
Meskipun Su Yue sedang berlutut, dia bisa merasakan pandangan Pangeran Kedua terus fokus padanya.
"Hamba patut mati. Hamba tidak tahu Anda datang, sehingga hamba tidak menyambut Anda di luar ...." Akhirnya suara Perdana Menteri menarik perhatian Pangeran Kedua, barulah Su Yue merasa lega.
"Kamu memang patut mati, tapi bukan karena kamu tidak menyambutku, melainkan karena kamu membiarkan seorang selir mengambil alih mahar istri sah. Perdana Menteri Su, kalau masalah ini tersebar keluar, orang-orang mungkin akan menertawakanmu! Apalagi kalau sampai diketahui oleh ayah ...."
Ketika Pangeran Kedua berbicara, matanya masih sesekali melirik Su Yue.
"Hamba... hamba...." Su Yan sangat menyesal. Dia tidak menyangka masalah keluarga akan diketahui Pangeran Kedua. Kalau dia masih mengarang atau berdalih, nantinya dia bakalan tamat riwayat.
"Untuk apa kamu berlutut terus, buat capek saja. Bangunlah! Aku datang membawakan beberapa hadiah untuk menghibur Perdana Menteri Su yang beberapa hari lalu ketakutan parah di Paviliun Jinluan." Pangeran Kedua menoleh dan memberi isyarat pada Qing Zhu untuk memberikan hadiah pada Perdana Menteri.
"Terima kasih atas perhatian Anda kepada saya. Dalam beberapa hari saya akan membawakan Anda hadiah sebagai tanda terima kasih saya kepada Anda." Perdana menteri mengulurkan kedua tangan untuk menerima hadiah. Dia ingin memberi hadiah juga agar satu sama lain tidak terlilit hutang.
Perdana Menteri selalu menjaga sikap netral di antara para pangeran. Dia selalu menghormati dan menjaga jarak dari setiap pangeran.
Alasan dia bersikap seperti itu adalah karena dia memperhatikan sikap Kaisar. Perlu diketahui bahwa hal yang paling tabu di pengadilan adalah bergabung dengan kelompok terlalu cepat.
"Sudah, saya datang ke sini hanya untuk melihat Perdana Menteri. Jika tidak ada urusan lain, saya akan melakukannya pulang dulu. Perdana Menteri Su, kamu harus urus baik-baik masalah keluargamu itu!" Setelah Pangeran Kedua selesai berbicara, dia menatap Su Yue dengan penuh arti. Namun, sejak tadi Su Yue tidak melihatnya sama sekali.
"Pangeran Kedua, terima kasih telah perhatian pada ayah hamba." Sejak Pangeran Kedua datang, jantung Su Xin berdebar tak terkendali. Dia terus memikirkan bagaimana supaya dirinya bisa berbicara dengan Pangeran Kedua. Pangeran ini berparas tampan dan belum menikah, dua hal ini merupakan daya tarik yang sangat kuat baginya.
Dia ragu-ragu untuk waktu yang lama. Setelah melihat Pangeran Kedua akan segera pulang, dia buru-buru memberanikan diri untuk memanggilnya.
Mendengar suara lembut seorang wanita sedang memanggilnya, Shangguan Nanfeng pun berbalik. Dia melihat seorang gadis mengenakan rompi kupu-kupu biru muda yang indah dengan rambut setengah sanggul setengah terurai dan dilengkapi tusuk konde kristal.
Sepasang mata yang berbentuk seperti daun tampak menawan. Mata tersebut sesekali melirik-lirik disertai pipi yang memerah. Gerak gerik ini sungguh memikat hati.
__ADS_1
"Siapa ini?" Mata Shangguan Nanfeng terlintas secercah cahaya ketertarikan. Sungguh wanita cantik yang menakjubkan.
"Lapor kepada Pangeran Kedua, dia adalah putri sulung hamba, namanya Su Xin." Sebenarnya hati Perdana Menteri cenderung memihak ke arah Pangeran Ketiga, karena siapa pun bisa melihat pemanjaan Kaisar terhadap Pangeran Ketiga. Makanya ketika Kaisar berencana menikahkan Su Yue dan Pangeran Ketiga, dia sangat senang.
Kini ketika Perdana Menteri melihat Pangeran Kedua sepertinya tertarik pada putri sulungnya, dia mulai berpikir lagi. Kalau putri sulungnya menikah dengan Pangeran Kedua, sementara putri keduanya menikah dengan Pangeran Ketiga, maka Kaisar yang hanya memiliki tiga pangeran ....
"Oh, dia putri dari selir, sayang sekali ...." Shangguan Nanfeng tahu bahwa putri sulung Kelurga Su adalah anak dari Selir Liu. Alhasil dia tidak lagi memperhatikan Su Xin, melainkan langsung berbalik dan pulang.
Istrinya mesti adalah orang yang berguna. Asal berguna, cantik tidaknya boleh diabaikan dulu. Lagi pula, ada begitu banyak wanita cantik di dunia ini. Setelah dia menjadi Kaisar, dia bisa mengangkat sebanyak-banyaknya wanita cantik yang disukainya.
