
Keesokan harinya, Su Yue membawa Xiao He keluar dengan tergesa-gesa. Di kehidupan sebelumnya, dia ingat Selir Liu diam-diam menjual banyak mahar Ibunya dan semua uang yang dia dapatkan digunakan untuk membeli pelayan di rumah.
Hal yang lebih parah adalah setelah dia dan Ibunya kembali, dia tidak khawatir sama sekali karena Ibunya memiliki gangguan jiwa. Dia menjadi lebih nekat lagi dan langsung menjual banyak mahar. Lalu, dia membeli lahan dan rumah untuk dirinya sendiri di luar Kediaman Su.
Memikirkan hal ini, mata Su Yue menjadi dingin. Dalam kehidupan sebelumnyanya, dia tenggelam dalam mimpi cinta Pangeran Kedua. Dia tidak peduli sama sekali. Sekarang, saatnya untuk mendapatkan semuanya kembali.
Melihat Selir Liu keluar dari Kediaman Perdana Menteri dan langsung pergi ke pegadaian yang sering dia kunjungi. Di kehidupan sebelumnya, dia dan Ibunya belum kembali, jadi Selir Liu tidak berani menjual banyak barang.
Sesampainya di pegadaian, Su Yue melihat lukisan kaligrafi yang tergantung di dinding, ternyata masih ada di sana!
Kakeknya paling menyukai lukisan kaligrafi itu dan itu adalah satu-satunya di dunia ini. Selir Liu benar-benar bodoh, menjual bukti yang begitu jelas.
Dia menghabiskan semua mutiara timurnya untuk membeli lukisan kaligrafi ini dan buru-buru kembali ke Kediaman Perdana Menteri. Hari ini, dia harus memenangkan pertempuran ini.
Apa yang tidak dia ketahui adalah setiap gerakannya diawasi oleh seorang pria muda di Paviliun Qixiang di seberang pegadaian. Orang itu adalah Pangeran Kedua, Shangguan Nanfeng.
Hari ini, dia sangat bersemangat untuk mencicipi hidangan khas Paviliun Qixiang. Dia memilih tempat duduk di dekat jendela, tapi tak disangka begitu dia menoleh ke luar jendela, dia melihat sosok kurus yang familier.
Siapa lagi yang punya rambut kuning ikonik itu, kalau bukan Su Yue dari Kediaman Perdana Menteri?
Dia melihat Su Yue berjalan ke pegadaian dengan tergesa-gesa. Tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa sebuah lukisan kaligrafi.
Mengingat apa yang terjadi pada gadis di Paviliun Jinluan sebelumnya, dia menjadi lebih tertarik. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan gadis ini.
Melihat Pangeran Kedua yang menatap ke luar jendela, pelayan di sampingnya juga mengikuti arah pandangannya. Pelayan itu hanya melihat beberapa pejalan kaki yang mondar-mandir di jalan dan tidak menemukan hal yang istimewa.
Benar, Su Yue yang saat ini terlalu biasa. Kalau dia dilemparkan ke kerumunan, pasti butuh waktu untuk menemukannya.
"Qing Zhu, setelah makan mi di Paviliun Qixiang, ikut aku jalan-jalan ke Kediaman Perdana Menteri Su. Lagi pula, waktu itu Perdana Menteri sangat terkejut dan ketakutan, jadi wajar saja kita menjenguknya."
__ADS_1
Jari-jari rampingnya memegang cangkir porselen tulang di depannya dan meminum air hangat dengan elegan. Wajahnya yang mirip dengan Pangeran Ketiga menunjukkan senyuman penuh arti. Hari ini, di Kediaman Perdana Menteri pasti akan sangat menarik.
"Ya, pelayan ini akan menyiapkan beberapa hadiah." Qing Zhu bertanya-tanya kenapa tuannya tiba-tiba ingin pergi ke Kediaman Perdana Menteri. Tetapi, sebagai pelayan, dia hanya bisa mematuhi perintahnya.
Su Yue bergegas kembali ke rumah dan pergi ke kediaman Tuan Besar. Dia datang pada waktu yang tepat, semua orang sedang berkumpul untuk memberi salam. Dia baru sampai saat Tuan Besar berjalan keluar. Hanya beberapa orang yang memperhatikan keberadaannya.
"Yue'er memberi salam kepada Kakek." Su Yue adalah orang pertama yang maju dan menyapanya dengan hormat. Dia dengan sengaja memperlihatkan ujung lukisan kaligrafi di tangannya tanpa mengatakan apa pun.
Saat Tuan Besar ingin menjawabnya, dia tiba-tiba melihat lukisan yang muncul dari lengannya.
"Yue'er, apa yang ada di tanganmu?" tanya Tuan Besar, membuat semua orang melihat Su Yue.
"Menjawab Kakek, Ayah suka lukisan kaligrafi. Dua hari yang lalu, Yue'er sudah membuat Ayah marah, jadi Yue'er membeli lukisan kaligrafi di pegadaian untuk menebus kesalahan pada Ayah."
