
Berita tentang Pangeran Ketiga yang muntah darah dan pingsan di istana segera menyebar ke seluruh ibu kota kerajaan.
"Ah, apa yang kamu tahu? Putri sah Perdana Menteri bertaruh dengan Kaisar di Paviliun Jinluan." Orang-orang berkumpul di kedai teh di jalan utama, mereka mengobrol dengan keras.
"Sungguh? Gila, dia sangat berani. Apa yang dia pertaruhkan?" Salah satu orang di antaranya masih belum mengetahui berita itu dengan jelas.
"Dia bertaruh bahwa hujan ini akan turun selama tiga bulan penuh. Kalau dia menang, dia ingin Kaisar memberinya kebebasan untuk memilih pasangan yang akan dia nikahi!"
"Hah? Diberi kebebasan untuk memilih pasangan? Sejak dulu, jodoh seorang gadis ditentukan oleh orang tua. Mana ada yang memilih pasangannya sendiri? Apakah putri sah keluarga Perdana Menteri itu dirasuki setan?"
"Justru itu. Kamu tahu tidak? Dia juga bilang bahwa tiga bulan kemudian Sungai Wei akan amblas dan akan terjadi banjir. Dia memberi tahu Kaisar untuk memberi perintah agar tanggul Sungai Wei diperkokoh."
"Ada benarnya juga. Kalau hujan benar-benar turun selama tiga bulan, maka tanggulnya memang harus diperkokoh!" Salah satu lansia yang ada di kerumunan itu mengangguk-angguk setuju.
"Kaisar kita adalah orang yang cerdas. Tidak peduli hujan ini akan turun selama tiga bulan atau tidak, Beliau sudah mengutus orang untuk pergi memperkokoh tanggul itu. Karena bagaimana pun juga, si putri sah Perdana Menteri mengatakannya dengan sangat percaya diri. Jadi, Beliau juga ingin hati-hati!"
"Benar. Tidak masalah hujan selama tiga bulan atau tidak, masyarakat akan lebih tenang. Putri sah Perdana Menteri sangat baik!"
"BENAR!"
Semua gadis yang sudah menikah mengatakan bahwa putri sah Perdana Menteri itu pemberani. Diam-diam, mereka memberi hormat pada Su Yue.
Karena bagaimanapun juga, jika mereka bisa menikah dengan pria yang mereka suka, itu akan jauh lebih baik daripada dijodohkan oleh orang tuanya.
Dalam sekejap, perdebatan terjadi di seluruh penjuru ibukota kerajaan. Semua orang menonton apakah hujan ini akan turun selama tiga bulan atau tidak. Bahkan ada yang mulai menghitung jumlah hari yang tersisa hingga masa tiga bulan itu tiba dengan menuliskannya di atas kertas.
Ada orang pintar yang mulai bertaruh apakah akan turun hujan selama tiga bulan atau tidak. Tapi, sebagian besar masih bertaruh hujan ini tidak akan turun selama tiga bulan penuh.
Sejumlah pria yang baru pulang setelah berjudi, langsung dimarahi istrinya, mereka harus mengubah pilihannya untuk mendukung taruhan Su Yue.
Karena bagaimanapun, sebagai wanita, setiap orang ingin memiliki kebebasan untuk memilih pasangan hidup. Meski wanita yang sudah menikah tidak menyangka mendapat kesempatan seperti itu, mereka sangat bersyukur melihat wanita seperti Su Yue muncul.
Dalam sekejap, ibu kota kerajaan menjadi sangat ramai karena taruhan Su Yue.
...
__ADS_1
Di Kediaman Pangeran Ketiga.
Su Yue yang sudah sibuk selama beberapa saat akhirnya berhasil meredakan penyakit Pangeran Ketiga yang kambuh. Kaisar mengawasi sendiri bagaimana Su Yue menusukkan jarum ke tubuh Pangeran dan melihat perubahan raut wajah putranya yang semakin membaik. Setelahnya, barulah sang Kaisar mendengus dan kembali ke istana dengan hati yang tenang.
Kini raut wajah Pangeran Ketiga yang terbaring di ranjang perlahan merona dan kembali normal.
"Kalian semua keluarlah." Su Yue menyuruh semua pelayan keluar. Dirinya hanya menatapi sang Pangeran tanpa berbicara.
Bagaimana pun juga, harus diakui bahwa sang Pangeran memang tampan.
Meski Pangeran samar-samar mengernyit dan ekspresinya terlihat menderita, wajahnya tetap saja tampan. Bibirnya yang putih pucat mengatup erat-erat, seolah dirinya tengah bermimpi buruk.
Sejak kecil tubuh Pangeran Ketiga memang lemah dan sering sakit-sakitan. Ditambah dengan Kaisar yang pilih kasih padanya, membuatnya dijauhi saudara-saudarinya yang lain. Bahkan, mereka malah menindasnya diam-diam.
Su Yue masih ingat dengan pertemuan pertama mereka saat masih kecil. Saat itu, para Pangeran dan Putri yang lain sedang memainkan burung kesayangan Pangeran Ketiga di hadapannya sampai tewas.
Saat itu, kedua tangan Pangeran Ketiga mengepal lemah di samping kedua kakinya sambil menangis tidak berdaya.
"Dasar cengeng. Kalau berani, beri tahu Ayah sana. Kalau kamu melapor, kami akan merebut benda kesayanganmu yang lain lagi."