"Putri dari selir...." Kata-kata Pangeran Kedua bagaikan petir yang menggelegar di telinga Su Xin. Dia tidak menyangka dirinya akan diabaikan hanya karena status dirinya sebagai putri dari selir.
Wajah kecil yang tadinya masih merah sontak berubah menjadi pucat pasi. Tangan halus dan lembut mencengkeram saputangan erat-erat. Lalu dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan kekejaman dalam matanya.
"Selir Liu! Sekarang ceritakan padaku tentang 'Lukisan Menyambut Musim Semi' ini!" Su Yan bukan orang bodoh. Terkadang dia hanya sengaja menutup sebelah mata dalam menghadapi beberapa masalah. Namun, sikap Pangeran Kedua barusan membuatnya mau tidak mau harus mulai membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Saya... saya...." Selir Liu sangat ketakutan oleh teriakan Perdana Menteri sehingga dia langsung berlutut dan menangis. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Selir Liu hanya terisak-isak tanpa mengatakan apa-apa. Semua orang di sini cerdik dan licik. Ketika mereka melihat Selir Liu tidak ingin mengeluarkan Lukisan Menyambut Musim Semi, mereka pun menebak bahwa gambar itu pasti telah dijual Selir Liu.
"Bagus sekali, Su Yan! Lihat betapa lancangnya Selir Liu karena telah dimanjakan kamu! Beraninya seorang selir mencuri mahar istri sah. Sekarang dia bahkan telah menjualnya!" umpat Tuan Besar sembari menunjuk hidung Su Yan dengan penuh emosi.
"Hari ini aku akan duduk di sini untuk melihat bagaimana kamu menghukum si ****** ini!" ujar Tuan Besar sambil menggertakkan gigi. Kemudian dia langsung duduk di kursi dan memelototi Su Yan.
Melihat Su Yan mengepal dan melonggarkan tinjunya berulang kali, Selir Zhang sangat dilema.
"Yue'er, apakah kamu melihat sesuatu yang kamu kenal di pegadaian itu? Dia tidak mungkin hanya jual satu...."
__ADS_1
"Pelayan, ambil kayu hukuman. Dia harus dihukum!" Sebelum Selir Zhang menyelesaikan kata-katanya, Su Yan langsung membuat keputusan.
"Ayah, ayah, tolong ampuni Ibu. Tubuh Ibu terlalu lesu dan tidak tahan dipukul!" Melihat ayahnya tampak tegas dan serius, Su Xin sontak panik.
Dia buru-buru berlutut bersama Selir Liu sembari memohon dengan getir.
"Kakak, sepertinya hukuman berlutut di aula leluhur kemarin masih belum bisa memperbaiki kesalahanmu. Kenapa kamu memanggil Selir Liu sebagai Ibu lagi? Apakah kamu merasa Bibi Liu dapat menggantikan posisi Ibu? Untungnya Pangeran Kedua tidak ada di sini. Kalau Pangeran Kedua dengar ...."
Sorot mata Su Yue bagaikan es di tengah musim dingin. Begitu bertatapan dengan matanya, rasanya jantung langsung membeku dan kesakitan. Dia memang paling suka mencari kesalahan dalam kata-kata orang, apalagi kata-kata Su Xin.
"Su Xin terus mengulangi kesalahannya, sekaligus dihukum juga!" Memandangi pasangan ibu dan anak menangis bersama, tatapan Perdana Menteri berubah dari iba menjadi tegas tak tergoyahkan.
Dia memang terlalu memanjakan kedua orang ini sampai-sampai mereka menjadi lancang dan lewat batas.
Dia mesti menghukum mereka. Ke depannya bukan hanya Pangeran Kedua yang akan bertamu di Kediaman Perdana Menteri, tapi selalu akan ada tamu-tamu lainnya. Kalau sampai orang yang berniat jahat mengetahui keburukan dalam keluarganya dan mengadu pada Kaisar, jadi apa dirinya nanti?
Kayu hukuman memukuli telapak ibu dan anak itu sekali demi sekali. Tangisan palsu mereka berangsur-angsur berubah menjadi lolongan nyata.
Orang-orang yang menyaksikan adegan ini memiliki pemikiran yang berbeda-beda.
Selir Zhang selalu senang menyaksikan kemalangan Selir Liu dan anaknya.
Sementara Su Yue hanya menyaksikan mereka dengan acuh tak acuh, sehingga orang-orang tidak dapat menebak apa yang sedang dipikirkannya.
Sedangkan Nyonya Gu hanya merasa patah hati. Pria seperti Perdana Menteri memang dapat memanjakan seseorang, tapi dia juga bisa langsung menginjak-injak orang tersebut hanya demi kepentingan sendiri.
"Selir Liu telah menggunakan mahar istri sah tanpa izin. Dalam lima hari ini, Nyonya Gu bisa hitung mahar yang ada. Setiap ada yang kurang, Selir Liu harus menebusnya!" Usai berkata, Perdana Menteri melempar kayu hukuman dan melangkah keluar.
__ADS_1
Setelah hukuman berakhir, orang-orang pun mulai bubar.
Alhasil tersisa Selir Liu dan Su Xin yang menangis bersama. Tangan mereka yang semula halus dan indah telah dipukuli hingga merah dan bengkak.