Dia sengaja menekankan kata "pegadaian". Orang lain hanya berpikir kalau dia takut membeli barang palsu, jadi dia pergi ke pegadaian untuk membeli barang asli.
Namun, saat itu semua orang penasaran dengan lukisan kaligrafi yang ada di tangan Su Yue, jadi tidak ada yang memperhatikan Selir Liu.
"Tapi, saya menemukan hal yang menarik di pegadaian ...." Dia mengubah nada bicaranya dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa itu?" Mendengar putrinya yang membelikannya lukisan kaligrafi, di dalam hati, Su Yan penasaran dengan lukisan kaligrafi. Dia tidak tahan mendengar ucapan putrinya yang ragu-ragu.
"Saya menemukan lukisan yang sama persis dengan lukisan mahar Ibu di pegadaian. Lukisan yang diberi nama 'Lukisan Menyambut Musim Semi' itu adalah lukisan kesukaan Kakek saya."
"Hanya ada satu karya asli di dunia, tapi pemilik pegadaian bersikeras kalau lukisan miliknya adalah karya asli. Jadi, saya penasaran dan membelinya dengan harga mahal. Mengingat Ayah juga menyukai 'Lukisan Menyambut Musim Semi', saya ingin Ibu dan Ayah melihatnya."
Setelah Su Yue selesai berbicara, dia melirik Selir Liu dengan tajam dan membuka lukisan di tangannya. Selir Liu ketakutan dan wajahnya memucat. Meski di ruangan itu ada api arang yang menyala, dia masih merasa kedinginan.
Orang-orang di sekitar yang mendengar kata-kata Su Yue, berkerumun dengan rasa ingin tahu. Tetapi, saat Nyonya Gu melihat putrinya mengeluarkan lukisan ini, dia mengerti maksud perkataan putrinya untuk membantunya mengambil kembali maharnya tadi malam.
__ADS_1
Nyonya Gu sengaja pura-pura tidak tahu, dia mengambil lukisan kaligrafi itu dan bertanya pada Perdana Menteri, "Saya sudah lama tidak melihat 'Lukisan Menyambut Musim Semi'. Setelah dilihat sekilas, ini terlihat tidak ada bedanya. Bagaimana kalau Tuan juga melihatnya?"
"Benar-benar aneh. Hanya ada satu 'Lukisan Menyambut Musim Semi' di dunia ini. Tidak peduli dilihat bagaimanapun juga, ini adalah karya asli." Perdana Menteri melihatnya untuk waktu yang lama, tapi masih mengekspresikan keraguannya.
"Kenapa tidak mengeluarkan mahar Ibu dan membandingkannya saja. Dengan begitu kita akan tahu ini lukisan asli atau palsu, 'kan?" Su Yue mengatakan pendapatnya sambil tersenyum.
"Benar kata Yue'er. Kalau kedua gambar itu diletakkan bersama, kita akan tahu mana yang asli dan mana yang palsu." Bibi tertua, Selir Zhang, sepertinya menyadari keadaan ini dan menambahkan api. Semakin kacau keluarga anak kedua, dia akan semakin senang.
"Kunci maharku sepertinya ada di Selir Liu, aku tidak tahu...." Nyonya Gu pura-pura malu dan melirik Selir Liu. Kuncinya tidak lepas. Sebelumnya, tidak peduli apa pun, Selir Liu selalu pura-pura tidak tahu dan tidak mau menyerahkan kunci maharnya.
Pada saat ini, pelayan muda di luar pintu berlari dengan panik, "Kedua, Pangeran Kedua ada di sini."
"Aku tidak menyangka bahwa mahar istri pertama Kediaman Perdana Menteri diurus oleh selir. Ini pertama kalinya aku mendengar hal seperti itu."
Suara yang familier ini tiba-tiba muncul di benak Su Yue. 'Dia, kenapa dia ada di sini?'
"Memberi hormat kepada Pangeran Kedua." Melihat Pangeran Kedua yang berdiri di belakang pelayan muda, semua orang langsung berlutut untuk memberi hormat. Hanya Su Yue yang berdiri dengan tatapan kosong, seolah-olah jiwanya menghilang.
Pangeran Kedua hanya menatap Su Yue dengan tatapan tertarik dan menyenangkan. Tidak apa-apa bersikap tidak sopan saat melihatnya, tapi dia mengabaikannya dan bengong?
"Yue'er, cepat berlutut." Perdana Menteri mengingatkannya dengan suara tajam, membuat Su Yue yang sedang termenung tersadar kembali.
"Memberi hormat kepada Pangeran Kedua." Dia menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar. Dia harus melakukan yang terbaik untuk menundukkan kepalanya supaya orang lain tidak akan melihat kebenciannya.
Dia tahu kalau dirinya mau membalas dendam, maka berurusan dengan Pangeran Kedua adalah hal yang sangat penting. Tetapi, hari ini bukan hari untuk berurusan dengannya.
Kedatangan Pangeran Kedua bisa membantu Su Yue mendapatkan kembali mahar Ibunya.
Su Yue, kamu harus mengendalikan kebencianmu sendiri!
__ADS_1