
Beberapa hari kedepannya, Su Yue selalu beralasan hendak memotong kayu agar bisa pergi ke sungai di belakang rumah, sungai itu semakin mengecil.
Akhirnya pada hari ketiga, sungai itu benar-benar berubah menjadi anak sungai yang tenang seperti sebelumnya. Dia melepaskan sepatu lalu menggulung celananya dan menahan rasa dinginnya air yang menusuk tulang, dengan hati-hati mengangkat setiap batu di dalam air dan mencoba untuk mencari kepiting.
Sangat sulit untuk menemukan kepiting di musim dingin. Dia mencari untuk waktu yang cukup lama, kedua kakinya sudah kedinginan hingga mati rasa, pandangannya juga mengelap, tapi dia tidak mau menyerah, ini adalah satu-satunya cara untuk melumpuhkan bajingan itu.
Pada akhirnya, kegigihannya membuatnya mendapat belas kasihan dari dewa. Di bawah batu besar, dia menangkap dua ekor kepiting.
Hatinya sangat senang.
Karena takut bau amis dari kepiting akan membuat rencananya ketahuan orang lain, dia sama sekali tidak berani memasaknya di dapur, jadi dia hanya bisa menyalakan api kecil dengan kayu bakar yang dia ambil lalu melemparkan kepiting-kepiting itu ke dalam api.
Dia kedinginan sampai wajahnya memerah. Di bawah bulu matanya yang panjang, tebal dan lentik, kebencian yang sangat dalam membara di matanya.
Tak lama kemudian, tercium aroma kepiting yang matang. Namun, ini harus dibakar lagi, bagaimana pun juga bau amis dari kepiting yang matang masih cukup kuat sehingga sangat mudah ketahuan.
Sampai kepiting di depannya terbakar menjadi gosong, barulah dia mengangkat kepiting-kepiting itu dengan puas. Dia dengan hati-hati mengupas cangkang dan cakarnya lalu menciumnya. Selain aroma gosong, sama sekali tidak ada bau amis.
Dia dengan hati-hati meletakkan cangkang dan kaki kepiting di batu besar yang ada lubang kecil di bagian tengahnya, mengambil cobek batu yang telah dia giling beberapa hari lalu dan mulai menghaluskannya dengan hati-hati.
Dia menggilingnya sampai menjadi sangat halus, seolah-olah kebenciannya juga digiling.
Satu jam kemudian, dia sudah keringatan, sementara cangkang dan kaki kepiting telah berubah menjadi bubuk yang sangat halus. Dia merobek sepotong kain di pakaiannya, lalu membungkus bubuk itu dan meletakkannya di dalam pelukannya.
Malam ini, semuanya bergantung pada bubuk kepiting ini.
"Wanita ******, aku tahu kamu terus memikirkan cara untuk bermalas-malasan sepanjang hari. Kamu baru kerja beberapa hari, tapi sekarang sudah mulai malas?" Melihat Su Yue hanya membawa pulang beberapa kayu bakar, Cui Cui mulai memarahinya lagi.
Su Yue hanya bisa berpura-pura tidak mendengar, dia dengan cepat pergi ke dapur untuk membantu ibunya mencuci beras dan memasak sepanci bubur.
Ibunya dengan terampil memotong sayur asin yang dikeluarkan dari kendi, lalu memanggang beberapa potong roti pipih lagi. Makan malam untuk keluarga yang kurang mampu selalu sama.
Ketika ibunya tidak memperhatikannya, dia menuangkan bubuk kepiting ke dalam sayur asin. Bubuk kepiting itu berwarna hitam, akan terlalu mencolok jika dituangkan ke dalam bubur putih atau mie. Setelah itu, dia membuang kain yang membungkus bubuk kepiting itu ke dalam kompor untuk dibakar.
Hanya sayur asin yang berwarna kehitaman di depannya yang paling cocok, terlebih pula rasa sayur asin memang sangat asin sehingga dapat menutupi bau amis dari kepiting.
__ADS_1
Rumah ini terlalu miskin, bahkan sayur asin yang dicampur dengan nasi pun hanya dimakan oleh Zhang Dong. Su Yue sangat yakin sebagian besar sayur asin ini akan masuk ke dalam perut Zhang Dong.
Zhang Dong memiliki alergi makanan laut yang sangat parah, jadi dia sama sekali tidak boleh memakan makanan laut. Bahkan dengan hanya mencium aromanya saja, seluruh tubuhnya akan muncul bercak merah, jadi tidak pernah ada udang, kepiting atau semacamnya di meja makan mereka.
Begitu mencium aroma roti pipih, Ibu Pelayan Yun langsung duduk mengitari meja kayu. Seperti yang telah diduga, tidak ada satu roti pipih pun yang disisakan untuk mereka.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan semua orang, Su Yue berpura-pura melihat mereka yang makan dengan semangat dengan tatapan rakus.
Zhang Dong mengingat Su Yue yang menyiram air di tubuhnya. Melihat penampilannya yang rakus, Zhang Dong langsung melemparkan sepatu bot yang bau pada tubuhnya.
"Gadis tengik, apa yang kamu lihat? Cepat pergi bekerja! Malam ini, kayu bakar yang kamu potong sangat sedikit, kamu tidak boleh makan malam!" Seusai berbicara, tangan kanannya menggaruk ujung kakinya, mengambil sepotong roti pipih lagi dan dimakan dengan sayur asin.
