Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi

Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi
Bab 1 Tewas Dengan Mengenaskan (1)


__ADS_3

Cahaya bulan yang terkesan dingin menerangi Paviliun Yinfeng yang megah, paviliun itu merupakan paviliun dari Permaisuri Kerajaan Dongyou. "Ah!!!" Suara teriakan yang histeris terdengar sekali dari dalam. Sang Permaisuri, yaitu Su Yue, sedang melahirkan dengan susah payah.


Satu demi satu baskom air yang dipenuhi oleh darah segar dibawa keluar oleh para pelayan istana. Mereka tampak gugup sampai tidak berani menghela napas. "Yang Mulia, kerahkan seluruh tenaga Anda!" Bibi bidan berkeringat, dia tidak bisa sedikit terlambat.


Permaisuri terlalu gemuk, dengan berat badan 100 kg lebih, tidak ada yang bisa menjamin apakah dia bisa melahirkan anak dengan selamat atau tidak.


Saat ini, Su Yue yang kesakitan tidak dapat berbicara. Dia hanya bisa terus mengerahkan tenaganya, lalu menuruti perkataan bidan itu.


"Sudah hampir keluar, sudah keluar sedikit." Bidan yang sudah sibuk selama dua jam akhirnya melihat bagian tubuh bayi itu.


"Yang Mulia! Yang Mulia, kerahkan seluruh tenaga Anda. Kata Bidan, anaknya sudah hampir keluar." Seorang gadis muda yang mengenakan gaun istana yang berwarna merah muda terlihat khawatir, rasanya dirinya hendak menggantikan Permaisuri untuk menahan rasa sakit melahirkan ini.


Kaisar sangat kejam. Padahal Permaisuri sedang melahirkan, tapi dia tidak datang menjenguknya. Kaisar pasti sedang bersama dengan kakaknya Permaisuri, Selir Jin. Hanya saja, sekarang dia tidak ingin memberi tahu Permaisuri akan hal ini. Sekarang ini, yang terpenting adalah Permaisuri harus melahirkan dengan selamat.


"Ini... ini ... cepat panggil tabib kerajaan!" Setelah Su Yue mengerahkan seluruh tenaganya untuk melahirkan, akhirnya bidan bisa melihat dengan jelas bahwa yang pertama keluar adalah kaki si bayi. Tapi, dalam kondisi normal biasanya yang keluar duluan adalah kepala. Jelas sekali, kalau Permaisuri sedang mengalami distosia!


"Tidak perlu, aku bisa menanganinya. Xiao He, sebaiknya kamu terus jaga Permaisuri di sini." Seorang wanita yang cantik masuk ke ruangan itu, tusuk konde emas yang diberikan Kaisar sebagai tanda cinta untuknya juga ikut bergoyang seiring setiap langkahnya.


"Tidak perlu, aku bisa menanganinya. Xiao He, sebaiknya kamu terus jaga Permaisuri di sini." Seorang wanita yang cantik masuk ke ruangan itu, tusuk konde emas yang diberikan Kaisar sebagai tanda cinta untuknya juga ikut bergoyang seiring setiap langkahnya.


"Yang Mulia, meski Anda adalah murid Raja Pengobatan, Yang Mulia telah mengalirkan terlalu banyak darah. Hamba takut Anda kaget melihatnya. Sebaiknya hamba panggil tabib kerajaan." Langkah Xiao He jadi terhenti karena dihalangi wanita itu, padahal jelas-jelas Xiao He sedang buru-buru.


"Orang-orang yang menguasai ilmu pengobatan semuanya memiliki hati yang mulia. Selain itu, Permaisuri adalah adik perempuanku sendiri. Mana mungkin aku mencelakainya?" Takut melihat darah? Konyol. Dirinya sudah menyiapkan rencana ini selama bertahun-tahun hanya untuk detik-detik ini. Kalau dia tidak menyaksikan Su Yue menderita, maka dia akan menyesal seumur hidup.


"Xiao He... biarkan Kakak masuk." Xiao He masih ingin menghalangi Selir Jin, tapi suara Permaisuri yang lemah membuatnya berhenti.


Xiao He terpaksa menyingkir ke samping, sedangkan Selir Jin menatapnya dengan tatapan meremehkan, "Di saat-saat penting seperti ini, aku butuh suasana yang tenang menyembuhkannya. Kalian semua keluar."

__ADS_1


"Baik." Semua pelayan langsung pergi, karena mereka tahu bahwa Selir Jin adalah satu-satunya murid Raja Pengobatan, jadi kemampuan pengobatannya tidak perlu diragukan lagi.


Su Xin masuk ke dalam kamar. Dia melihat wajah Su Yue yang pucat pasi, selimutnya yang berwarna kuning cerah sudah ternodai warna merah darah. Selain itu, darah segar pun terus menetes ke bawah.


Anehnya, Su Xin malah merasa senang sekali. "Dik, sepertinya kamu mengalami distosia." Melihat sebelah kaki bayi Su Yue yang keluar duluan, Su Xin jadi puas sekali. Tuhan benar-benar sedang membantu rencananya.


"Kak, kamu ini murid dari Raja Pengobatan. Tolonglah aku." Su Yue mengulurkan tangan kanannya yang terlihat pucat, seolah-olah hendak meraih penolongnya yang di hadapan ini.


Sayangnya, sosok yang dikira sebagai penyelamat ternyata adalah sosok yang akan mencabut nyawanya.


