
Malam ini ditakdirkan untuk menjadi malam yang panjang, sebab kedua belah pihak telah merencanakan aksi masing-masing.
Setelah menemukan bunga kecubung, Su Yue mulai mengumpulkan rumput kipas. Tumbuhan ini tumbuh di tempat yang sangat terpencil dan curam, sehingga Su Yue hanya memetik belasan tangkai dan langsung menyerah.
Kemudian dia membawa ibunya ke rumah Tabib Wang. Hari ini adalah pertama kalinya Tabib Wang bertemu Nyonya Gu. Biasanya Ibu Pelayan Yun tidak pernah membiarkan Nyonya Gu muncul ketika dia datang ke rumah. Sedangkan Su Yue agak nakal, makanya Tabib Wang kenal dengannya.
"Tabib Wang, ini ibu saya," ujar Su Yue, lalu Nyonya Gu segera memberi hormat.
Saat melihat wanita cantik di depan dan Su Yue si gadis nakal, Tabib Wang menghela napas sembari mengagumi betapa cantiknya pasangan ibu dan anak ini.
Kali ini total bunga kipas yang dipetik dijual seharga 15 sen. Su Yue kembali mengingatkan Tabib Wang untuk mengaku bahwa penjualan hari ini hanya senilai 8 sen. Tabib Wang amat mengagumi cara Su Yue menyimpan uang untuk dirinya sendiri.
Melihat pasangan ibu dan anak itu menjauh, Tabib Wang membelai janggutnya, 'Gerak-gerik ibu dari gadis kecil ini terlihat seperti orang bangsawan. Entah apa yang membuatnya merosot hingga harus hidup seperti ini.'
"Lupakan, ini bukan urusanku. Aku hanyalah seorang tabib." Tabib Wang berhenti merenung.
"Bu, ini masih pagi. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Aku mau membeli sesuatu. Semalam aku melihat tatapan Zhang Dong padamu sangat tidak normal, sementara barang itu akan memakan sedikit waktu sebelum benar-benar berefek. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi." Ekspresi Su Yue terlihat sangat serius. Nada suaranya pun penuh dengan rasa iba terhadap ibunya.
"Baiklah, ibu akan menemanimu pergi." Sebelumnya Nyonya Gu adalah nona bangsawan yang tidak pernah keluar dari rumah. Bahkan setelah tinggal di desa ini pun dia jarang keluar. Bukannya dia tidak mau keluar, tapi Ibu Pelayan Yun tidak mengizinkannya keluar. Setiap kali dia pulang dari luar, Ibu Pelayan Yun selalu memarahinya dengan sangat kasar.
Lima belas sen dikurang delapan sen untuk Tabib Wang. Masih ada tujuh sen yang tersisa.
Setelah kembali dari kehidupan sebelumnya, Su Yue menjadi sangat akrab dengan titik-titik akupunktur di tubuh manusia. Awalnya dia ingin membeli jarum perak untuk melindungi diri, tapi jarum perak terlalu mahal dan terlalu mencolok jika dia yang seorang gadis kecil membeli jarum perak.
Jadi, dia memilih cara paling aman. Dia menghabiskan dua sen untuk membeli jarum jahit tertipis di jalanan. Namun, jarum ini mas" jauh lebih tebal daripada jarum perak.
Nyonya Gu tidak mengerti untul apa putrinya membeli jarum, te♫ dia tidak banyak bertanya. Dia hanya berjalan dengan diam di belakang putrinya. Kemudian S Yue membawanya makan dua mangkuk mie Yangchun dan menghabiskan lima sen.
Sekarang Su Yue belum berencana untuk menabung. Wanita tua itu terlalu teliti. Kalau dia menyimpan uang, cepat atau lambat wanita tua itu bakal tahu. Jadi, cara paling aman adalah menghabiskan uang-uang yang ada untuk membeli makanan.
__ADS_1
Setelah keduanya cukup makan dan minum, mereka perlahan kembali ke rumah. Anehnya, Ibu Pelayan Yun tidak memarahi mereka sama sekali, melainkan hanya mendesak mereka untuk segera memasak.
Cui Cui yang sudah memasak dua kali mulai berteriak kelelahan. Begitu dia tahu mereka akan kembali di malam hari, dia pun hanya berbaring di tempat tidur. Bahkan jika dipukul dan dimarahi sekalipun dia enggan bangun untuk memasak.
Su Yue mencuci beras dan memasak nasi. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, tadinya mereka sengaja memetik beberapa sayuran. Sekarang Su Yue tidak dengan sengaja menyembunyikan gerak-geriknya, melainkan langsung memotong bunga kecubung dan dicampur dengan sayuran, lalu mengaduknya dengan tepung dan memanggang tiga-empat roti sayur.
Dia tahu selera Zhang Dong, jadi dia sengaja tidak memanggang terlalu banyak agar mereka tidak diminta menghabiskan sisa makanan.
Biasanya mereka hanya akan memanggang roti kosong, tapi kali ini Su Yue menambahkan sayuran sehingga ketiga orang itu memakannya dengan nikmat. Seperti biasa, Su Yue sengaja memperhatikan mereka bertiga makan. Ia bahkan sengaja meneteskan air liur agar terlihat lebih nyata.
"Awas kamu, dasar ******. Tidak ada roti untuk kalian. Tapi karena kalian sudah menghasilkan uang, kalian boleh makan bubur kosong." Sehabis memakan sepotong roti, Zhang Dong buru-buru mengambil satu lagi dan langsung menggigitnya. Cui Cui yang belum makan kenyang pun mengiler.
