Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi

Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi
Bab 31 Mas Kawin Wujud Ketulusan Leluhur


__ADS_3

Setelah Nyonya Gu mendapatkan kunci, dia langsung mengeluarkan buku catatan mas kawin dari dalam kamarnya. Lalu, dia membuka gudang dan membandingkan satu per satu benda di dalamnya di hadapan suaminya.


Nyonya Gu memanggil suaminya datang agar suaminya itu menyaksikan sendiri bahwa pintu gudang itu terbuka dan memastikan bahwa dirinya tidak mengambil sesuatu dari dalam seandainya jumlah benda di dalamnya berkurang. Dia juga memastikan bahwa suaminya melihat buku catatan mas kawinnya, lalu membandingkan jumlah benda tersebut di hadapannya.


Nyonya Gu ingin membuktikan bahwa dirinya tidak asal menuduh selir kesayangan suaminya. Jangan sampai setelah emosi sang Perdana Menteri reda, selirnya itu malah mencari masalah lagi pada Nyonya Gu dan putrinya.


Begitulah, di bawah pengawasan sang Perdana Menteri yang bermuka masam, para pelayan menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa benda-benda apa saja yang hilang di dalamnya.


Mas kawin Nyonya Gu memang banyak. Dulu saat menikah, sang Perdana Menteri hanya melihat belasan kotak mas kawin. Tapi sebagai seorang suami, Su Yan tidak berhak menanyakan isinya, bahkan setelah dia menjabat sebagai Perdana Menteri sekalipun.


Sekarang setelah dia melihat dan mendengar isi benda-benda di dalamnya langsung, Perdana Menteri jadi kebingungan. Dengan jumlah mas kawin sebanyak ini, dia jadi ragu apakah ayah mertuanya pernah disuap.


"Izin melapor pada Tuan dan Nyonya, benda yang hilang ada lukisan terkenal 'Lukisan Menyambut Musim Semi', sebuah batu karang berkualitas tinggi, dua pasang giok berkualitas terbaik, sepasang tusuk konde emas asli, seutas kalung mutiara laut, dua buah buku langka, juga ...."


"Cukup. Suruh Selir Liu kembalikan benda-benda yang hilang itu. Selama ini Nyonya tidak ada di rumah, dia yang mengurusi urusan rumah tangga. Selain itu, dia juga mengumpulkan banyak uang pribadi." Semakin didengar, wajah Perdana Menteri jadi semakin murung. Dia langsung memotong kalimat si pelayan, tidak ingin mendengar lebih jauh.


"Tuan, Tuan. Ini semua pasti jebakan yang dibuat Nyonya Gu setelah bersekongkol dengan yang lain, mana mungkin ada benda sebanyak ini yang hilang!" Begitu mendengar laporan si pelayan akan daftar benda hilang, Selir Liu tetap tidak menyerah, dia masih ingin melawan.


Awalnya dia merasa Nyonya Gu tidak akan tahu benda-benda apa saja yang hilang karena mas kawinnya banyak sekali. Tapi siapa sangka, ternyata dia punya buku catatan itu. Tapi sebenarnya wajar saja kalau Liu Mei'er tidak tahu akan keberadaan buku itu karena dulu saat dia masuk ke kediaman ini, dia tidak memiliki mas kawin. Dia mana tahu ada buku catatan mas kawin?


"Bersekongkol untuk menjebakmu? Dia membuka pintu gudang ini di hadapanku, mas kawinnya juga dicocokkan satu per satu di hadapanku. Kenapa? Apa kamu merasa aku juga bersekongkol dengan Nyonya Gu untuk merebut uang simpanan pribadimu?"

__ADS_1


Su Yan marah sekali, lalu menampar wajah Selir Liu. Melihatnya yang bercucuran air mata, Su Yan menekan dagunya dan berkata, "Tidak usah berpura-pura tidak berdaya. Sebaiknya kamu kembalikan semua benda itu dengan jujur. Kalau saja ada satu yang hilang, aku akan memotong jarimu."


Selesai mengatakannya, Su Yan menepis lengannya dan berjalan keluar.


Selir Liu yang tidak pernah melihat sang Perdana Menteri semurka ini kaget sekali. Dia berhenti menangis. Begitu mengingat tatapan Perdana Menteri barusan, dia merasa sekujur tubuhnya dingin.


Selir Liu keluar dari pintu gudang dengan terhuyung-huyung, tidak seperti sebelumnya, di mana dirinya selalu menang saat melakukan hal apa saja. Setelah Xiao Xue menerima daftar benda-benda yang hilang itu, dia segera mengejar Selir Liu dan memayunginya.


"Sudah, kalian semua keluarlah. Tolong panggilkan Nona Kedua."


Begitu Nyonya Gu melihat kondisi Selir Liu barusan, dia tidak merasa bahwa dirinya telah memenangi sesuatu. Dia hanya merasa sedih karena melayani pria seperti Perdana Menteri ini.


"Ibu memanggilku?" Tidak lama kemudian, Su Yue masuk ke gudang. Begitu melihat jumlah mas kawin ibunya yang ternyata sebanyak ini, Su Yue sempat kaget dalam hati. Di kehidupan sebelumnya, saat dirinya melihat mas kawin ibunya, sebagian besarnya sudah diambil Selir Liu.


