
"Kamu ... apa yang kamu lakukan pada anakku?" Begitu Ibu Pelayan Yun melihat tubuh Zhang Dong melemas, tatapan Ibu Pelayan Yun langsung dipenuhi ketakutan.
"Tidak ada, aku hanya ingin membuat putramu tidak perlu bersusah payah bekerja lagi seumur hidupnya, ke depannya dia cukup berbaring di atas ranjang saja dengan santai." Su Yue mencabut jarum tipis itu. Dengan tingkat ketipisan ini, tusukan yang dihasilkan akan jauh lebih menyakitkan dibanding jarum biasa. Su Yue puas sekali.
Selain tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak, pergelangan tangan Zhang Dong juga berdenyut sakit. Ditambah lagi dengan kalimat Su Yue barusan, Zhang Dong mengalirkan air mata sebelum akhirnya kepalanya terkulai, lalu pingsan.
Begitu menghabisi Zhang Dong, Su Yue menoleh dan tersenyum pelan pada Cui Cui. Senyuman kecilnya berpadu dengan tatapannya yang sedingin es.
"Ibu Pelayan Yun, Ibu Pelayan Yun! Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa tidak keluar untuk menyambut tamu?" Sebelum Su Yue sempat melakukan sesuatu, terdengar suara seorang pria dari luar pintu.
Su Yue langsung tertegun. Siapa yang akan datang di saat-saat seperti ini? Seingat Su Yue, di kehidupan sebelumnya tidak ada yang pernah datang ke kediaman ini.
"To... tolong!" Seolah-olah menemukan secercah harapan, Ibu Pelayan Yun langsung berteriak.
Padahal Su Yue ingin membungkamnya, tapi dia terlambat selangkah.
"Siapa yang berani berbuat sembarangan di rumah tua Perdana Menteri?" Begitu pria itu mendengar suara teriakan Ibu Pelayan Yun, dia langsung menerobos ke depan pintu. Di bawah pancaran cahaya bulan yang samar, dia melihat kamar ini dipenuhi darah segar. Ibu Pelayan Yun dan dua orang lainnya yang diikat bagaikan babi mati hanya menyisakan tiga pasang mata. Mereka menatap pria itu seolah-olah melihat seorang penyelamat.
Sementara itu, sesosok anak kecil bertubuh lemah berdiri di samping mereka bertiga. Anak itu menatapinya dengan dingin. Meski pria ini sudah mempertaruhkan nyawanya selama bertahun-tahun di Kediaman Perdana Menteri, begitu melihat tatapan ini dirinya masih bisa merasakan aura dingin yang datang dari bawah kakinya.
"Pe... Pengurus Rumah Su, tolong kami. Dia... dia hendak membunuh kami!" Begitu melihat yang datang adalah Pengurus Rumah Kediaman Perdana Menteri, Ibu Pelayan Yun langsung berteriak minta tolong dengan ketakutan.
"Dia? Dia siapa?" Pengurus Rumah Su menatapi Su Yue sambil bertanya dengan nada muram.
"Maksudmu aku? Aku Su Yue." Su Yue tidak bodoh. Jika Pengurus Rumah Su datang tengah malam begitu, ini pasti demi Su Yue dan ibunya. Mengenai perihal apa yang membuatnya datang terburu-buru, biarkan si Pengurus Rumah yang menjelaskannya sendiri saja.
"Pengurus Rumah Su, ini bukan salahnya Yue'er. Ini semua ideku." Nyonya Gu yang mendengar kedatangan Pengurus Rumah Su dari kamar sebelah langsung berlari ke sampingnya karena takut Su Yue dihukum. Tapi, dirinya malah langsung berteriak ketakutan dan pingsan setelah melihat pemandangan mengerikan di dalam kamar itu.
"Nyonya, Nyonya." Pengurus Rumah Su memapah Nyonya Gu yang pingsan. Dia serba salah, tidak tahu harus meletakkannya di mana.
"Pengurus Rumah Su, kamu sudah mengejutkan ibuku. Cepat bawa Ibu untuk beristirahat di kamar sebelah." Su Yue berkata dengan tenang, nada suaranya seolah menyalahkan si Pengurus Rumah Su.
