
Semakin Nyonya Chen berbicara, dia semakin merasa dirinya sangat dibutuhkan di Keluarga Gu sehingga dia membusungkan dadanya dengan percaya diri, lalu menatap Gu Pingzhi dengan wajah menantang.
Gu Pingzhi tidak bisa melampiaskan kemarahannya. Meskipun perbuatan Nyonya Chen keterlaluan, perkataannya memang benar. Harus ada yang pergi mencari uang. Jika Gu Pingzhi pergi mencari uang, maka harus ada orang yang mengurus rumah ini.
Melihat raut wajah Gu Pingzhi melembut, Nyonya Chen menjadi semakin berani. Dia bahkan melirik Su akal perlahan-lahan mengalahkan beberapa alasan yang membuat Nyonya Chen tidak bisa diceraikan. Nyonya Chen yang mendengarnya diam terpaku dan tidak tahu harus bagaimana.
Sepertinya perkataan Su Yue sangat masuk akal. Sekarang Nyonya Chen sudah berusia 30 tahun lebih, jika dia sungguh diceraikan dan kembali ke rumah orang tuanya, lalu keluarganya yang mata duitan itu benar-benar menikahkannya pada orang seperti yang dikatakan Su Yue, maka lebih baik dia mati saja.
Mendengar perkataan Su Yue yang masuk akal, Gu Pingzhi yang awalnya ingin menyudahi masalah ini, sekarang sudah punya keberanian.
Benar. Dirinya hanya berusia 30 tahun seperti Bibi Pertama yang tidak punya etika tidak bercerai dan ditinggal tinggal di rumah. Bisakah hati Paman Pertama tenang setelah mengetahui kebenarannya? Sekarang Paman Pertama masih kuat dan sehat, tidak perlu takut tidak dapat istri yang baik. Sebaliknya, jika Paman menceraikan Bibi Pertama, maka dia hanya bisa kembali ke rumah orang tuanya. Tetapi bisakah orang tuanya mendukungnya seumur hidup? Pasti sudah lama sejak dia menikahkannya dengan orang lain. Sekarang Tante Pertama sudah tua dan tidak cantik lagi. Pasti tidak dapat menemukan pasangan yang baik. Mungkin pemabuk dan penjudi yang suka memukuli istri atau laki-laki cacat adalah orang-orang yang bisa menerimanya...."
Semua kata-kata masuk Su Yue, menunjukkan ekspresi yang sepertinya mengatakan bahwa 'kepala keluarga tidak berdaya bagiku, apa yang bisa kamu lakukan'.
"Paman Pertama membawa pulang salep radang dingin, bukan?" tanya Su Yue mengingat kata-kata paman pertamanya. Kemudian dia meminta salep radang dan mengoleskannya di tangan Xiao Lingdang.
Xiao Lingdang kesakitan sampai dia terus bernapas. Namun, mengetahui bahwa Kakak Sepupu melakukan ini untuk kebaikannya sendiri yang dari awal hingga akhir terus menanggung rasa sakit. Dia tidak mengeluh sama sekali. Su Yue, yang melihatnya, tidak tahan.
“Paman Pertama, kalau menikah carilah istri yang baik. Kalau perempuan lebih, dia masih kuat dan sehat. Asalkan bekerja keras mencari uang, tidak perlu takut tidak punya istri yang baik. Untuk apa mempertahankan istri yang menindas keluarga di rumah. Apakah mau membiarkannya terus menindas keluarganya?
"Perkataan Yue'er masuk akal. Aku ceraikan saja dia. Aku akan menulis surat cerai sekarang juga," kata Gu Pingzhi sambil hendak berjalan keluar.
Wajah Nyonya Chen langsung memucat. Dia langsung berlutut dan memeluk kaki Gu Pingzhi dengan erat. Tadi dia berteriak begitu lama tapi tidak mengeluarkan air mata sedikit pun. Sekarang dia benar-benar ketakutan sampai air matanya mengalir deras.
"Suamiku, suamiku. Aku bersalah. Jangan ceraikan aku, ya? Aku tidak ingin menikahi pemabuk, penjudi atau orang cacat. Aku sungguh sudah tahu salah. Kelak aku pasti akan memperlakukan Adik Ipar Ketiga dan Keponakan dengan baik. Kukeluarkan semua uang simpananku sekarang juga. Belilah suplemen. Ya, beli suplemen terbaik untuk Adik Ipar. Kumohon padamu. Jangan ceraikan aku, ya?" Tangis Nyonya Chen pecah, bahkan ingusnya juga mengalir tanpa henti.
__ADS_1
"Ini...." Kedua Kaki Gu Pingzhi dipeluk erat sampai tidak bisa bergerak sedikit pun. Dia menatap Su Yue dengan ekspresi serba salah.
"Tidak masalah, Paman Pertama. Hari ini Paman tidak bisa menulis surat cerai, maka tulis saja besok. Jika Bibi Pertama tidak berubah, maka Paman bisa menulisnya kapan pun juga. Dia tidak bisa menahan Paman seumur hidup," kata Su Yue yang sengaja memperbesar suaranya agar Nyonya Chen yang menangis bisa mendengarnya dengan jelas.
Begitu mendengar perkataan Su Yue, Nyonya Chen langsung melepaskan Gu Pingzhi dan memeluk kaki Nyonya Luo untuk memohon ampun. Namun, Xiao Lingdang menahannya dengan kuat karena khawatir Nyonya Chen melukai ibunya.
