Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi

Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi
Bab 15 Kembali Lebih Awal Ke Kediaman (2)


__ADS_3

Begitu Cui Cui melihat Su Yue hendak turun tangan padanya, Cui Cui langsung bergetar. Cairan hangat mengalir dari bawah tubuh Cui Cui, membuat kamar ini jadi penuh bau pesing.


"Begitu saja sudah pipis? Bukankah kamu juga sangat bersemangat saat memukul dan memarahiku? Bukankah kamu juga galak sekali saat mengusir Ibu? Kenapa, sekarang kamu takut?" Su Yue yang mengatakan kalimat itu bagaikan setan.


"Nona Kedua, Nona Kedua. Saya bersalah, saya bersalah. Tolong jangan bunuh saya." Cui Cui benar-benar ketakutan sekarang. Awalnya dia mengira Pengurus Rumah Su akan membantu mereka. Tidak disangka, si Pengurus Rumah itu sekarang malah menjadi bawahan Nona Kedua.


"Sekarang kamu mengakuiku sebagai majikan? Kamu mendengar isi pembicaraanku dengan Pengurus Rumah Su?"


"Tidak, tidak. Hamba tidak mendengar apa pun."


"Apa kamu tahu? Di dunia ini, hanya orang mati yang paling bisa dipercayai untuk menjaga rahasia." Setelahnya, Su Yue langsung mengacungkan pisaunya yang tajam dengan tatapan yang galak.


Lalu, sekujur tubuh Cui Cui langsung jadi lemas. Kali ini, dia benar-benar pingsan.


"Heh, sampah," Su Yue menurunkan pisaunya. Di hanya ingin menakut-nakuti Cui Cui.


Sejak awal, Su Yue memang tidak bermaksud menyakiti Cui Cui.


Su Yue memiliki cara yang lebih baik untuk membuatnya menderita.


Suami Cui Cui cacat setelah disiksa Su Yue, sekarang dia bahkan tidak akan bisa bunuh diri jika ingin sekalipun. Sementara itu, mertua Cui Cui juga sudah kehilangan tangan kanannya dan jadi bisu.


Seseorang perlu menjaga kedua manusia sampah ini. Kalau begitu, bukankah Cui Cui adalah orang yang paling pantas?


Membunuh orang itu mudah sekali, yang sulit itu mengerjai orang hingga mereka setengah mati. Siapa pun yang berani mengerjai Su Yue dan ibunya pasti akan membayar harganya.


Sambil menahan jijik, Su Yue menghentikan pendarahan kedua orang itu. Jika dirinya tidak menghentikan pendarahan, anak dan ibu itu sudah pasti akan kehilangan nyawa mereka.


Setelah selesai melakukannya, Su Yue langsung menyirami ketiga orang itu dengan air yang dinginnya menusuk tulang, membuat ketiga orang itu tersadar sambil bergemeletuk.


"Huhuhu..." Zhang Dong dan Ibu Pelayan Yun tidak bisa berbicara. Tatapan mereka penuh dengan kesengsaraan.


"Tenanglah, aku tidak akan membunuh kalian."


Begitu ibu dan anak itu mengetahui diri mereka tidak akan dibunuh, dalam sekejap tatapan mereka langsung berbinar. Mereka bersemangat sekali.


"Aku tidak hanya tidak membunuh kalian, tapi aku juga menyisakan seseorang yang masih sehat walafiat untuk melayani kalian." Selesai mengatakan ini, Su Yue menatapi Cui Cui.

__ADS_1


Sementara itu, Cui Cui masih tenggelam dalam kebahagiaannya karena tidak mati. Lalu, dia menatapi kedua orang cacat di hadapannya. Jangan-jangan dirinya akan disuruh merawat kedua orang ini?


"Cui Cui, berdasarkan hukum Kerajaan Dongyou, seorang istri yang tidak merawat suami dan tidak berbakti pada ibu mertua akan diberi hukuman mati, lalu jasadnya dibawa kembali ke rumah orang tuanya." Seolah-olah mengetahui niat Cui Cui, Su Yue langsung menghalangi pemikirannya itu.


Begitu mendengarnya, wajah Cui Cui langsung pucat pasi. Jika seperti ini, lebih baik dirinya langsung mati saja.


"Oh ya, begitu aku kembali ke Kediaman Perdana Menteri, aku akan mengirimkan obat untuk menyehatkan tubuh setiap beberapa lama sekali. Berikan pada suamimu, sehingga dia bisa hidup hingga delapan atau sepuluh tahun ke depan. Jika dia tidak hidup selama itu, maka ini artinya kamu yang memakan obat itu sendiri." Su Yue tersenyum kecil.


"Tadi aku baru saja menusukkan jarum ke tubuh kalian. Racun bunga kecubung kalian bertiga sudah kutawar. Cui Cui, hanya kamu yang sehat walafiat di antara mereka bertiga. Sekarang, kamu boleh mulai mengerjakan tugasmu."


Selesai mengatakannya, Su Yue merenggangkan tubuhnya dengan anggun, lalu menatapi langit berkabut yang mulai terang di luar jendela. Besok, dirinya harus "berperang" sekali lagi.


Setelah mandi sampai bersih, dia langsung memakai mutiara timur pemberian ibunya, membeli dua set pakaian terbaik di toko baju, lalu juga membeli perhiasan dan kosmetik.


Su Yue tidak ingin ayahnya melihat ibunya yang rapuh. Sudah lima tahun mereka tidak bertemu. Su Yue harus memastikan tatapan ayahnya berbinar saat bertemu dengan ibunya nanti.


