
Senyap, tiba-tiba saja suara gedoran pada pintu kamar menghilang dengan sendirinya. Bahkan kali ini suasana menjadi sunyi sepi. Aku bangkit dan mencoba untuk mendekat ke arah pintu. Mengintip dari celah lubang kunci untuk mencari tahu siapa yang menggedor pintu di luar sana.
Pandangan mataku sudah pasti terbatas. Hanya bisa melihat tepat di depan lubang kunci saja. Tak tampak apapun di luar sana. Bahkan ruang makan terlihat sepi tak ada tanda-tanda ada orang lain di sana.
Tok... tok... tok...
Suara langkah kaki dengan sepatu terdengar nyaring tepat di belakangku. Tengkuk terasa meremang, keringat dingin mulai keluar dan membasahi dahi. Aku menelan saliva dan berusaha mengatur nafas yang sudah mulai tak beraturan. Degub jantung tak terkendali, seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Perlahan ku putar badan, menghadap membelakangi pintu kamar dengan bersandar pada dinding pintu.
Mataku menyapu sekitar, tak ada apa pun di dalam kamar. Hanya detik jam beker yang ku letakkan di meja kecil tepat di sebelah tempat tidur.
Tok... tok... tok...
Namun jelas-jelas suara langkah kaki terdengar dekat denganku. Sosok yang tak terlihat namun keberadaannya ku rasakan. Perlahan ku tekan engsel pintu kamar dan bersiap untuk berlari keluar.
Brrruuugggg...
"Aarrhhhh..."
Tubuhku terpental kuat hingga terjatuh dalam posisi duduk.
__ADS_1
"Jenna, maaf. Kamu tidak apa-apa?" Robby mendekat, memegang kedua bahuku. Dalam sekejap aku mendekap erat tubuh besarnya untuk menenangkan degub jantung yang tak beraturan.
"Jen, ada apa?" Robby tak berusaha melepaskan pelukanku. Mungkin dia memberiku kesempatan untuk melepaskan rasa takutku padanya. Aku menangis terisak. Cengkeraman tanganku semakin kuat membuat Robby mungkin merasa heran dan tak nyaman. Aku tak mampu menceritakan apa yang ku alami baru saja, hingga akhirnya semuanya terasa sunyi dan gelap.
"Nak, kamu baik-baik saja?" aku mengerjapkan mata. Tercium aroma minyak angin di kedua lubang hidungku. Bahkan kaki ku terasa ada yang memijit.
"Mama." panggilku lirih pada sosok wanita yang terlihat panik sedang mengoleskan minyak angin di tanganku.
"Iya, sayang. Mama disini." ucapnya lembut sambil menggenggam tanganku. Sedangkan di bawah sana, Robby sedang memijit telapak kakiku.
"Kamu kenapa, Jen?" Robby pun tak kalah panik. Ia menarik kursinya dan memilih untuk duduk mendekat di sebelahku.
"Ada apa, Jen?" tanya Mama tampak khawatir.
"Tadi ada yang gedor-gedor pintu kamar, Ma." jawabku lirih. Mama dan Robby saling berpandangan.
"Siapa?" tanya Mama. Aku menggeleng.
"Tidak ada siapapun di luar, Ma." jawabku masih dengan suara lirih.
__ADS_1
"Terus kenapa tadi kamu malah mau lari keluar?" kali ini Robby yang bertanya.
"Maaf, Rob."
"Bukan, aku tidak masalah. Tapi kenapa kamu malah mau lari keluar kalau di luar ada yang gedor-gedor pintu? Seharusnya kamu tetap di dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam." ucap Robby panjang lebar yang juga di setujui oleh Mama.
"Iya, Nak. Bahaya jika ternyata ada orang jahat yang mau berbuat macam-macam di rumah. Apalagi saat ini kamu sendirian." ucap Mama menasehatiku.
"Perempuan, perempuan itu ada disini, Rob." ucapku dengan suara bergetar. Sontak saja wajah Robby berubah seketika. Wajah yang tadinya biasa saja kini berubah pias dan memucat.
"Wanita siapa yang kamu maksud?" tanya Mama juga penasaran.
"Wanita bergaun merah, Ma. Tadi dia ada di pantulan cermin lemari. Jenna melihatnya sendiri dia sedang..." aku tak melanjutkan perkataanku sehingga membuat Mama dan Robby tampak kebingungan. Namun keduanya tak berani bertanya kelanjutannya, mereka tahu kalau aku sedang syok.
"Rob, dia kesini. Apa dia akan bawa aku juga?" aku menangis tergugu mengingat ketiga temanku sudah mati semuanya. Apalagi mengingat kondisi Tari saat di temukan membuatku takut jika akhirnya aku akan menjadi korban seperti Tari juga.
"Dibawa kemana, Jen?" Robby berusaha menenangkanku.
"Tenang, tidak akan ada yang bisa membawamu." ucap Robby menenangkan. Namun tetap saja hatiku tak bisa tenang. Apalagi setelah aku melihat sendiri pantulan dari kaca lemari bahwa sosok wanita itu membawa serta Tari serta Tommy dengan mengikat ketiganya dengan sebuah rantai besi melilit leher mereka. Bahkan tubuh kedua temanku itu terlihat babak belur seperti baru saja di siksa.
__ADS_1
"Nak, sudah. Semua akan baik-baik saja. Mama akan jagain kamu mulai sekarang." ucap Mama mencoba menenangkanku.