"Adik Ipar. Adik Ipar, aku bersalah. Tolong minta suamiku jangan ceraikan aku, ya? Kelak aku yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kamu hanya perlu menunggu waktu melahirkan tiba dengan tenang. Selain itu, aku pasti akan merawat Xiao Lingdang sampai dia gemuk dan sehat. Kali ini tolong maafkan aku, ya?" pinta Nyonya Chen dengan amat sangat. Nyonya Luo yang melihatnya merasa bersimpati dan mulai memohon untuknya.
"Kakak Pertama, bagaimana kalau kamu maafkan Kakak Ipar untuk kali ini? Kulihat dia sungguh sudah menyesal."
Gu Pingzhi tidak pernah melihatnya begitu lemah, biasanya dia seperti harimau betina. Melihat istrinya yang seperti sekarang ini membuat hatinya sedikit luluh.
"Kalau begitu ...."
"Tidak ada orang yang hanya menangis sebentar sudah bisa langsung mengingat kesalahannya. Jika Bibi Pertama sungguh tulus menyesali perbuatan Bibi, maka potong satu jarimu untuk menunjukkan tekadmu. Dengan begini, kali ini Paman Pertama bisa mempercayaimu dan memberimu satu kesempatan," desak Su Yue sambil menatap Gu Pingzhi dan melemparkan pisau ke hadapan Nyonya Chen.
Nyonya Chen melihat pisau itu sambil memikirkan banyak hal, kemudian mengambil pisaunya.
"Suamiku, tepati janjimu. Kupotong satu jariku sebagai penyesalanku yang tulus. Mulai hari ini, aku akan berubah!" Tatapannya terlihat yakin dan langsung ingin memotong jarinya.
Su Yue dengan cepat langsung menendang lengan Nyonya Chen. Nyonya Chen menjatuhkan pisaunya karena merasakan sakit di lengannya.
"Yue'er, kamu...." Nyonya Chen memang sudah menyesal karena diberi pelajaran oleh Su Yue. Tindakan Su Yue menendang pisau membuatnya merasa curiga.
"Baiklah, Bibi Pertama. Aku, Paman Pertama dan Bibi Ketiga sudah merasakan tekad Bibi. Kali ini Paman Pertama sudah memaafkanmu."
__ADS_1
Dia tidak bersungguh-sungguh saat meminta Nyonya Chen memotong jarinya. Itu hanya untuk memberinya peringatan.
"Baiklah, istriku. Aku tidak akan menulis surat cerai. Kamu harus benar-benar berubah, kuberi kamu satu kesempatan. Jangan potong jarimu. Jika sampai terpotong, akan sulit untuk melakukan pekerjaan rumah," ujar Gu Pingzhi sambil memapah Nyonya Chen. Kata-katanya sangat jujur.
Saat ini, Xiao Lingdang memberikan sapu tangan yang sudah dibilas dengan air hangat pada Nyonya Chen. Dia menghibur dengan suara manja, "Yang penting Bibi Pertama sudah tahu salah. Cepat lap wajahnya, wajah Bibi terlihat kotor."
Melihat perhatian Xiao Lingdang padanya, hati Nyonya Chen terasa hangat. Begitu melihat radang dingin di tangan yang Xiao Lingdang julurkan, dia menahan tangisnya lalu menampar dirinya sendiri, "Bibi Pertama bersalah, Bibi Pertama sudah gelap mata."
Lalu Su Yue mengeluarkan 200 tahil dan menyerahkannya pada Nyonya Chen.
"Bibi Pertama. Uang ini tidak banyak, tapi cukup untuk menutupi biaya hidup di desa selama beberapa waktu. Bibi Ketiga akan segera melahirkan, Bibi masih harus menjadi pembantu rumah tangga. Jangan kecewakan harapan ibuku." untuk Bibi.”
Su Yue tidak menghabiskan uang ini sejak awal karena dia takut Bibi Pertama akan mempermainkan uang. Jika dia bisa dengan tulus menyesali tindakannya setelah mengetahui bahwa Keluarga Gu tidak memiliki keuntungan untuk diambilnya, maka itu akan menjadi penyesalan yang sebenarnya.
"Yue'er, kali ini Bibi Pertama benar-benar tahu itu salah. Kamu benar, aku yang kurang ajar. Beberapa tahun tinggal di desa, aku menyisihkan ajaran moral dari Ayah Mertua. Aku malah mengikuti perilaku wanita desa yang berkata-kata jahat dan melakukan segalanya demi keuntungan."
Lalu, Nyonya Chen tersenyum malu pada Gu Pingzhi. Gu Pingzhi juga membalasnya dengan senyuman lugu.
Setelah menyerahkan uang pada Nyonya Chen, Su Yue berpesan banyak hal, setelah itu barulah dia pergi dengan perasaan tidak rela.
Awalnya dia masih ingin melihat Kakek dan Nenek, tapi dua orang tua itu sudah tidur lelap. Jika dibangunkan, maka akan sulit untuk tidur lagi. Jadi dia memutuskan untuk datang mengunjungi mereka beberapa hari lagi.
Saat akan pergi, Su Yue menarik Xiao Lingdang menggodanya, "Jika Bibi Pertama menindasmu, segera beri tahu Paman. Jangan menahan diri."
Nyonya Chen tidak keberatan mendengarnya. Namun, dialah yang salah, wajar jika anak-anak merasa waspada.
__ADS_1
Su Yue bisa naik kereta kuda dengan tenang dan menuju ke Kediaman Perdana Menteri.