Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi

Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi
Bab 27 Perdana Menteri Yang Murka


__ADS_3

Hujan di luar menjadi lebih deras. Ditambah lagi karena sekarang sedang musim dingin, dinginnya sampai menusuk ke tulang.


"Tuan, Nona Kedua sudah pulang." Seorang pelayan datang melapor dengan tergesa-gesa.


"Suruh dia pergi ke aula leluhur!" Perdana Menteri menahan amarah, seolah dirinya sudah nyaris meledak.


Pelayan itu menurutinya. Kemudian, dirinya teringat akan sesuatu, sehingga dia menambahkan sepotong kalimat, "Nona diantar pulang dengan kereta kuda Pangeran Ketiga."


Saat Su Yue mencapai aula leluhur, dia melihat pintunya setengah terbuka. Setelah menyapa ayahnya, dia langsung mendorong pintu itu dan masuk.


Saat ini, angin dingin bertiup dari belakang punggung Su Yue. Beberapa api lilin di aula leluhur bergoyang tertiup angin. Suasana ruangan aula leluhur ini membuat bulu kuduk semua orang yang melihatnya naik.


Di kehidupan sebelumnya Su Yue penyendiri dan bersikap semena-mena, sehingga dia sering dihukum berlutut di aula leluhur. Sekarang pun, dia masih merasa aula ini familier sekali.


"Plak!" Pipi Su Yue pedih sekali. Su Yan menampar Su Yue dengan kuat.


"Anak durhaka, apa yang kamu perbuat hari ini?!" Su Yan mengepalkan tinjunya. Wajahnya memerah, bibirnya terkatup rapat-rapat. Terdapat saraf kemerahan di dalam matanya yang tengah melototi Su Yue.


"Berlututlah di hadapan para leluhur!" Melihat Su Yue yang tidak berbicara, Su Yan langsung menunjuk nisan para leluhur di belakangnya, lalu berteriak memarahi Su Yue.


"Bruk." Su Yue langsung berlutut. Dia berlutut dengan sangat alami, seolah dirinya familier sekali dengan tempat ini.


Perdana Menteri Su terkejut sesaat melihat gerakan Su Yue yang begitu alami. Tapi, kemudian emosinya naik lagi. Rasanya, dia ingin sekali memukul anak durhaka ini habis-habisan.


Padahal dirinya sudah membuat rencana. Begitu anaknya ini dijemput ke ibu kota dan dinikahkan dengan Pangeran Ketiga, maka Kediaman Perdana Menteri akan jadi sangat bergengsi setelah anaknya ini berstatus sebagai Selir Pangeran. Tapi, hari ini dirinya malah dikejutkan setengah mati oleh Su Yue di Paviliun Jinluan!


"Kamu bisu, ya? Bukankah tadi kamu pandai sekali berbicara saat berada di Paviliun Jinluan? Kenapa sekarang malah sama sekali tidak berbicara? Kalau bukan Pangeran Ketiga yang memohon pada Kaisar untukmu, dirimu pasti sudah dipukul habis-habisan atas perintah Kaisar!" Melihat putrinya yang tidak berbicara, Su Yan merasa seolah-olah dirinya sedang memukul kapas dengan kepalan tangan.


"Ayah, memang benar, tindakanku hari ini benar-benar ceroboh." Pipi kanan Su Yue masih sakit. Tapi, Su Yue mengaku tindakannya terlalu ceroboh.

__ADS_1


Dia ingin membalas dendam, tetapi dia juga tidak ingin menyeret Pangeran Ketiga ke dalam masalah. Oleh karena itu, dia hanya bertindak seperti ini tanpa mempedulikan apapun. Tindakannya terlalu ceroboh. Jika dia memikirkannya dengan tenang, apakah dia bisa membalas dendam dengan pikirannya seperti itu?


"Kamu ... benar-benar membuatku kesal. Pikirkan baik-baik sambil berlutut di depan leluhur! Minta leluhur untuk memberikan keselamatan kepada Pangeran Ketiga." Jadi pikir Su Yan bahwa Su Yue diantar pulang dengan kereta kuda Pangeran Ketiga, dia langsung menggertakkan gigi sambil mengibaskan lengan pakaiannya. Kemudian, dia membanting pintunya keras-keras.