Pengurus Rumah Su mengerang dalam hati. 'Aku tidak bersalah, sebenarnya siapa yang menakuti siapa?'
__ADS_1
"Pengurus Rumah Su, cepat bantu lepaskan tali kami, wanita ****** ini ingin..." Begitu melihat ada yang datang untuk membantu mereka, Ibu Pelayan Yun jadi percaya diri lagi. Alhasil, kalimatnya tidak berhasil diucapkan sampai selesai.
Su Yue langsung memencet mulut Ibu Pelayan Yun, memaksanya menganga. Dalam sekejap, lidah Ibu Pelayan Yun langsung dipotongnya. Setelahnya, Ibu Pelayan Yun terkulai dan pingsan.
"Sekarang, kamu tidak akan bisa memarahi orang lain lagi seumur hidupmu." Sejak awal Su Yue sudah tidak tahan menghadapi makian kasar Ibu Pelayan Yun.
"Nona Kedua, sepertinya tindakan Anda ini tidak pantas?"
Sebenarnya si Pengurus Rumah Su mendapat perintah dari Perdana Menteri untuk menjemput Nyonya dan Nona Kedua kembali ke kediaman. Tidak disangka, dirinya malah melihat kejadian ini.
"Tidak pantas? Apanya yang tidak pantas? Kamu juga memanggilku sebagai Nona Kedua, ini berarti kamu mengakui identitasku sebagai majikan. Para bawahan ini membuatku marah, sehingga aku menghukum mereka. Memang apa salahku?" Benar, Su Yue adalah majikan. Ketiga orang di hadapannya ini hanyalah bawahan yang rendahan. Memangnya kenapa jika dia membunuh mereka? Ini adalah keyakinan yang selalu dipegang teguh oleh Su Yue, sehingga dirinya sama sekali tidak gugup.
"Meski begitu..." Hukuman ini terlalu kejam. Akan tetapi, si Pengurus Rumah tidak mengatakannya.
"Pengurus Rumah Su, ada apa kamu datang tengah malam begitu? Langsung katakan permasalahanmu." Su Yue tidak bertele-tele.
"Begini, Perdana Menteri menyuruh saya menjemput Nyonya dan Nona Kedua untuk pulang ke kediaman." Pengurus Rumah Su langsung mengatakan maksud kedatangannya.
Su Yue melirik sekilas ke pemandangan di belakang si Pengurus Rumah, lalu melihatnya dengan tatapan merendahkan. "Kamu datang sendirian?"
Padahal, di kehidupan sebelumnya ayahnya Su Yue yang menjemputnya sendiri.
"Ya..." Pengurus Rumah Su menjawab sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di Kediaman Perdana Menteri?"
"Pangeran Ketiga sakit keras. Sang Peramal telah meramalkan nasib Pangeran Ketiga, katanya Beliau memiliki elemen api dan membutuhkan seorang gadis bermarga Su yang memiliki elemen air agar penyakitnya bisa sembuh." Si Pengurus Rumah tidak menyembunyikan kenyataan ini, karena cepat atau lambat Su Yue juga akan mengetahuinya.
Apalagi, Nona Kedua yang sekarang sudah berbeda jauh dengan anak kecil yang dilihatnya lima tahun lalu. Karenanya, si Pengurus Rumah sama sekali tidak ingin menyembunyikan apa pun di hadapan Su Yue.
Bermarga Su dan memiliki elemen air.
Mereka tinggal langsung menyebutkan nama Su Yue. Keluarga yang bermarga Su di istana hanyalah keluarga Perdana Menteri. Selain itu, Su Xin memiliki elemen kayu. Tapi, tidak ada kejadian ini di kehidupan lalu Su Yue. Hal ini tidak normal!
__ADS_1
Satu per satu misteri sedang menunggu untuk diungkap Su Yue.
"Nona Kedua, bagaimana jika Anda ikut pulang dengan saya?"
"Tidak perlu terburu-buru, Pengurus Rumah Su. Kalau aku tidak salah tebak, kamu datang menjemputku pasti karena diperintah Ayah. Sementara itu, Ayah menyuruhmu datang pasti karena diperintah Kaisar, 'kan?"