"Kalian berdua sengaja membuat hanya beberapa potong biar aku mati kelaparan, 'kan?" bentak Cui Cui sambil mengetuk mangkuk dengan marah.
Su Yue buru-buru pergi ke dapur dan menyajikan semangkuk bubur untuk Cui Cui, "Ini salahku dan ibu saya. Ini buburku, jangan marah lagi."
"Hmph, kamu pintar juga." Usai berkata, dia langsung mengangkat mangkuk dan menghabiskan bubur itu. Dia sama sekali tidak peduli apakah Su Yue makan malam atau tidak.
Begitu Nyonya Gu muncul, tatapan mesum Zhang Dong terus menjeratinya seperti ular berbisa.
Tatapannya yang berapi-api tampak seolah dia tidak sabar untuk melampiaskan nafsunya sekarang juga.
Tentu saja Nyonya Gu menyadari tatapan menjijikkan itu, tapi dia memilih untuk bersabar.
Su Yue memberitahunya bahwa racun dalam bunga kecubung akan mulai bekerja dalam waktu satu jam. Jadi, dia harus mengulur waktu selama mungkin.
Melihat Nyonya Gu berjalan keluar, Zhang Dong buru-buru memasukkan gigitan terakhir roti ke dalam mulutnya dan segera menyusuli Nyonya Gu.
"Hei ****** kecil, kayu bakar tersisa sedikit. Pergi potong beberapa ikat." Melihat putranya keluar, Ibu Pelayan Yun langsung ingin menyingkirkan Su Yue. Dia berekspresi seolah-olah kalau Su Yue tidak mau memotong kayu bakar, maka dia bakal memotong dirinya.
__ADS_1
Su Yue berjalan keluar dengan kepala tertunduk. Sudut bibirnya tampak menyeringai seram. Untungnya siang tadi dia dan ibunya sudah mendiskusikan rencana untuk mengulur waktu. Asalkan ibunya tidak panik, maka dia pun boleh meninggalkan ibunya sendirian untuk pergi memotong kayu bakar.
Nyonya Gu tahu Zhang Dong ada di belakangnya. Dia berusaha menahan kepanikan di hati sembari mengingat kembali tindakan pencegahan yang diajarkan putrinya siang tadi.
"Aduh, cantik, aku nyaris mati merindukanmu." Sebelum Zhang Dong memasuki pintu, dia langsung terburu-buru ingin menerkam Nyonya Gu. Untungnya, Nyonya Gu selalu memperhatikan gerakannya dan langsung menghindar ke samping sehingga Zhang Dong tidak berhasil menangkapnya.
"Apakah kamu harus begitu terburu-buru?" Zhang Dong ingin maju lagi, tapi dia melihat Nyonya Gu tidak berteriak, sebaliknya malah berkata dengan lemah lembut. Hatinya pun menjadi semakin gatal.
"Iya, aku tidak tahan lagi." Zhang Dong bergegas maju lagi dan berhasil menyentuh lengan baju Nyonya Gu. Kemudian dia mencium aroma di tangan yang tersentuh lengan baju itu dengan mesum.
Melihatnya seperti ini, Nyonya Gu menahan rasa jijik di dalam hati dan berkata, "Bolehkah kita tidak melakukannya di sini? Kamu juga tahu kalau aku berasal dari Kediaman Perdana Menteri. Aku tidak tahan dengan dapur kotor ini. Bagaimana kalau kita tunggu sampai semuanya tertidur dulu supaya kita bisa melakukannya di kamar sebelah."
Inilah yang diajarkan putrinya. Putrinya berkali-kali mengingatkannya untuk berkata seperti ini. Namun, Nyonya Gu adalah wanita baik. Selesai berkata, wajahnya langsung merah total.
Ketika Zhang Dong melihat Nyonya Gu tidak menolaknya, dia sangat kegirangan. Saat dia melihat wajah Nyonya Gu memerah, dia hanya mengira Nyonya Gu merasa malu di depan dirinya.
"Baik. Nanti kamu harus melayaniku dengan baik, ya." dia meninggalkan dapur sambil tersenyum penuh nafsu.
Ibu Pelayan Yun sedang menunggu putranya meminta bantuan. Siapa sangka, putranya malah keluar dengan tersenyum mesum.
"Apa yang terjadi? Kenapa si ****** itu tidak berteriak minta tolong?" Ibu Pelayan Yun sangat penasaran.
"Minta tolong? Dia mengajakku bersenang-senang malam ini." Zhang Dong tidak berniat merahasiakannya.
"Apa? Apakah otaknya kemasukan air? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?" Ibu Pelayan Yun merasa Nyonya Gu tidak mungkin menyukai putranya yang tampak mesum ini.
"Ibu, apa yang kamu katakan? Bagaimanapun putramu ini begitu tampan dan gagah. Lagi pula dia sudah bertahun-tahun tidak disentuh pria. Miliknya itu pasti sudah kering kerontang, makanya dia mengajakku bersenang-senang agar bisa melembabkan tempat itu," kata Zhang Dong sambil tertawa mesum.
Ketika Ibu Pelayan Yun mendengar perkataan putranya, dia merasa cukup masuk akal. Karena dia sendiri tahu betul betapa menderitanya hidup tanpa pria. Dia sendiri bahkan sudah lama memiliki selingkuhan di luar.
__ADS_1
Mendengar percakapan Ibu Pelayan Yun dan Zhang Dong, Cui Cui menoleh ke Nyonya Gu yang sedang sibuk di dapur. Dia sangat marah dan akhirnya meludahkan seteguk dahak di luar pintu sambil mencerca, "Pelacur!"