Asalkan Pangeran Ketiga baik-baik saja, maka Keluarga Su juga akan selamat.


"Sebarkan perintahku. Karena Nona Kedua bertindak tidak sopan pada senior, maka dia dihukum berlutut selama tiga hari untuk intropeksi diri di aula leuhur. Cukup antarkan makanan sekali saja setiap harinya agar dia tidak mati kelaparan di dalam."


"Baik, Tuan." Para pelayan jarang melihat Perdana Menteri semarah ini. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam, takut salah berbuat sesuatu dan Perdana Menteri marah lagi.


Su Yue berlutut di atas alas duduk. Begitu teringat akan ekspresi Pangeran Ketiga tadi, hatinya langsung kacau.


Di Paviliun Yanliu.


"Ibu Pelayan Zhang, kamu tidak bohong? Bocah itu dihukum berlutut selama tiga hari di aula leluhur? Yang penting dirinya tidak mati kelaparan katanya?" Suara jeritan melengking Selir Liu terdengar dari dalam ruangan. Meski dirinya berusaha keras untuk menutupi suasana hatinya, kegembiraan dalam hatinya tetap terlihat jelas.


"Apa alasannya?" Malam ini Su Xin juga ada di paviliun ibunya. Awalnya dia ingin membicarakan isi hatinya pada ibunya. Tanpa diduga, dia bahkan mendengar kabar yang begitu memuaskan dari Ibu Pelayan Zhang.


"Untuk alasan detailnya, saya tidak tahu. Tapi, dari berita yang beredar di sekitar ibu kota, hari ini Nyonya Kedua bertaruh melawan Kaisar di Paviliun Jinluan, Nyonya Kedua ingin diberi kebebasan untuk memilih pasangan. Lalu, Pangeran Ketiga langsung muntah darah karena emosi, lalu pingsan..." Ibu Pelayan Zhang secara singkat menjelaskan rumor yang dia dengar.


Mulut selir Liu langsung terbuka lebar. "Bocah sialan itu sangat pemberani! Dia bahkan tidak mau menikah dengan Pangeran Ketiga? Jika demikian, dia..."


"Pangeran Ketiga sakit parah, dia hanyalah manusia sampah. Jika dia menikahinya, mereka setidaknya akan menjadi pasangan di atas kertas, tetapi kenyataannya mereka tidak memiliki kehidupan pernikahan. Bahkan, mungkin dia tidak akan mendapatkan status istri pangeran sama sekali. Jika itu aku, aku juga tidak mau." Su Xin memotong kata-kata ibunya, tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


"Bocah itu bodoh sekali. Bisa-bisanya dia sembarangan bertaruh. Sebelumnya saat baru datang ke kediaman ini, dia pandai sekali berbicara. Kukira sifatnya sudah berubah. Tapi ternyata aku yang berpikiran terlalu jauh."


Begitu Selir Liu mendengar kalimat ini, dia mengangguk-angguk menyetujuinya, "Kelihatannya dia sudah tinggal terlalu lama di desa, baru membenci dan bersikap buruk pada kita. Kita terus baik kepadanya, kita lempar beberapa tulang ke arahnya lagi untuk memacingnya...."


Begitu mendengar ibunya mengatai Su Yue itu seekor anjing, Su Xin terkekeh, "Ibu benar. Kita benahi suasana hati kita, beri dia makan beberapa tulang. Aku percaya Su Yue pasti akan segera melupakan penderitaannya selama tinggal di desa, lalu kembali menjadi senjata Ibu untuk melawan Nyonya Gu."

__ADS_1


Dia ingat bahwa lima tahun lalu, Nyonya Gu sering mendapat masalah karena sikap Su Yue yang semena-mena.