Bagaimanapun juga, pria selalu takluk pada wanita cantik, kecuali Pangeran Ketiga. Begitu teringat akan Pangeran Ketiga di kehidupan lalu, hati Su Yue jadi lembut.


Keesokan paginya, Cui Cui bangun pagi-pagi untuk melakukan pekerjaan berat. Cui Cui yang sekarang sudah kehilangan semangatnya, tidak ada sedikit pun kesombongan dalam dirinya.


Bibir merah dan alis hitamnya sangat alami. Rambutnya yang hitam pekat itu dihiasi dengan bunga mutiara berwarna perak. Karena sudah melakukan pekerjaan berat selama lima tahun, makanya tubuh Nyonya Gu jadi langsing. Pinggangnya yang ramping membuatnya tidak terlihat seperti pernah melahirkan anak.


"Ibu cantik sekali." Su Yue belum pernah melihat ibunya berdandan dengan baik. Sejak dirinya dilahirkan, ayahnya hanya memberikan kasih pada Nyonya Liu. Sementara itu, setiap harinya Ibunya Su Yue selalu mengeluh, dia tidak pernah berdandan.


"Anak nakal, bisa-bisanya kamu menertawai Ibu." Mendengar Perdana Menteri akan menjemput mereka pulang ke kediaman, hati Nyonya Gu senang sekali.


Tidak lama kemudian, Su Yue dan ibunya merasakan getaran di lantai. Rasanya seperti ada ribuan kuda yang berpacu kemari. Anjing yang ada di luar desa mulai menggonggong dengan garang satu demi satu.


Sudah datang! Ayahnya memang hebat. Sepertinya, dia datang membawa banyak pasukan.


Suara derapan kuda berhenti di depan pintu. Cui Cui yang belum pernah melihat pasukan sebanyak ini ketakutan, ditambah lagi dengan kejadian semalam, dirinya langsung bersembunyi ke dalam kamar dan tidak berani keluar.


Su Yue yang membuka pintu.


Lalu, Su Yue melihat kereta kuda mewah yang berhenti di depan pintu. Tampaknya kuda itu kelelahan setelah berlari kencang, karena ia terus menghembuskan napas kasar.


Kemudian, jari-jari tangan ramping terulur keluar untuk mengibaskan tirai kereta kuda.

__ADS_1


Sesosok pria berusia paruh baya yang ganteng keluar dari kereta kuda. Jubah lengan panjangnya berwarna keperakan bak bulan dan terdapat bulu rubah berwarna biru gelap di atasnya yang dihiasi pola bunga yang rumit.


Rambut hitamnya disisir rapi, lalu ditusuk dengan sebuah tusuk konde giok berwarna hijau yang terlihat mahal.


Sementara itu, pria itu sedang


menatapi Su Yue dengan tatapan menilai.


"Salam hormat pada Ayah." Su Yue memberi hormat. Dirinya tidak terlihat rendah diri, tapi juga tidak sombong.


Pria ini adalah Perdana Menteri saat ini, yaitu Su Yan. Sudah lima tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Tapi, sepertinya waktu tidak menyisakan sedikit pun jejak pada ayahnya. Ayah Su Yue tetap ganteng seperti dulu.


Wajah ayah Su Yue terlihat ganteng sekaligus cantik, Su Yue mengakui hal ini. Bahkan di kehidupan sebelumnya, jarang ada pria yang memiliki paras seperti ayahnya.


Mungkin karena wajah ini, sehingga ibu Su Yue memaksa ingin menikah dengan ayahnya tanpa memedulikan apa pun.


"Hmm." Su Yan menyembunyikan kecurigaan dalam tatapannya. Sudah lima tahun dia tidak bertemu dengan putrinya. Sekarang, putrinya sudah tumbuh setinggi ini.


"Suamiku." Nyonya Gu berdiri di belakang Su Yue, nada suaranya agak bergetar.


Su Yan menengadah. Dia melihat Nyonya Gu sedang menatapi dirinya dengan matanya yang sejernih air musim gugur. Tubuh Nyonya Gu saking kurusnya seolah-olah bisa tumbang begitu ditiup angin.


"Istriku?" Setelah lama tidak bertemu, sepertinya paras istrinya berubah banyak, menjadi sangat menawan. Sementara itu, Su Yue sama sekali tidak melewatkan tatapan ayahnya yang terpesona selama sesaat.


"Tuan." Begitu Su Yan baru ingin turun dari kereta kuda, seorang wanita yang manja keluar dari dalam kereta.


Kukunya yang indah tengah menyisir poninya yang berantakan tertiup angin. Rambutnya yang dirawat dengan baik ditusuk dengan sebuah konde bunga keemasan yang indah, bahkan dihiasi mutiara yang harganya mahal. "Angin di desa kencang sekali. Rasanya, kulitku bahkan nyaris sobek karena tertiup angin."


Begitu mengatakan kalimat ini, barulah dia memberi hormat pada Nyonya Gu, "Salam pada Kakak." Orang ini adalah Nyonya Liu.


Pelayan kecil yang ada di sampingnya cerdik sekali. Begitu melihat Nyonya Liu yang hendak turun dari kereta kuda, dia langsung mengangkat lengannya untuk memapah Nyonya Liu turun dari kereta.


"Yue'er, sudah lima tahun kita tidak bertemu. Kamu sudah besar sekali. Lihatlah, dirimu kurus sekali. Hati bibi jadi sakit sekali melihatmu yang seperti ini!"


Nyonya Liu berjalan ke hadapan Su Yue, dia berlinangan air mata. Lalu dia menarik lengan Su Yue, nada suaranya penuh dengan kasih.


Sayangnya, Su Yue yang sekarang bukanlah Su Yue dulu.

__ADS_1


__ADS_2