"Mas kawin Ibu banyak sekali. Tapi, yang paling berguna bagi Kakek dan yang lain tentu saja perak. Hanya saja karena Kakek terjerat kasus penyuapan, jadi kita tidak boleh bawa terlalu banyak perak. Kalau tidak, Kakek dan yang lain malah akan celaka jadinya." Su Yue melirik sekilas ke arah mas kawin itu. Di dalamnya ada banyak sekali perak.


"Yang diambil paling banyak oleh Selir Liu adalah perakku. Padahal totalnya ada dua puluh ribu tahil perak, tapi sudah diambil setengahnya." Nyonya Gu jadi agak kesal saat mengatakannya.


"Bu, aku punya pertanyaan. Tapi, aku tidak tahu apakah pertanyaan ini pantas atau tidak." Melihat tumpukan batu berharga di hadapannya, Su Yue jadi tidak bisa menahan diri untuk menanyai pertanyaan yang muncul di hatinya.


"Yue'er pasti ingin bertanya kenapa mas kawinku bisa sebanyak ini dan apakah ada hubungannya dengan kasus penyuapan Kakek, 'kan? Karena bagaimanapun juga, jumlah mas kawin ini sudah melebihi batas kemampuan keluarga Kakek." Seorang ibu tentu bisa menebak isi pikiran putrinya. Sejak masuk kemari, Su Yue terus menatapi semua harta ini dengan tatapan menilai. Mana mungkin Nyonya Gu tidak tahu?

__ADS_1


Su Yue menatapi ibunya, lalu mengangguk perlahan.


"Sampai sekarang, aku tidak percaya bahwa kakekmu disuap. Kakek itu orang yang sangat menjunjung keadilan, dia paling benci pada hal-hal kotor seperti penyuapan. Mana mungkin dia terjerat kasus penyuapan? Sementara itu, semua mas kawin ini hanyalah sebagian kecil harta Kakek. Sebagian besar lainnya milik Nenek dan juga nenek moyangmu, lalu ibunya nenek moyangmu. Ini semua adalah harta yang diberikan secara turun temurun oleh wanita di keluarga kita." kata Nyonya Gu dengan tatapan yang hangat.


"Sudah waktunya untuk memberitahu dirimu, keluarga kita memiliki sebuah peraturan tersendiri untuk mas kawin, yaitu jika tidak dalam kondisi darurat maka mas kawinnya tidak boleh diganggu gugat, harus diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Meski setelah menikah seorang wanita harus taat pada suaminya, mereka tetap boleh mengambil mas kawin ini untuk membantu keluarga mertua ataupun keluarga sendiri karena leluhur kita sejak dulu sayang sekali pada anak perempuan, mereka juga khawatir kalau anak-cucu perempuan mereka akan ditindas setelah menikah." Selesai berkata, Nyonya Gu mengelus kepala Su Yue. Terdapat sebuah penyesalan dalam tatapannya.


"Yue'er, sekarang Kakek sedang dilanda masalah. Ibu harus menggunakan mas kawin ini. Ibu memang tidak berguna, tidak bisa menurunkan mas kawin ini secara utuh untukmu menikah nantinya."


"Bu, jangan bilang begitu. Ini semua bukanlah yang terpenting. Bukankah berdasarkan peraturan para leluhur, mas kawin ini digunakan untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi?" Melihat mas kawin ini, hati Su Yue jadi hangat.


Ini semua adalah persiapan dari leluhurnya, yang menunjukkan cinta leluhur pada anak-cucu mereka. Di Kerajaan Dongyou yang hanya mengutamakan posisi pria ini, perhatian leluhurnya berharga sekali.


"Bu, hari ini Ayah marah sekali. Sebaiknya Ibu jangan pergi ke rumah Kakek dulu. Aku pergi sendiri saja," kata Su Yue dengan nada muram sambil menarik tangan ibunya.


Namun, ibunya tetap ragu. Karenanya, Su Yue berkata, "Bu, tunggulah di sini. Bantu aku tahan Ayah agar dia tidak mencariku. Aku akan pergi dan kembali secepat mungkin, tidak akan kenapa-kenapa."


Nyonya Gu berpikir sejenak, merasa bahwa perkataan putrinya ini ada benarnya. Karenanya, dia menyerahkan 40 hingga 50 batang perak yang mana sekitar 200 tahil lebih pada Su Yue.


"Ambillah uang ini, pergi dan kembalilah sesegera mungkin." Karena sebelumnya Su Yue berkata jika memberikan terlalu banyak perak pada Kakek malah akan mencelakai mereka, makanya Nyonya Gu tidak berani memberikan terlalu banyak perak.


Malamnya, Pengurus Rumah Su datang membawa sebuah kereta kuda untuk mengantar Su Yue ke luar kota.

__ADS_1


Sementara itu, di belakang mereka berdua, ada seseorang yang berdiri di samping pintu besar Kediaman Su sambil melihat mereka dengan tatapan penuh benci.


__ADS_2