"Jangan ganggu dia!" Su Yue yang masih kecil mendorong para Pangeran satu per satu, lalu melebarkan kedua tangannya yang kecil nan gemuk di depan Nanxing sambil memperlihatkan ekspresi yang garang.
Teringat akan hal ini, Su Yue jadi tersenyum tipis. Kebetulan sekali, mata Pangeran yang indah terbuka.
Su Yue belum sempat menyembunyikan senyumannya.
"Kak... Kak Nanxing sudah sadar?" Su Yue langsung tenang. Untunglah, di kehidupan sebelumnya Su Yue pernah meneliti penyakit Nanxing.
"Nona Su, hubungan kita sama sekali tidak dekat. Tolong panggil aku dengan Pangeran Ketiga." Nada suara Pangeran Ketiga yang sedingin es membuat hati Su Yue terasa sakit.
Di kehidupan sebelumnya, pertama kali mereka bertemu adalah saat Su Yue merasa rendah diri dan jadi penakut karena dirinya bertubuh gemuk. Begitu melihat Nanxing, dia langsung memanggilnya, "Pangeran Ketiga."
Su Yue masih ingat, saat itu Pangeran Ketiga tersenyum sipit sambil berkata lembut, "Yue'er, kenapa kamu segan seperti itu? Cukup panggil aku Kak Nanxing."
"Cukup panggil aku Kak Nanxing." Lalu, dia tersenyum hangat.
__ADS_1
"Hubungan kita sama sekali tidak dekat. Panggil aku Pangeran Ketiga." Shangguan Nanxing berkata dengan dingin dan terkesan asing.
"Baik, Pangeran Ketiga." Su Yue langsung menunduk, suaranya kecil sekali.
"Nona Su, sekarang sudah tidak ada yang perlu kamu lakukan lagi. Hari juga sudah gelap. Sebaiknya kamu cepat pergi. Tidak baik jika gadis yang belum menikah sepertimu menginap di tempatku."
Shangguan Nanxing menahan perasaannya dan mengatakan kalimat ini dengan datar.
"Hmm." Su Yue terus menunduk. Pikirannya sedang kacau balau, jadi memang lebih baik dia menunduk untuk menyembunyikan tatapannya.
Shangguan Nanxing melihat punggung kurus Su Yue yang tengah berjalan di tengah hujan. Semangat dalam tatapannya meredup, matanya agak memerah. Pada akhirnya, dia menghela napas, "Pengurus Rumah Zhang, siapkan kereta kuda. Antar Nona Su kembali ke Kediaman Perdana Menteri."
Selesai memberi perintah, Nanxing tidak mengatakan apa pun lagi. Dia memejamkan sepasang matanya, seolah-olah dirinya tertidur lagi.
Hanya saja, kedua tangannya yang mengepal erat-erat di balik selimut menunjukkan emosi dan kesedihan yang bergejolak di dalam hatinya. Su Yue sudah membuangnya. Tapi kenapa dirinya masih bersikap seperti manusia rendahan? Saat melihat Su Yue yang kehujanan, kenapa dia masih merasa sedih?
Terdapat aroma Shangguan Nanxing yang tertinggal di dalam kereta kuda ini, membuat air mata Su Yue terus berjatuhan. Dia tidak tahu apa yang ditangisinya.
Padahal semua ini adalah rencananya sendiri. Tapi, dirinya tetap saja sedih, seolah baru saja kehilangan harta berharga di dunia ini.
"Nona Su, kita sudah sampai di Kediaman Perdana Menteri." Terdengar suara Pengurus Rumah Zhang dari luar kereta. Setelah Su Yue menahan emosinya, barulah dia mengibaskan tirai kereta dan keluar.
"Terima kasih." Dia memberi hormat pada Pengurus Rumah Zhang. Sang Pengurus Rumah agak kaget, karena Su Yue adalah putri sah Perdana Menteri, sementara dirinya hanyalah seorang bawahan. Dirinya mana layak dihormati?
"Pengurus Zhang, ini adalah resep untuk memperkuat tubuh Pangeran. Rebus dengan tiga mangkuk air sampai menghasilkan semangkuk obat setiap hari. Pangeran Ketiga harus meminumnya."
Sebelumnya, Manajer Rumah Zhang telah mendengar tentang kehebatan pengetahuan medis Su Yue. Oleh karena itu, ia langsung menerima resep tersebut sambil mengucapkan terima kasih, lalu memacu kudanya untuk pergi.
Su Yue berdiri diam di depan pintu Kediaman Perdana Menteri memegang payung. Di tengah-tengah hujan, Kediaman Perdana Menteri tampak sangat sepi. Sementara itu, pintu besar berwarna merah terang itu seperti iblis dengan mulut penuh darah, menunggu Su Yue menyerah.
Su Yue tahu bahwa begitu dia masuk, kondisi di dalam akan menjadi tragis dan berdarah lagi. Semua ini karena hari ini Su Yue tidak hanya mempertaruhkan nyawanya sendiri, tetapi dia juga membuat marah Kaisar dan menjatuhkan seluruh keluarga Su.
Meskipun Su Yue mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi pembayarannya jauh lebih mahal daripada yang dia kira. Awalnya, dirinya tidak pernah terpikirkan bahwa ini akan menjerumuskan Keluarga Su.
Sikap ayahnya yang hanya memikirkan keuntungan pribadinya itu...
__ADS_1
Su Yue menghela napas panjang, lalu berjalan ke depan pintu dan mengetuknya.