Su Yue dan ibunya sedang 'merawat diri' di desa. Seluruh istana tahu akan hal ini. Tapi, sang Peramal malah menunjuk Su Yue, sementara itu Kaisar juga percaya sekali pada sang Peramal. Begitu mendengar kabar bahwa putra ketiga kesayangannya hanya bisa selamat jika dinikahkan dengan putri kedua Perdana Menteri yang tinggal di desa, sang Kaisar pasti menyuruh ayahnya Su Yue untuk menjemput mereka kembali.
Hati sang Pengurus Rumah Su langsung bergetar. Tidak disangka Nona Kedua cerdik sekali, dia bahkan bisa menebak hal ini.
"Kalau begitu, ini artinya Kediaman Perdana Menteri membutuhkanku?" Su Yue mengangkat bangku kayu di samping dan duduk di atasnya, lalu memasang kaki meja yang tergeletak di lantai. Dirinya tenang sekali.
Sementara itu, dua dari tiga orang di hadapannya sudah pingsan, yang tersisa hanyalah Cui Cui yang terlihat sangat ketakutan. Jari Su Yue yang mengetuk-ngetuk seolah-olah tengah mengetuk hatinya.
"Kembalilah dan beritahu Ayah, jika Beliau menginginkanku untuk pulang, maka dia harus memberi kehormatan yang pantas untukku dan Ibu. Beliau hanya mengirimkan satu orang untuk menjemputku di tengah malam. Apa-apaan ini? Aku ingin ayahku yang datang sendiri untuk menjemputku. Kalau Ayah tidak bersedia, maka aku akan langsung bunuh diri. Suruh Pangeran Ketiga cari pengantin lain saja."
Su Yue mengatakannya dengan lembut. Sebenarnya, kalau Su Yue bunuh diri, maka sesuai dengan ucanpan Peramal, Pangeran Ketiga tidak akan terselamatkan lagi.
"Cepat pergi dan sampaikan pesanku." Melihat si Pengurus Rumah Su yang tertegun lama dan seolah masih ingin mengatakan sesuatu, Su Yue langsung mengusirnya.
Begitu melihat punggung Pengurus Rumah Su yang pergi meninggalkan tempat ini, perlahan Su Yue berkata, "Pengurus Rumah Su, aku tahu keberadaan putrimu yang menghilang itu. Saat itu, aku melihatnya diculik oleh seseorang yang kukenal. Hanya saja aku lupa karena terlalu kaget. Sekarang, aku sudah ingat siapa orangnya."
Langkah Pengurus Rumah Su langsung terhenti. Dia langsung berlari ke arah Su Yue, "Nona Kedua tidak membohongi saya?"
"Aku tidak akan menipumu." Su Yue bertatapan dengan si Pengurus Rumah dengan tenang.
"Nona Kedua, Anda ingin saya melakukan apa agar Anda memberi tahu saya siapa orangnya?" Si Pengurus Rumah Su tidak bodoh. Kediaman Perdana Menteri bagaikan kandang serigala yang bisa menelan siapa saja, bahkan Pengurus Rumah juga begitu. Tentu saja dia bisa memahami maksud Nona Kedua ini.
"Lumayan. Aku suka berbicara dengan orang yang pintar. Aku ingin kamu menjadi bawahanku. Asal kamu bersedia, dalam kurun satu tahun setelah kembali ke Kediaman Perdana Menteri, aku akan membantumu menemukan putrimu. Jika aku gagal, maka aku bersumpah bahwa diriku tidak akan mati dengan tenang."
Putri si Pengurus Rumah Su sudah hilang bertahun-tahun lamanya. Bahkan istri si Pengurus Rumah saja jatuh sakit dan menjadi tidak waras karena terlalu merindukan putri mereka. Keluarganya sudah hancur.
"Baik, hamba percaya pada Nona Kedua. Nona tenang saja, hamba tidak akan mengatakan apa pun mengenai kejadian malam ini." Tentu saja Pengurus Rumah Su tahu isi hati Su Yue, dirinya berinisiatif mengatakan kalimat ini untuk menjamin.
__ADS_1
Setelah Pengurus Rumah Su pergi, Su Yue langsung berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah ke hadapan Cui Cui.
"Kamu pasti sudah menunggu lama, sekarang giliranmu sudah tiba."