnya muncul Lukman dan merampas rasa itu dari dalam hati.
"Jen. Kamu kenapa?" tiba-tiba Robby muncul dan duduk di dekatku bersama Tommy. Sedangkan Kakak perempuan yang tadi mengobrol denganku pergi tanpa ku ketahui. Mungkin karena aku terlalu asyik dengan lamunanku sehingga tak menyadari kepergiannya.
"Oohh, enggak. Aku cuma memikirkan ucapan orang yang tadi kesini." jawabku.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kemarin kita sempat berhenti lama di pos 4 kan ya, sebelum lanjut sampai puncak saat ini?" tanyaku memastikan.
Robby mengangguk.
"Iya, karena tiba-tiba Lukman bilang kehilangan salah satu bungkusannya yang katanya cukup penting."
"Dan bungkusan itu plastik hitam yang waktu itu kita temukan di dalam tasnya kan? Yang ternyata berisi bunga dan fotoku." ucapku membuat Robby tersentak.
"Kamu benar, Jen. Rupanya itu yang Lukman cari saat kita berhenti cukup lama di pos empat."jawab Robby.
"Aku baru memikirkannya, Rob. Kemarin-kemarin juga sama sekali tidak terpikirkan." ucapku lirih.
"Lalu, kenapa tiba-tiba kamu memikirkan itu?" Robby tampak penasaran dengan pikiranku yang muncul tiba-tiba seperti itu.
"Tadi, ada seseorang dari tenda lain memberi nasehat. Supaya kita lebih baik pulang saja. Tak perlu lagi kita mencari keberadaan Lukman. Dan dia juga bilang, kalau kita tak boleh berhenti atau beristirahat di pos samaranthu, yaitu di pos empat itu." ucapku menjelaskan.
"Iya, aku tahu. Sebenarnya kita tak boleh beristirahat di pos empat. Apalagi sampai mendirikan tenda. Seharusnya kemarin kita terus saja jalan." ungkap Robby.
"Apa mungkin kita semua akan menjadi seperti Tari?" ucapku takut.
Robby menggeleng.
"Besok kita pulang saja." jawabnya membuatku semakin takut.
Pagi sudah datang. Matahari pun sudah mulai menampakan cahayanya perlahan.
Robby dan Tommy sudah bersiap. Begitu juga denganku. Kami akan sarapan dulu sebelum memutuskan untuk kembali turun. Untung saja cuaca cerah dan tidak banyak kabut. Cuaca yang sangat dingin membuat kami cepat-cepat menghabiskan sarapan kami dan kembali mengemas peralatan yang akan kami bawa turun.
Lukman, kita memutuskan untuk meninggalkan mereka dan menyerahkannya ke TIM SAR. Semenjak kejadian waktu itu, Lukman kembali menghilang dan meninggalkan semua peralatannya. Beberapa TIM SAR mencoba mencari keberadaan Lukman sekuat tenaga. Meskipun anggapan mereka hampir sama, bahwa Lukman tak akan pernah kembali dengan selamat. Namun setidaknya mereka akan berusaha untuk tetap mencari.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, akhirnya kami tiba juga di pos delapan. Medan yang kami lalui berupa tanah yang cukup curam dan terjal. Setidaknya cuaca cerah membuat kami bisa menikmati pemandangan sekitar. Keindahan alam membuatku kembali mengingat Tari dan Lukman.
"Seandainya kalian masih bersama kami. Pasti perjalanan ini bakal lebih seru dan menyenangkan." bisikku sambil tak terasa menitikkan air mata.
Sesekali ku lihat Robby yang tampaknya selalu melihat ke arahku. Bahkan dari tadi sepertinya dia sedang mengawasi sesuatu di belakangku. Aku ikut menoleh ke belakang karena merasa penasaran. Namun tak ada apapun disana. Hanya beberapa pendaki yang juga ikut turun.
Namun ada satu hal yang janggal. Sepertinya ada pendaki yang turun sendirian tanpa kelompoknya. Seorang pria bertubuh jangkung berjalan sendirian dan berada di barisan paling belakang. Sedikit ku amati sosok itu, tampaknya ia sedikit ketakutan. Mungkin karena ia sendirian tanpa teman.
"Kita tunggu dia dulu, Rob." pintaku sambil menunjuk ke sosok pria tersebut.
Robby menggeleng. Dia memberikan sinyal padaku untuk tetap terus berjalan.
"Kita istirahat sebentar di bawah ya. Aku kedinginan." ucapku pada Robby dan Tommy. Mereka mengangguk. Padahal aku hanya ingin menunggu sosok pria tadi. Aku masih mengamati dan dia masih lanjut berjalan. Namun anehnya dia tak berusaha untuk menyusul rombongan di depannya. Apa mungkin malah rombongannya masih di belakangnya. Entahlah, aku penasaran di buatnya. Tampaknya Robby pun sama. Sesekali dia tampak menoleh dan melihat ke belakang. Beda dengan kelompok di belakang kami. Mereka bahkan seperti tak menyadari bahwa ada satu orang di belakang mereka yang ikut turun tanpa adanya rekan. Bahkan kelompok lain yang berada di belakang kami tampak biasa saja dan bersenda gurau tanpa ada yang merasa janggal.
Setelah ku amati benar-benar, rupanya laki-laki itu akan berhenti jika aku atau Robby menoleh ke belakang. Dan dia akan lanjut berjalan kalau kami melanjutkan perjalanan.
"Rob." panggilku lirih.
Robby yang berjalan di belakangku hanya mengangkat kepalanya.
"Apa itu, Lukman?" tanyaku.
"Mana? Mana Lukman?" tiba-tiba Tommy menyahut. Rupanya dia mendengar ucapanku.
"Itu. Kamu lihat sosok yang berjalan sendirian di belakang sana?" tanyaku pada Tommy. Dia menggeleng, bahkan matanya mencari kesana kemari padahal telunjukku sudah jelas-jelas mengarah ke sosok yang ku maksud.
"Mana sih, Jen?" Tommy makin gusar.
"Apa yang kamu lihat di belakang kita sana?" tanyaku pada Tommy. Sedangkan Robby hanya diam saja menunggu jawaban Tommy.
Tommy mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang nggak aku lihat. Soalnya yang kulihat hanya kelompok pendaki yang juga sedang turun gunung seperti kita ini. Memangnya ada apa lagi?" tanyanya penasaran.
"Sudah, sudah. Ayo kita lanjut turun. Keburu siang." ucap Robby. Akhirnya ku putuskan untuk tak jadi beristirahat di pos tujuh. Kami memilih untuk lanjut turun tanpa istirahat karena tahu siapa sosok di belakang sana.