Bajingan itu makan sambil menatap ibunya yang sibuk membuat makanan babi dengan tatapan cabul, nafsu di dalam matanya sudah tidak dapat disembunyikan.
Dia pun melihat ke tempat dimana tatapan bajingan itu tertuju, kulit ibunya seputih salju, rambutnya berwarna hitam pekat bagai tinta. Meski sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat, setiap gerakannya tetap memperlihatkan kecantikan yang bermartabat.
Bajingan itu menelan ludah lalu menatap Ibu Pelayan Yun dan Cui Cui. Mereka bertiga sudah tahu apa maksudnya.
Tampaknya mereka mau bertindak lebih awal, muncul tatapan membunuh pada matanya yang jernih, Su Yue tidak akan membiarkan ibunya tersakiti lagi.
Sekarang dia hanya bisa membersihkan panci dan mangkuk dengan cepat, mangkuk yang diisi dengan sayur asin pun dicuci berulang kali.
Selesai makan, Zhang Dong melihat Nyonya Gu membawa makanan babi dan berjalan menuju kandang babi. Mata sipit yang dipenuhi kecabulan berkedut, lalu dia diam-diam menyusul ibunya.
Bajingan ini memang binatang, dia ingin berbuat tidak senonoh pada ibunya di dalam kandang babi ....
Su Yue panik, dia memaksa dirinya untuk memikirkan solusi, lalu dia berlari menuju kandang babi.
Cui Cui yang melihat bahwa Su Yue sudah menyadari Zhang Dong pergi ke kandang babi, Cui Cui langsung memegang lengannya, tidak peduli bagaimana Su Yue berjuang, dia sama sekali tidak bisa melepaskan dirinya dari tangan Cui Cui.
Di zaman di mana suami adalah segalanya, apa pun yang ingin dilakukan oleh sang suami, sang istri diwajibkan untuk membantu, ini adalah satu-satunya hal yang dipercayai oleh Cui Cui yang tidak berilmu itu.
Tak lama kemudian, terdengar jeritan ibu dari kandang babi. Su Yue berjuang mati-matian, mulutnya digigit sampai berdarah. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam, dia ingin bergegas masuk untuk melindungi ibunya.
"Ibu, cepat bantu aku, wanita tua ini terlalu kuat." Terdengar suara Zhang Dong yang cemas dari kandang babi.
__ADS_1
Ibu Pelayan Yun pun buru-buru masuk ke kandang babi.
"Jangan, jangan, mohon kalian jangan seperti ini ...." Tangisan putus asa ibunya menusuk hati Su Yue.
Kini Su Yue mendengar jeritan ibunya, wajahnya memucat dan uratnya menonjol, bagai binatang kecil yang terperangkap, matanya memerah dan dia berjuang mati-matian, tapi perbedaan kekuatan antara dia dan Cui Cui terlalu signifikan.
Detik berikutnya, Su Yue yang matanya sudah memerah menggigit pergelangan tangan Cui Cui.
"Wanita sialan, beraninya kamu menggigitku, cepat lepaskan aku, aaahhhh...." Terdengar jeritan Cui Cui dari atas kepalanya.
Cui Cui kesakitan hingga satu tangannya lagi menjambak rambut Su Yue dan mencoba untuk memisahkannya.
Tetapi kini Su Yue bagai ular berbisa yang seolah-olah mengikis tulang, tidak peduli seberapa kuatnya Cui Cui, Su Yue sama sekali tidak bergerak dan menggigit Cui Cui dengan kuat.
Ada aroma darah yang kuat di dalam mulutnya, entah darah milik Cui Cui atau miliknya.
"Cukup, cukup...." Dia tetap tidak bisa menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, Cui Cui pun melepaskan tangannya.
Terdengar tangisan melengking ibunya dari kandang babi, Su Yue tidak peduli dengan rasa sakit pada tubuhnya, dia langsung bergegas ke kandang babi.
Tepat ketika Su Yue masuk, Zhang Dong yang menekan tubuh Nyonya Gu dan hendak melakukan hal tidak senonoh itu tiba-tiba memuntahkan busa putih dan tubuhnya kejang.
Sementara pakaian ibunya sudah berantakan, wajah penuh dengan ketakutan! Tangan ibunya masih dipegang erat oleh Ibu Pelayan Yun.
Meskipun pakaiannya sudah Berantakan, tapi ibunya sama sekali tidak dilecehkan.
Su Yue bergegas masuk ke kandang babi dengan mata memerah, dia mendorong Ibu Pelayan Yun dan memeluk ibunya yang ketakutan ke dalam pelukannya.
Bahkan jika ibunya tidak dilecehkan, tapi kejadian kali ini telah membuat ibunya ketakutan.
"Putraku! Ada apa denganmu!" Ibu Pelayan Yun berjongkok di tanah. Melihat Zhang Dong mengejang hingga berguling-guling di tanah yang dipenuhi kotoran dan air seni babi, Ibu Pelayan Yun seketika ketakutan sampai tidak tahu harus berbuat apa.
Cui Cui mendengar ada sesuatu yang aneh dan dia segera berlari menuju kandang babi. Melihat suaminya terus mengejang dan memuntahkan busa putih, Cui Cui juga ketakutan hingga menangis histeris.
Memandang tiga orang yang ketakutan itu, Su Yue tersenyum puas.
__ADS_1