"Oh ya Bu, tiga hari lagi akan ada acara perkumpulan puisi di istana. Nantinya akan ada banyak pria dan wanita bangsawan yang pergi ke sana, Su Yue ..." Su Xin tidak menyelesaikan kalimatnya, lalu menampilkan tatapan jahat.


"Xin'er, Ibu paham maksudmu. Ibu akan segera mencari Perdana Menteri dan mengerahkan semua kemampuan Ibu untuk membuat bocah itu dibebaskan lebih cepat. Ini adalah kasihku padanya!"


Sepasang ibu dan anak itu saling bertatapan, memahami rencana yang tersembunyi di balik tatapan satu sama lain.


Bagaimana mungkin mereka melewatkan kesempatan untuk mempermalukan Su Yue di sebuah acara besar yang dihadiri para bangsawan? Karena bagaimanapun juga, selain Su Yue tidak suka belajar sejak kecil, Selir Liu juga sengaja selalu memanjakannya. Ditambah lagi setelah tinggal selama lima tahun di desa, dapat dikatakan bahwa otak Su Yue itu sama sekali tidak berisi.


Jika dibandingkan dengan adik perempuannya yang "tidak berotak", barulah Su Xin akan terlihat pintar dan berbakat. Nantinya jika ada pangeran yang tertarik padanya dan ingin menjadikannya sebagai selir pangeran, bukankah nasib Su Xin akan segera berubah?


Sementara itu, Ny. Gu....


Setelah mendengar kabar bahwa Su Yue dijatuhi hukuman berlutut di aula leluhur, Nyonya Gu segera berlutut dan mandi hujan di depan ruang baca agar Perdana Menteri dapat meringankan hukuman Su Yue. Setidaknya, biarkan Su Yue makan sampai kenyang! Suhu akhir-akhir ini sangat dingin, sedangkan tubuh Yue'er sangat kurus, bagaimana dia bisa tahan? Tapi tidak peduli seberapa keras Ny. Gu menangis, sama sekali tidak ada jawaban dari ruang baca Perdana Menteri.


Saat Selir Liu datang untuk mencari Perdana Menteri dan berjalan melewati Nyonya Gu, dia sendirian meliriknya sekilas. Setelah itu, dia masuk ke ruang membaca tanpa menoleh.


Hari sudah larut saat Selir Liu keluar dari dalam. Dia berjalan mendekati Nyonya Gu dengan raut wajah girang, lalu berlutut dan bertatapan dengan Nyonya Gu.


"Kakak juga sedang memohon pengampunan untuk Nona Kedua? Kata pelayan, Kakak sudah berlutut lama. Kenapa? Apakah Tuan tidak bersedia bertemu dengan Kakak? Tapi tadi Tuan Perdana Menteri sudah menyetujuiku agar Nona Kedua cukup dihukum berlutut sehari saja di aula leluhur. Ah, demi Nona Kedua, aku berkorban banyak, Kak."


Selesai mengatakannya, Selir Liu sengaja merapikan kerah pakaiannya untuk menunjukkan tanda merah di tubuhnya kepada Ny. Gu.


Begitu Nyonya Gu tidak berbicara, Selir Liu juga menjadi tidak tertarik. Dia telah banyak berkorban sehingga bocah itu akan dihukum cukup berlutut selama sehari di aula leluhur. Dia harus memastikan Su Yue mengetahui pengorbanannya, sehingga Su Yue tahu bahwa dia "mencintainya" selama ini.


Memikirkan hal ini, Selir Liu tidak mengatakan apa-apa lagi. Kemudian, dia pergi dengan angkuh, seolah-olah dia baru saja memenangkan sebuah kompetisi.


Nyonya Gu bangun tanpa berkata apa-apa, membiarkan air hujan yang dingin membasahi tubuhnya. Beberapa hari setelah kembali ke kediaman ini, Perdana Menteri bersikap lembut padanya, sebenarnya dia mengharapkan sesuatu yang seharusnya tidak dia miliki.

__ADS_1


'Gu Qin'er, kamu terlalu memikirkan posisimu di hati suamimu. Nyatanya, pria itu hanya mencintai dirinya sendiri!'


__ADS_2