"Dik, aku punya sebuah cara untuk mengatasi kondisi ini." Terdapat aura membunuh yang dingin dalam tatapan Su Xin. Sayangnya, Su Yue yang sudah dalam kondisi sekarat ini tidak menyadarinya.


"Kak, cara... a... apa?" Mendengar Su Xin bisa menyelamatkannya, Su Yue langsung merasa lega.


"Yaitu membelah perutmu untuk mengangkut bayimu." Su Xin mengatakan hal ini sepatah demi sepatah kata di samping telinga Su Yue. Bibirnya yang indah membentuk sebuah senyuman kejam, dirinya bagaikan roh yang merangkak keluar dari neraka dan datang untuk mencabut nyawa orang.


Namun sekeras apa pun dirinya berusaha, sepasang matanya yang indah itu akan menarik perhatian orang. Lalu hal ini tidak pernah berubah, tapi Su Yue tidak pantas memiliki mata seindah ini.


"Dik, jangan menatapiku seperti ini. Ditatapi mata seindah ini, aku jadi merasa kasihan padamu." Kuku Su Xin yang tajam menggores ujung mata Su Yue. Su Yue ingin menghindar, tapi dirinya tidak memiliki tenaga sedikit pun.


"Ah!" Rasa sakit yang menyayat hati mengalir dari sepasang matanya. Senyuman licik Su Xin adalah pemandangan terakhir yang dilihat Su Yue. Kemudian, segalanya menjadi gelap.


Rasa sakit yang menusuk sampai ke tulang mengalir dari matanya, Su Xin tengah mencungkil sepasang matanya.


"Kenapa?!" Suara Su Yue terdengar tragis sekali. Darah segar mengalir dari ujung matanya dan membasahi bantalnya.


Su Yue tidak mengerti, kakak yang selalu lembut dan perhatian padanya kenapa malah berubah menjadi Dewa Kematian yang hendak merenggut nyawanya?

__ADS_1


"Yang Mulia! Yang Mulia! Bagaimana kondisi Anda? Selir Jin, memangnya Anda tidak takut dihukum Kaisar karena berbuat begitu pada Permaisuri?" Begitu Xiao He mendengar suara teriakan Su Yue yang histeris, dia langsung menerobos masuk dan melihat Permaisuri yang sudah kehilangan sepasang matanya.


"Kaisar? Hehe. Su Yue, kamu kira Kaisar benar-benar mencintaimu? Buka matamu dan lihat baik-baik. Dia saja tidak datang menjengukmu yang sedang melahirkan." Su Xin membuang bola mata Su Yue dengan dingin, lalu menggunakan saputangan untuk mengelap tangannya dengan lembut.


"Oh, aku lupa. Sekarang dirimu tidak bisa melihat lagi. Tapi, bagi Kaisar dirimu sudah tidak berguna. Padahal dirimu itu cerdas, masa hal sekecil ini saja kamu tidak tahu?"


"Pengawal, Permaisuri mengalami distosia, perutnya harus dibelah." Melihat Su Yue yang tidak berbicara, Su Xin tidak ingin bertele-tele. Bawahan yang dibawanya sudah menunggu lama di luar.


"Kalau kalian ingin menyentuh Yang Mulia Permaisuri ... langkahi dulu mayatku!" Xiao He mengulurkan sepasang tangannya untuk menghalangi kedua pengawal yang terlihat garang.


"Kamu memang setia. Sayangnya, selama ini permaisurimu ini tidak pernah bersikap baik padamu. Tapi kalau kamu ingin mati, maka aku akan mengabulkan permohonanmu." Begitu Su Xin mengucapkan kalimat ini, salah satu pengawal yang memahami maksud perkataan Su Xin langsung menghunuskan pedangnya.


"Ah...." Setelah suara teriakan tragis Xiao He, ruangan ini dipenuhi keheningan yang mencekam.


"Xiao He! Ada apa?" Su Yue tidak bisa melihat, sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya bisa meneriaki nama Xiao He dengan tidak berdaya.


"Jangan berteriak lagi. Dia sudah pergi mempersiapkan jalan menuju neraka untukmu." Su Xin mengangguk, lalu kedua pengawal itu menghunuskan pisau sambil mendekati Su Yue yang terbaring di atas ranjang.


Neraka untukmu." Su Xin mengangguk, lalu kedua pengawal itu menghunuskan pisau sambil mendekati Su Yue yang terbaring di atas ranjang.


Di detik berikutnya, kedua kakinya ditekan kuat-kuat. Lalu, rasa sakit menyebar dari perutnya yang dibelah. Rasa sakit itu lebih sakit dibanding sepasang matanya yang dicungkil tadi. Su Yue merasa dirinya tidak bisa bertahan lagi.


"Ah!! Su Xin! Jadi hantu pun, aku tidak akan mengampunimu!" Suara teriakannya yang tragis bergema di Paviliun Yinfeng.


"Oekk...." Sebuah suara tangisan memotong suara teriakan Su Yue. "Yang Mulia, bayinya laki-laki." Su Yue mendengar suara dingin dari pria yang berbaju hitam itu.


"Oh, dia melahirkan seorang pangeran? Tapi, dia hanya akan menjadi bayi yang mati dalam kandungan." Suara dingin Su Xin bagaikan pisau yang menusuk di hati Su Yue.

__ADS_1


__ADS_2